00

37 9 4
                                        

Jika tatapan bisa membunuh. Maka, pertemuan mereka adalah pembantaian paling sunyi.

~ @Brilleanc || I Wine You to be Mine ~

❄️❄️❄️

Sebuah limusin hitam melaju pelan menuju pemakaman. Seorang perempuan duduk diam di dalamnya. Tidak ada emosi di sana. Hanya ada ketenangan, seolah ia telah menyiapkan hati dari jauh-jauh hari untuk kehancuran ini.

Langkahnya anggun saat turun dari kendaraan mewah itu. Penampilannya elegan dengan gaun hitam sederhana yang membalut tubuh tegaknya. Rambutnya ditata rapi, membiarkan beberapa helaian menjuntai membingkai elok parasnya.

Dialah Tuan Putri yang telah lama tidak terlihat, Layka Denian Damika. Prima Ballerina Internasional dari panggung megah Palais Garnier.

Kini, ia berdiri di depan nisan hitam polos bertuliskan nama Sang Ayah dengan tatapan yang menyimpan banyak pertanyaan. Padahal, baru tadi malam ia mendengar tawa kecil pria itu yang mengiringi musik Sean Lake oleh Tchaikovsky di belakang panggung, berjanji akan menggelar pesta besar sebagai perayaan kemenangannya.

Sayangnya, rencana itu gagal sebelum dipersiapkan.

Sekarang tidak ada pesta yang dihadiri tamu dengan mengenakan gaun glamor dan jas mahal, melainkan upacara pemakaman yang dihadiri pelayat dalam balutan pakaian serba hitam.

Seorang pria berdiri tepat di sampingnya, kemudian menyodorkan sebuah amplop bersegel merah darah di balik jas hitamnya. “Seseorang mengirimkan ini ke apartemen ayahmu sebelum ia ditemukan tewas,” bisiknya.

“Selamat datang kembali, Nona Denian!”

Suara berat menyapa dari arah belakang. Semua orang yang mengelilingi pemakaman dibuat terkejut oleh kehadirannya.

Layka segera berbalik badan. Seorang pria berdiri tidak jauh dari pagar makam Damika. Kacamata gelap masih bertengger di wajah itu meski matahari nyaris tenggelam. Rahang perempuan itu mengeras, tangannya mengepal kuat, dan matanya melempat tatapan penuh kebencian.

Pria itu, Romeo Gernard Lourenzo. Putri dari orang yang menjadi penyebab kematian ayahnya.

Hening menyelimuti ketegangan hingga hujan mulai membasahi area pemakaman. Perlahan-lahan semakin deras, menjadi alasan kuat bagi pelayat untuk membubarkan diri. Membiarkan angin dingin menjadi penengah emosi di antara keduanya.

Romeo melangkah mendekat. Berdiri di samping perempuan itu. Memiringkan kepala, menatap pada makam Damika. “Setelah kudengar bahwa kau telah tiba, aku sengaja hadir untuk memberikan penghormatan terakhir padanya," ucapnya, lalu menatap Layka di hadapannya. “Dan, tentu saja untuk menyapamu,” sambungnya.

Layka tidak menjawab. Tidak memberikan reaksi apapun. Ia hanya memandangi Romeo dengan kebungkaman yang sulit ditaklukan. Menganggap Romeo hanyalah patung biasa yang tidak bernilai.

❄️❄️❄️

Hai, Guys!🍷👠

Terima kasih karena telah bersedia hadir pada pertemuan pertama yang mendebarkan antara Layka dan Romeo. 💋

Pesan dariku, jangan terburu-buru pergi dari sini. Nikmati perjalanan ceritanya hingga kita temukan bersama fakta dari pemicu perang mata keduanya.

Siapkan gelas kalian dan bersulang denganku di bab berikutnya.

Sampai jumpa! 🌙

Brilleanc,
di sudut kota West City

Selasa, 02 September 2026.

I Wine You to be MineStories to obsess over. Discover now