Rumah besar

104 7 6
                                        

Hello, ini cerita ke 2 aku yg aku published
Semoga kalian suka

***


Keluarga terpandang Attar Bromo Wijoyo memiliki banyak rumah besar yang berdiri megah, namun sunyi.
Rumah-rumah itu jarang berpenghuni, ditinggalkan oleh para pemiliknya yang lebih sering tenggelam dalam kesibukan di luar sana.
Salah satunya sengaja disewakan oleh sang pengurus. Bukan tanpa alasan, ia merasa iba melihat ruangan-ruangan luas yang terus kosong, dipeluk debu dan kesunyian. Terlebih, pemilik rumah itu hanya pulang ke Indonesia beberapa tahun sekali, cukup lama bagi sebuah rumah untuk menyimpan rahasia.

Pada malam pertama rumah itu kembali dihuni, angin berembus pelan dari lorong-lorong panjangnya. Lampu gantung tua berayun perlahan, seolah bergerak tanpa sebab. Ada langkah kaki yang terdengar samar, padahal rumah itu seharusnya hanya diisi oleh satu orang.
Pengurus pernah berkata, dengan suara setengah berbisik, bahwa rumah itu tidak pernah benar-benar kosong. Ada sesuatu yang tertinggal, terperangkap di antara dinding-dinding tebalnya, menunggu seseorang cukup lama untuk menyadarinya.

Dan malam itu, rumah besar itu akhirnya menemukan tamu ke duanya.

‎Fraka mahasiswa seni di universitas Gunadarma menjadi salah 1 penghuni baru dalam rumah besar itu.
‎Dirinya senang sekali mendapatkan tempat yang terbilang cukup sulit didapatkan karena lingkungan disana harga sewa cukup mahal.
‎Dan keberuntungan Farka mendapatkan harga sewa cukup murah dengan fasilitas yang begitu lengkap dan nyaman bagi nya.

Rumah itu berdiri megah, terawat dengan sempurna. Lantainya mengilap, dindingnya bersih tanpa noda, dan aroma cairan pembersih masih samar tercium di udara. Tak ada tanda rumah kosong, kecuali satu hal.. tak ada kehidupan di dalamnya.

Setiap sudut dirawat dengan teliti oleh pengurus. Tidak ada debu, tidak ada sarang laba-laba, tidak ada perabot rusak. Namun justru kerapian itulah yang membuat rumah terasa dingin, seolah segala sesuatu berada terlalu rapi untuk sebuah tempat tinggal.

Setelah beberapa hari tinggal di rumah besar tersebut, awalnya Farka tak memedulikannya.
Rumah itu terlalu rapi, terlalu tenang, hingga ia mengira semua keganjilan hanyalah perasaan sementara.
Ada satu kamar yang nyaris tak pernah terlihat seperti berpenghuni.

Gelap. Bahkan lorong menuju ruangan itu memiliki pencahayaan yang sangat minim.
Beberapa pengurus rumah sudah sering mengganti lampu di lorong tersebut, namun cahaya itu hanya bertahan dua hari saja sebelum kembali redup.
Ia sempat merasa aneh, namun memilih tak bertanya. Tidak semua hal perlu dipermasalahkan, pikirnya.

Suatu malam, saat Farka pulang kuliah cukup larut, langkah kakinya melambat ketika melihat sekilas bayangan hitam di lorong itu. Dadanya terasa menghangat, lalu dingin. Ia berdiri diam beberapa detik, menimbang apakah matanya hanya lelah atau benar-benar melihat sesuatu.
Ada dorongan aneh di dalam dirinya, bukan rasa takut, melainkan rasa ingin tahu yang tak wajar. Tanpa sadar, ia mengikuti bayangan itu, meski hatinya berdebar pelan dan napasnya tak lagi teratur.
Namun saat sampai di ujung lorong, bayangan itu menghilang. Pintu kamar yang selalu gelap berdiri tertutup di hadapannya. Ia menatapnya lama, merasakan perasaan tak nyaman yang sulit dijelaskan.

Tangannya nyaris menyentuh gagang pintu ketika suara Daru menghentikannya.
Daru penghuni pertama, ia sudah empat bulan menyewa salah satu kamar di sana.

“Jangan sentuh pintu itu,” kata Daru singkat.

Farka terkejut, tangannya refleks tertarik kembali. Jantungnya berdegup lebih cepat dari seharusnya.

“Apa sebenarnya yang ada di balik pintu ini?” tanyanya, tak mampu menyembunyikan rasa penasaran.

Daru terdiam sesaat. Tatapannya menghindar, suaranya menurun.

DIBALIK PINTU HITAM Stories to obsess over. Discover now