Gemerlap bintang terlihat indah bergantungan menghiasi langit yang kini gelap. Di tengah lorong yang sunyi, seorang gadis berlari dengan tergesa gesa. Ia berlari bermodalkan cahaya temaram dari obor yang bergantungan di dinding.
gaun tipis berterbangan tertiup angin dari balik jendela jendela lorong, yang memantulkan keindahan bulan dan bintang. namun suasana berbeda terjadi di lorong, begitu mendebarkan tak kala gadis itu kian mempercepat langkahnya sambil melirik lirik halus ke belakang.
"aku harus cepat, sebelum ad-" lirihnya senada dengan hembusan angin, belum sempat selesai kalimat itu terucap. kendati demikian, dari arah sebrang terdengar gema langkah yang berbeda, terdengar seirama bukan hanya dari satu orang namun terasa lebih.
kakinya berhenti melangkah, keringat dingin menetes tadi pelipisnya, kedua tangannya bergetar meremas helaian kain tipis yang ia pakai. matanya terlihat bergetar, menatap ke kanan ke kiri terlalu cepat, tidak tenang. Di ujung sana, sebelah kiri diperkirakan sepuluh langkah dari tempatnya berdiri terdapat pintu kayu, terlihat cukup tua.
tanpa membuang waktu, gadis itu bergegas, melangkah cukup cepat menggapai pintu tua itu.
kriet
suara pintu terbuka perlahan, ia masuk dengan cepat dan menutup kembali, tanpa menimbulkan suara mencurigakan. memandangi sekitar, ternyata dibalik pintu itu adalah sebuah gudang, tempat disimpannya bahan pangan.
berjalan menuju arah tumpukan karung ubi, mengambil salah satu karung yang terlihat tak terpakai, ia berjongkok diantara karungan ubi yang menyembunyikan badannya. kemudian karung ubi kosong ia pakai untuk menutupi kepalanya.
tap
tap
tap
Suara langkah itu kian mendekat, semakin bergema dalam lorong yang kosong dan sunyi terdengar dalam keheningan, kemudian berhenti di depan pintu gudang, tempat gadis kecil tadi bersembunyi.
"Apakah hanya perasaanku saja, atau memang terdengar ada suara?" Tanya seseorang, dari suaranya pun dapat dipastikan bahwa itu adalah seorang lelaki dewasa, namun ia tak sendiri bersama rekannya yang kini berada di sampingnya memegang obor.
Langkah keduanya berhenti tepat didepan pintu. "Yah, aku juga mendengarnya. Mungkin saja dari dalam pintu ini? Bukankah di lorong ini hanya ada kita yang sedang berkeliling"
"Bagaimana jika kita periksa, bisa saja ada pelayan atau penjaga yang lolos dan bersembunyi disini" ucapnya seraya mengambil pedang yang tersampir pada pinggangnya, dengan posisi siap dan mengacungkan pedangnya.
Kriett
Perlahan pintu itu terbuka, mereka tidak langsung masuk namun mengacungkan pedangnya bersiap dari segala kemungkinan yang dapat terjadi. Berjalan dengan langkah perlahan seraya menatap seisi gudang dengan seksama, sekilas memang tidak ada yang aneh dan mencurigakan.
Salah satu dari mereka tetap mempertahankan posisi pedangnya, sedangkan yang satu tetap memegang obor pada tangannya. "Kurasa tidak ada apapun disini car, turunkan saja pedangmu itu".
Orang yang ia panggil 'car' pun perlahan menurunkan kembali pedangnya, menatap sekitar kemudian berjalan melihat lihat semuanya dari dekat. Ia berjalan mendekat ke arah tumpukan ubi, tempat gadis kecil tadi bersembunyi.
Gadis itu mengintip dari celah tumpukan karung, keringat dingin semakin banyak menetes dari pelipisnya, tangannya bergetar yang bergetar hebat kini disatukan saling menggenggam diletakan didepan dada. Matanya melihat dengan awas, bersiap pada hal hal yang mengancam tepat didepannya.
Puk
Namun belum sempat mendekat, terdengar suara benda jatuh dari arah tumpukan karung kentang. Keduanya saling pandang. "Ayo priksa Julian" ucapnya seraya memegang pedang dengan sikap siaga.
YOU ARE READING
hei lady!!
FantasyKisah ini menceritakan seorang gadis yang disembunyikan oleh keluarga dan seluruh orang orang yang berada di kediamannya, hidup damai tanpa adanya percikan masalah dari luar. Karena ayah, ibu dan sang kakak yang menjaga seluruh privasinya dari ranah...
