01

29 2 0
                                        

--Losing--
-
Main Chara : Thorn as Taka

——
Enjoy reading!
——

Terkadang Taka merasa hidupnya semakin hampa, setiap pekerjaan yang ia lakukan hanyalah sebatas tugas, ujian, makan, dan tidur. Mempunyai teman banyak tak memengaruhi apapun, tiap kali ia bermain dengan mereka hanyalah menambah keributan di telinga, tidak pada kepalanya atau hatinya yang kosong.

Sebagai anak yang tak memiliki hobi spesifik, ia cukup sering lelah. Bermain papan seluncur bersama Tima melelahkan, membaca bersama Senja membosankan, atau belajar dengan Ganang itu sudah sangat menjenuhkan.

Terkadang Taka berpikir, apakah dirinya memang lahir sebagai sebuah kehampaan tiada akhir? Kemana semua senyum dan tawa yang dulu ia suka umbar bak permen? Mengapa semuanya mendadak menghilang?

Tiap kali ia berjalan di bawah terik matahari dengan peluh yang merembes pada kemeja putih atau almamater sekolah, cukup umum dirinya akan mampir pada minimarket untuk sekadar mencari dingin. Atau saat musim hujan, dirinya akan memegang payung dengan kencang lalu berlari tanpa memedulikan sepatunya yang becek. Tak berguna payungnya kala itu, membuat ibunda mengamuk karena selalu meninggalkan jejak di atas lantai putih yang sudah di pel mengilap.

Kini semua sifat itu menghilang dalam sekejap. Terlalu mendadak hingga semua mata mengarah padanya. Dasi yang tak rapi, kemeja kotor, sepatu koyak. Seperti tak merawat diri.

"Apa yang dunia ambil dari dirinya?" Yaya duduk berhadapan dengan Tima, tangannya berhenti untuk menulis catatan dari sahabatnya ketika melihat Taka duduk di pojok kantin. Matanya terus menatap sebelum segera beralih, pada pena merah muda bergambar. Ia tak kunjung kuat tiap kali Taka hadir di ruangan yang sama.

Tima menggeleng pelan, ia tak membawa apa-apa selain sebuah dompet lusuh dan ponsel retak. Rambutnya yang acakadut itu rapi untuk hari ini, wajahnya bersih, tapi tatapannya sungguh sendu. "Sudah ku ajak berbagai cara agar dia balik, tapi..."

Ucapannya menggantung di udara, tak berlanjut cukup lama hingga bel berbunyi. Tapi tak dari keduanya beranjak, masih berdiam disana dikala kantin perlahan senggang.

"Sudah kau ajak banu?" Yaya bertanya, melirik ke arah meja tadi, berharap bahwa Taka segera kembali ke kelas.

"Dia menolak. Katanya Taka lagi butuh sendiri, semua usaha akan sia-sia bahkan jika semuanya bersatu."

♣︎♣︎

Cukup limbung Taka berjalan. Di tengah trotoar, kaki yang biasa menendang tumit Banu tak beralas. Kedua sepatu itu di tentengnya, dengan tangan kiri yang penuh lebam, sedangkan tangan kanan menyeret tas yang hanya berisi beberapa buku.

"Menyedihkan..." Satu kejadian saja sudah membuatnya Karu. Perasaanya hilang. Menyedihkan. Tak ada yang dapat ia rasakan selain hampa. Menangis saja ia tak bisa.

Pintu rumahnya terbuka perlahan. Derit pintu cukup nyaring diantara keributan pada jalan perumahan. Anak-anak bermain terlepas bagaimana gelapnya malam, orang tua saling menyapa di halaman rumah, berbincang dan tertawa. Tak sadar bahwa seorang remaja dengan lebam di sekujur tubuhnya tertatih-tatih masuk rumah.

Tak ada sapaan, tak ada ucapan selamat datang. Hanya hening ketika pintu sudah tertutup perlahan. Menyisakan dirinya duduk di ruang tamu, melihat ke arah langit-langit tanpa penerangan.

"Bunda..." bisiknya.

"Kau sungguh meninggalkanku tersiksa...jangan terlalu lama di balik jeruji itu."

——
End
——

Short story for opening I guess

one-shotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang