*
*
*
Happy Reading
"Manusia biadab kau Adrian! Menyesal aku pernah mengenal mu!" Teriak Alina di depan wajah pria angkuh yang hanya menatapnya datar.
Adrian, yang tak lain suaminya hanya menatap datar Alina yang terlihat marah dengan nafas memburu.
"Aku hanya mendidik mereka Alina." Balas Nya tenang dan sesekali mengusap cerutu mahalnya.
"Mendidik kau bilang? Kau yang harusnya kembali di didik ulang! Manusia brengsek! Mereka itu anak-anak mu Adrian!" Pekik Alina kesal.
"Karena mereka anak ku lah aku melakukan itu, aku hanya memastikan masa depan mereka." Balas Adrian masih tenang.
"Kau hancurkan mental mereka Adrian! Brengsek!" Adrian menatap Alina dengan alis terangkat satu.
"Mental kau bilang? Mental siapa? Mereka semua sehat Alina." Balasnya lagi.
Alina seolah kehilangan akal sudah, dia sudah tak tahan melihat Adrian melakukan kekerasan bahkan memberikan hukuman yang menurutnya sudah keterlaluan terhadap anak-anak nya terutama dua anak kembar bungsunya.
"Aku mau Cerai!" Putus Alina bulat di tengah malam itu, Adrian yang sejak tadi membelakangi Alina dengan cerutu di ujung jarinya memutar kursinya.
"Tiba-tiba? Ditengah malam?" Ucap Adrian dengan senyum mengejek.
"Aku akan bawa anak-anak dari manusia seperti mu! Iblis kau!" Kesal Alina.
"Bawa saja dua anak bodoh mu itu! Jangan pernah kau Sentuh Raka, Natha dan Erzan! Kalau kau nekat melakukan nya aku tak segan untuk menghancurkan hidup mu nantinya..." ucap Adrian tenang.
Alina terdiam mendengarnya, namun tekatnya kuat "Aku akan membawa mereka seua! Tak akan kubiarkan kau merusak anak-anak ku brengsek!" Teriak Alina lalu keluar dari ruangan Adrian dengan cepat hendak membawa kelima anaknaya dari rumah bajingan itu.
Alina sudah tak tahan melihat bagaimana anak-anaknya tersiksa selama ini dan dia tak bisa melakukan banyak hal untuk mereka semua. Sudah cukup semuanya! Alina bisa hidup baik tanpa Adrian. Dia akan hidup bahagia bersama anak-anak nya.
Namun tanpa di sadari Alina, Adrian sejak tadi mengikuti Alina dengan santai dan tanpa sadar bahkan mendahului jalan Alina membaut Alina terkejut. Apalagi saat melihat Adrian berjalan mneuju kamar anak kembarnya.
"Adrian!" Teriak Alina panik melihat Adrian yang masuk ke dalam kamar anak kembarnya dengan santai diikuti oleh Alina dengan panik.
Adrian masuk dan dan tanpa banyak bicara mengangkat tubuh Elian begitu saja di ranjang membuat anak itu tersentak kaget dalma tidurnya, mata nya yang kecil mengerjap bingung di tengah remmang lampu tidur.
"Papa..." Ucap anka itu yang bingung kenapa tiba-tiba Adrian menggendongnya di tengah malam. Namun Adrian tak mengindahkan nya. Dia menggendong Elian keluar lalu membawanya keluar kamar melewati Laina begitu saja membaut Alina panik luar biasa.
"Adrian!" pekiknya kaget dan mengikuti Adrian membawa tubuh Elian dkelaur kamar.
"Bunda...." Panggil Elian di gendongan Adrian, bahkan sesekali menggeliat digendongan Adrian.
"Diamlah!" Sentak Adrian yang seketika membuat Elian terdiam dnegan air mata mulai menggenang id kedua matanya. Dia sangat hapal kemana arah langkah papa nya kemana.
"Bunda.. hiks!" Isak anak itu ketakutan.
"Adrian!" Panggil Alina.
Lantai marmer itu tidak lagi terasa dingin bagi Alina, karena sekujur tubuhnya sudah mati rasa oleh amarah. Namun, saat ia melihat Adrian menyeret Elian yang masih mengantuk ke dalam ruang kerjanya, jantungnya seolah berhenti berdetak.
BẠN ĐANG ĐỌC
Distorsi
FanfictionErzan selalu bertanya kenapa malam itu Alina pergi? Lalu kenapa hanya Elian dan Saga yang dibawa Alina. Apa Erzan nakal? apa Erzan kurang pintar? Apa Erzan masih kurnag untuk bunda? Bahkan dimalam hujan deras itu, Alina mengabaikan suara jeritan nya...
