Cordelia melangkah semakin dalam ke jantung Kerajaan Arcadivia. Setiap langkahnya menggema di antara bangunan runtuh dan tanah yang menghitam oleh api. Ia mengedarkan pandangan, bukan dengan rasa takut, melainkan dengan kewaspadaan seorang penguasa yang kembali ke wilayahnya sendiri. Udara dipenuhi aura ancaman—pekat, berat, dan menekan dada.
Dari balik reruntuhan, monster-monster besar muncul. Tubuh mereka menjulang dua kali tinggi manusia, mata mereka menyala dengan cahaya liar. Mereka berdiri menghalangi jalan Cordelia.
Ia berhenti.
Tatapannya berubah tajam, dipenuhi amarah yang lama terpendam.
“Ketahuilah siapa yang menciptakan kalian,” ucapnya dingin.
Suara itu bukan lagi suara manusia. Ada gema gelap di dalamnya, seolah dunia di sekitarnya ikut tunduk.
Monster-monster itu bergetar. Lutut mereka menekuk, kepala mereka menunduk. Tubuh mereka mulai hancur perlahan, berubah menjadi serpihan hitam yang terangkat oleh angin dan lenyap seperti debu.
Cordelia kembali melangkah.
Pakaiannya mulai berubah. Kain yang menempel di tubuhnya mengeras menjadi zirah gelap, menyatu dengan kulitnya seperti bayangan yang hidup. Dari kepalanya, dua tanduk kecil tumbuh perlahan, melengkung ke belakang. Aura neraka kembali menyelimuti dirinya, seakan dunia ini tak lagi sanggup menyangkal asal-usulnya.
Ia mengangkat tangannya.
Dari tanah yang retak, api hitam menyala. Sebuah makhluk besar bangkit dari sana—anjing neraka berkepala tiga, tubuhnya diselimuti bara merah dan asap hitam.
“Cerberus,” ucap Cordelia.
Ketiga kepala itu menggeram bersamaan.
“Cari Devomort. Bawa dia ke hadapanku. Atas perintahku.”
Cerberus melompat dengan satu hentakan kaki. Tanah hancur di tempat ia berpijak. Dalam sekejap, ia menghilang di antara bangunan-bangunan istana.
Cordelia melanjutkan langkahnya.
Di tengah jalan, ia melihat sesosok tubuh terbakar hangus—seorang kakek tua. Tubuh itu tergeletak kaku, seperti kayu arang. Cordelia mengangkatnya tanpa menyentuhnya, hanya dengan kekuatannya. Bayangan hitam mengalir ke dalam tubuh itu.
Kakek tua itu terbatuk. Matanya terbuka.
“Di mana monster itu?” tanya Cordelia.
Wajah kakek itu pucat. Tubuhnya gemetar hebat, mulutnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar.
Cordelia mengernyit. Ia tidak butuh rasa takut.
Bayangan di tangannya mengeras. Tengkorak kakek itu remuk seketika. Tubuhnya jatuh kembali ke tanah, tak bernyawa.
“Devomort!” teriak Cordelia.
Suaranya menggema di seluruh Arcadivia, menembus tembok istana dan lorong-lorong yang runtuh.
• • •
Di dalam istana kerajaan, Devomort duduk santai di singgasana yang pernah menjadi milik Cordelia. Ia menyilangkan kaki, menatap langit-langit yang retak, seolah semua ini hanyalah pertunjukan kecil.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Penguasa telah kembali,” gumamnya, disertai tawa kecil.
Ia berdiri dari singgasana. Saat melangkah menuju pintu istana, sebuah bayangan besar jatuh di depannya.
Cerberus.
Tiga pasang mata merah menatapnya, napas panas keluar dari tiga mulut yang dipenuhi taring.
“Oh,” ujar Devomort ringan. “Cerberus. Sudah lama kita tak bertemu. Bagaimana kabar tuanmu?”
Jawaban Cerberus adalah geraman.
Ia langsung menyerang.
Devomort melompat ke samping, menghindari rahang yang hampir meremukkan tubuhnya. Api hitam menyapu lantai istana. Pertarungan pun pecah—taring melawan sihir, cakar melawan bayangan.
Benturan mereka mengguncang dinding. Pilar runtuh. Api dan asap memenuhi aula istana.
Devomort mulai mengerahkan kekuatan penuhnya, namun Cerberus tak memberi celah. Mereka bertarung lama, hingga akhirnya Cerberus terdorong mundur, tubuhnya penuh luka, satu kepalanya terkulai.
Devomort terengah-engah, namun tersenyum.
“Jadi… aku akhirnya bisa mengalahkanmu.”
Ia teringat satu syarat lama—syarat yang dulu diberikan Cordelia: kau tak boleh menghadapku sebelum bisa menaklukkan Cerberus.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar istana.
Di depan pintu istana, Cordelia telah berdiri.
Bayangan hitam menggumpal di kedua tangannya. Matanya dingin, wajahnya tanpa emosi.
Tanpa menyapa, ia menyerang.
Gelombang bayangan menghantam Devomort, melemparkannya kembali ke dalam istana. Cordelia menghilang—dan muncul tepat di hadapannya sebelum tubuh Devomort menyentuh lantai.
Bayangan mengangkat Devomort ke udara.
“Sudah sejauh mana kekuatanmu?” tanya Cordelia.
Devomort terkekeh. “Lihatlah dirimu. Aku tidak pernah memaksamu kembali ke neraka. Kaulah yang memilih kembali.”
Kata-kata itu membuat bayangan Cordelia mengeras.
Ia menghantam kepala Devomort ke lantai. Batu retak, membentuk kawah besar.
“Di mana Cerberus?” tanyanya lagi.
“Cerberus?” Devomort tersenyum. “Ah… dia berhasil aku kalahkan.”
Langit di atas Arcadivia berubah.
Lingkaran-lingkaran merah membesar, berputar semakin cepat. Jumlahnya bertambah, seakan neraka membuka matanya lebar-lebar di atas kerajaan itu.
Amarah Cordelia meluap.
Dari kejauhan, di atas bukit, Iris dan Arthur menatap Arcadivia.
Mereka bisa melihat cahaya merah berputar di langit. Tanah bergetar samar di bawah kaki mereka.
“Apa yang terjadi…?” bisik Iris.
Arthur menggenggam pedangnya, namun tak bisa melangkah maju. Sihir Cordelia menahan mereka di tempat itu, seperti dinding tak terlihat.
Mereka hanya bisa memilih—menunggu, atau pergi meninggalkan Cordelia di hadapan masa lalunya sendiri.
Di dalam Arcadivia, bayangan dan api mulai menyatu.
Dan pertempuran yang sesungguhnya… baru akan dimulai.
YOU ARE READING
The Journey Of Antares
FantasyLangit cerah yang perlahan terbelah membuka sebuah gerbang misterius dan membawa celah menuju dunia bawah. Dari dalamnya, makhluk dan monster mengerikan menyerbu, menghancurkan desa, kota, serta kerjaan. Segel yang terpasang pada gerbang tersebut me...
