Antares kembali bersama, untuk terakhir kalinya.
Iris memeluk Cordelia tanpa berkata apa-apa. Pelukan itu erat, seolah ingin menahan waktu agar tidak bergerak maju. Di belakang mereka, Arthur hanya tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. Matanya berkaca-kaca, namun ia menahan diri untuk tidak menunjukkan kelemahannya. Ia tahu, jika ia mulai menangis, semuanya akan runtuh.
Iris menggenggam tangan Cordelia dan mulai berlari kecil, menariknya pergi dari puing-puing Arcadivia menuju padang rumput yang terbentang luas di kejauhan. Cordelia sudah tak mampu berlari seperti dulu. Kakinya terasa berat, tubuhnya melemah oleh hilangnya sebagian besar kekuatan. Namun ia memaksa dirinya mengikuti Iris, seolah takut momen itu akan hilang jika ia berhenti. Arthur menyusul dari belakang, langkahnya lebih lambat, namun matanya tak pernah lepas dari dua sosok di depannya.
Mereka tiba di sebuah padang rumput yang luas, hijau, dan sunyi. Burung-burung kecil berkicau di kejauhan. Sungai mengalir tak jauh dari sana, gemericiknya berpadu dengan suara angin yang menggesek rerumputan. Suasana itu menenangkan, damai… namun juga dipenuhi kekhawatiran yang tak terucap.
Di langit, jauh di atas kerajaan Arcadivia, gerbang terakhir masih terbuka. Lingkaran cahaya merah itu berputar perlahan, seperti mata raksasa yang mengawasi dunia. Iris dan Arthur sesekali menoleh ke sana, seolah takut jika sesuatu keluar tanpa peringatan.
Cordelia memperhatikan mereka, lalu tersenyum kecil.
“Gerbang itu tak akan mengeluarkan monster lagi,” katanya pelan. “Devomort telah musnah. Semua makhluk yang pernah ia panggil tak akan datang menjemputku.”
Namun di dalam hatinya, Cordelia tahu kebenaran yang lebih dalam. Ia merasakan sesuatu dari balik gerbang itu. Bukan monster. Bukan pasukan neraka. Melainkan kekuatan yang jauh lebih besar—sesuatu yang akan menjemputnya pulang. Tinggal menunggu waktu. Bukan untuk sekarang.
Untuk saat ini, ia hanya ingin berada di sini. Bersama mereka.
Iris mengumpulkan kayu kering, lalu menyalakannya dengan sihir kecil miliknya. Api menyala lembut, tidak membara, hanya cukup untuk menghangatkan. Arthur pergi ke sungai, melepas pedangnya dari punggung, dan menggunakannya seperti tombak. Ia menangkap lima ekor ikan kecil. Ketika kembali, Iris memberinya pujian singkat yang membuat Arthur tersenyum tipis.
Mereka memanggang ikan di atas api. Asap tipis mengepul, membawa aroma hangat yang bercampur dengan udara padang rumput. Cordelia duduk di samping Iris, lututnya tertekuk, tubuhnya sedikit bersandar ke bahu Iris. Kehangatan kecil itu membuat dadanya terasa sesak.
Untuk sesaat, dunia terasa sederhana.
Mereka makan bersama, tanpa terburu-buru. Tanpa monster. Tanpa jeritan. Tanpa darah.
“Iris… Arthur…” Cordelia membuka suara, lirih namun jelas. “Terima kasih telah mengajariku banyak hal di dunia ini. Aku tidak akan tahu apa itu kesedihan. Aku tidak akan tahu apa itu kehangatan… dan apa itu kebahagiaan… tanpa kalian.”
Arthur menunduk. Iris menggigit bibirnya, menahan air mata.
“Tanpa kalian,” lanjut Cordelia, “aku hanya sesosok makhluk kesepian di dalam neraka.”
Tak ada yang langsung menjawab. Iris hanya merangkul Cordelia lebih erat. Arthur menatap api unggun, lalu berkata pelan, “Kau bukan lagi makhluk neraka bagiku. Kau adalah bagian dari Antares.”
Cordelia tersenyum. Senyum yang rapuh, namun tulus.
Waktu berjalan tanpa mereka sadari. Matahari perlahan turun di ufuk barat, mewarnai langit dengan jingga dan merah tua. Bayangan rumput memanjang. Angin menjadi lebih dingin.
Tiba-tiba, Cordelia merasakan sesuatu di belakang mereka.
“Aku butuh beberapa jam lagi untuk menikmati ini, Cerberus,” ucapnya pelan.
Iris dan Arthur menoleh bersamaan.
“Apa?” tanya Iris bingung.
Lalu terdengar geraman rendah.
Dari balik bayangan pepohonan, muncul sosok besar. Tubuhnya tiga kali lipat manusia. Berbentuk anjing. Namun memiliki tiga kepala dengan mata merah menyala.
Arthur dan Iris refleks mengambil posisi bertarung.
“Berhenti,” kata Cordelia cepat. “Dia bukan musuh.”
Ia berdiri, meski tubuhnya terasa berat. “Itu Cerberus. Peliharaanku… di neraka.”
Arthur terdiam. Iris menelan ludah.
Cordelia sendiri terkejut. Ia tak menyangka Cerberus mampu hidup kembali setelah dikalahkan Devomort. Namun di hadapannya kini, Cerberus menunduk rendah. Tidak mengaum. Tidak menyerang. Ia hanya menunggu.
Iris dan Arthur tetap menjaga jarak dari Cerberus, tapi mereka berdiri dekat dengan Cordelia. Malam turun perlahan.
Mereka menghabiskan waktu itu sampai langit benar-benar gelap. Bintang mulai muncul satu per satu.
“Ini sudah saatnya,” ucap Cordelia.
Iris menoleh cepat. “Saatnya apa?”
“Aku mau kalian tetap di sini,” kata Cordelia. “Jangan mendekat ke Arcadivia.”
Iris langsung memeluknya. Kali ini lebih erat.
“Aku mau dunia ini damai,” bisik Cordelia di telinga Iris. “Tanpa ada gerbang neraka yang terbuka.”
Tubuh Cordelia mulai berubah. Zirah hitam muncul kembali, melekat di kulitnya. Dua tanduk kecil tumbuh perlahan di kepalanya. Rambutnya yang hitam berubah menjadi perak. Sebuah mahkota obsidian muncul di atas kepalanya—simbol penguasa sejati neraka.
Cerberus berlutut. Memberi punggungnya.
Cordelia naik perlahan. Ia menoleh sekali lagi ke arah Iris dan Arthur.
Tak ada kata-kata perpisahan panjang. Hanya tatapan.
Lalu Cerberus melompat, membawa Cordelia menuju Arcadivia. Menuju gerbang terakhir.
Di langit, gerbang itu berhenti berputar. Cahaya merahnya meredup. Saat Cordelia dan Cerberus masuk, gerbang itu menutup perlahan, seperti kelopak mata yang terpejam.
Kerajaan Arcadivia runtuh ke dalam tanah, tenggelam, seolah tak pernah ada.
Iris jatuh berlutut. Air matanya menetes tanpa suara.
“Kita… tak bersama Cordelia lagi,” ucapnya dengan suara gemetar.
Arthur memeluknya dari belakang. Ia menatap tanah kosong di kejauhan, tempat kerajaan itu dulu berdiri.
Mereka pergi dari padang rumput itu.
Menuju sebuah kota yang pernah mereka selamatkan. Warga kota mengenali wajah mereka berdua dan menyambut kedatangan Iris dan Arthur.
Arthur berdiri di hadapan warga kota dan berkata, “Tidak akan ada monster lagi. Tidak untuk selamanya.”
Sorak sorai memenuhi udara.
“Hidup Antares!”
Arthur tersenyum, meski di hatinya ada rasa yang tidak nyaman, Antares seharusnya berjumlah tiga orang.
Tahun demi tahun berlalu. Kota itu tumbuh menjadi kerajaan kecil yang makmur. Tanahnya subur. Alamnya indah. Orang-orang menyebutnya Arcadivia.
Arthur diangkat sebagai raja. Iris menjadi penasihatnya.
Di tengah alun-alun, Arthur mendirikan patung Antares: tiga sosok berdiri berdampingan. Warga tak tahu siapa sosok ketiga itu. Tapi mereka menghormatinya.
Cordelia menjadi legenda.
Legenda tentang makhluk neraka yang memilih dunia manusia.
Legenda tentang penguasa yang menutup gerbang demi kedamaian.
Dan di suatu tempat, jauh di balik dunia ini, seorang ratu neraka mengawasi dari kegelapan—menjaga agar tidak ada gerbang yang pernah terbuka lagi.
Antares telah berpisah.
Namun kisah mereka… tidak pernah benar-benar berakhir.
YOU ARE READING
The Journey Of Antares
FantasyLangit cerah yang perlahan terbelah membuka sebuah gerbang misterius dan membawa celah menuju dunia bawah. Dari dalamnya, makhluk dan monster mengerikan menyerbu, menghancurkan desa, kota, serta kerjaan. Segel yang terpasang pada gerbang tersebut me...
