Namanya Anya Kirana Putri.
Di kelas, Anya hanyalah murid biasa. Tidak menonjol, tidak pula menghilang. Ia biasa dipanggil Anya, dan panggilan itu terdengar sama seperti dirinya yang sederhana.
Anya duduk di bangku tengah, barisan dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat halaman sekolah, pohon yang daunnya sering bergoyang tertiup angin, dan cahaya matahari yang masuk terlalu terang di siang hari. Ia datang tepat waktu, membuka buku sebelum guru masuk, mencatat ketika pelajaran dimulai, dan menguap pelan saat materinya terasa berat.
Ia tidak rame.
Tapi juga tidak sepenuhnya pendiam.
Anya bisa bercanda jika perlu, menjawab kalau ditanya, dan tertawa sewajarnya. Selebihnya, ia memilih diam. Murid standar. Tipe yang jarang diperhatikan, jarang disebut, dan hampir selalu aman dari sorotan.
Di kelas itu, ada satu orang yang sangat berbeda dari Anya.
Dia rame.
Suaranya mudah dikenali, bahkan dari kejauhan. Tawanya sering terdengar lebih dulu sebelum orangnya terlihat. Kalau guru belum masuk, dialah yang paling sering dikelilingi orang. Ceritanya mengalir, komentarnya spontan, dan teman-temannya selalu ada.
Lingkarannya luas.
Dunianya ramai.
Anya tahu dia.
Semua orang di kelas tahu dia.
Tapi Anya hanya tahu sebatas itu.
Mereka satu kelas, duduk di ruangan yang sama hampir setiap hari, tapi tidak pernah benar-benar dekat. Tidak ada alasan khusus. Tidak juga ada masalah. Mereka hanya… tidak pernah berada di lingkaran yang sama.
Semuanya berubah dari hal yang paling biasa.
Tugas.
Malam itu, ponsel Anya bergetar pelan. Ia sedang rebahan, satu tangan memegang ponsel, satu lagi menahan bantal. Dengan setengah niat, ia membuka layar.
Nama itu muncul.
Di kontak, namanya tersimpan sederhana. Tidak ada emoji. Tidak ada tambahan apa pun. Hanya nama dan kelas.
“Tugas matematika udah?”
Anya membaca pesannya sekali, lalu mengetik balasan.
“Belum.”
“Kamu?”
Balasannya datang cepat.
“Sama.”
“Katanya besok dikumpulin.”
Seharusnya selesai sampai di situ. Biasanya memang begitu. Tanya tugas, jawab, selesai. Anya sudah sering mengalami percakapan seperti itu dengan teman sekelas lain.
Tapi kali ini, chat itu tidak berhenti.
Satu pesan disusul pesan lain. Mereka mulai membahas soal yang sulit, guru yang galak, jam pelajaran yang rasanya berjalan lebih lambat dari waktu sebenarnya. Obrolannya ringan, tidak penting-penting amat, tapi membuat waktu berlalu tanpa terasa.
Anya tersenyum membaca layar ponselnya.
Ketawa kecil. Sendirian.
Di chat, dia terasa berbeda.
Tidak serame di kelas, tapi tetap lucu. Candanya tidak berlebihan. Kadang menyelipkan komentar acak yang membuat Anya tersenyum tanpa sadar. Dan yang paling aneh, dia mau mendengarkan. Benar-benar mendengarkan.
Anya bercerita apa saja, tentang hari yang melelahkan, pelajaran yang membosankan, bahkan hal kecil yang bahkan ia sendiri tidak tahu kenapa ingin diceritakan.
Dan dia menanggapi semuanya.
Tanpa menghakimi.
Tanpa mengejek.
Malam itu berakhir begitu saja.
Tanpa kesimpulan apa pun.
Tapi Anya tahu, sesuatu yang kecil telah bergeser.
STAI LEGGENDO
Sekolah Dimulai, Kita Berakhir
Teen FictionDitengah heningnya malam, namanya selalu muncul brada di layar ponselku. kami bercerita tentang hal - hal kecil, tertawa pelan, saling jujur tanpatakut dilihat siapa pun. Tapi saat bell sekolah berbunyi, kami hanyalah dua orang asing, yang saling ta...
