Langkah Cordelia terasa lebih berat dari biasanya ketika Antares mendekati sebuah kota kecil di ujung jalan. Jalan berbatu yang menuju gerbang tampak ramai oleh para pedagang dan warga yang berlalu-lalang, wajah mereka penuh tawa dan percakapan ringan. Tidak ada tanda-tanda ketakutan. Tidak ada bekas kehancuran. Bahkan udara terasa bersih, seolah dunia di luar tembok kota ini tidak pernah disentuh oleh monster.
Arthur berjalan paling depan, seperti biasa. Tatapannya waspada, tetapi langkahnya tetap tenang. Iris mengikuti di belakangnya, memperhatikan setiap sudut kota dari kejauhan. Sementara Cordelia berjalan paling belakang, bayangannya memanjang di tanah, bergerak sedikit lebih lambat dari tubuhnya.
Di depan gerbang, dua penjaga berdiri tegap dengan zirah mengilap dan tombak panjang di tangan mereka.
Kedua penjaga itu menahan pergerakan Arthur, menatap tajam pada Arthur. "Mau apa kalian?" menanyakan tujuan Arthur datang ke kota itu.
“Kami ingin memastikan kota ini aman,” kata Arthur dengan suara tegas namun tidak mengancam. “Kami telah melihat banyak kota runtuh oleh monster.”
Penjaga itu saling berpandangan, lalu salah satunya tertawa pendek. “Monster?” ulangnya. “Di dunia ini tidak ada monster. Kota ini aman sejak dahulu.”
Nada suaranya tidak menunjukkan kebohongan. Ia benar-benar percaya pada ucapannya.
“Sudahlah,” lanjut penjaga itu sambil menatap Cordelia sekilas dengan ragu, “kami tidak membutuhkan kalian. Pergilah.”
Arthur tidak langsung membalas. Ia hanya mengangguk tipis dan menarik diri, memberi isyarat pada Iris dan Cordelia untuk mundur. Mereka berhenti di perbukitan kecil tak jauh dari kota, tempat mereka bisa mengamati tanpa terlihat jelas.
Seiring matahari turun perlahan, sesuatu mulai berubah.
Sebuah gelombang yang tak asing.
Cordelia merasakan gelombang itu terlebih dahulu. Getaran halus di dalam dadanya, seperti denyut nadi asing yang tidak berasal dari tubuhnya sendiri.
“Gerbang neraka aktif,” katanya pelan.
Langit mulai memerah, bukan oleh senja, melainkan oleh cahaya aneh yang muncul dari tengah kota. Tanah bergetar. Sebuah lingkaran gelap terbuka di antara bangunan, dan dari sana muncul makhluk raksasa.
Seekor naga.
Sisiknya hitam kemerahan seperti baja yang dipanaskan. Api merah pekat bercampur hitam keluar dari sela-sela giginya. Di sekujur tubuhnya terbelit rantai besar yang tertanam ke tanah, seolah kota itu sendiri berusaha menahannya.
Para penjaga berlari-lari, berteriak memberi perintah. Mereka mencoba mengikat kembali rantai yang mulai retak.
Arthur menegang. “Mereka melawannya.”
Cordelia menatap makhluk itu lama. “Aura gelapnya sangat kuat. Jika naga itu mati, racunnya akan menyebar ke seluruh kota.”
Iris menoleh padanya. “Racun?”
“Tubuhnya adalah racun itu sendiri.”
Rantai pertama putus.
Naga itu meraung. Api hitam menyembur dan melahap beberapa penjaga. Api itu tidak padam. Ia terus membakar, seolah memiliki kehendaknya sendiri.
Arthur melangkah maju tanpa ragu.
“Arthur, jangan!” seru Iris.
Cordelia tidak lagi menghalangi. Ia tahu, jika Arthur masuk, ia juga harus masuk.
Arthur menerobos gerbang kota dan berteriak kepada warga, memerintahkan mereka keluar. Iris berlari ke arah Arthur, ikut menerobos gerbang kota, menarik orang-orang yang terpaku oleh ketakutan. Anak-anak digendong, orang tua diseret keluar dari rumah yang mulai terbakar.
Sementara itu, Cordelia melompat ke arah naga.
Ia mendarat di punggung makhluk itu, mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin, menancapkan kakinya di sela-sela sisik panas. Bayangan berkumpul di tangan kanannya, menggumpal seperti kabut yang dipadatkan.
“Arthur! Iris! Pergi!” teriaknya.
Tangannya menekan kepala naga. Bayangan menyedot aura gelap dari tubuh makhluk itu. Raungan naga berubah menjadi jeritan.
Kemudian…
Sebuah ledakan.
Tubuh naga meledak menjadi semburan racun hitam. Cairan itu jatuh ke bangunan, jalan, dan dinding kota, melelehkan batu seperti asam.
Arthur dan Iris menjerit memanggil nama Cordelia.
Dari asap tebal, siluet muncul.
Cordelia berjalan keluar. Tubuhnya utuh. Luka-lukanya menutup sendiri. Bayangan mengelilinginya seperti mantel hidup.
Iris hampir berlari memeluknya, tetapi Cordelia mengangkat tangan. “Jangan sentuh aku. Racunnya masih di tubuhku.”
Arthur dan warga kota terdiam. Mereka ingin menjauh, tetapi juga tahu siapa yang menyelamatkan mereka.
Dengan berat hati, mereka mengucapkan terima kasih.
Cordelia dengan sikap dingin dan cueknya pergi sedikit menjauh dari warga kota, Iris, dan juga Arthur. Dengan sihir gelapnya, Cordelia membersihkan diri dari racun.
“Jangan tempati kota ini,” perintah Cordelia jauh dari kerumunan. "Sekiranya dua hari, agar racunnya benar-benar bersih."
Dengan bantuan Arthur, warga kota percaya pada ucapan Cordelia, mereka terpaksa membuat tenda dari kayu, jerami untuk tidur, dan perapian kecil untuk memasak bahan makanan.
Antares menghabiskan malam bersama warga kota.
Antares pergi ketika malam hampir habis.
Di jalan, Cordelia tiba-tiba berhenti.
Iris menatapnya bingung. “Ada apa?”
Cordelia membentangkan kedua tangannya seperti Iris tadi. “Tadi kau berlari sambil melakukan ini. Apa artinya?”
Iris tertawa kecil, lalu memeluk Cordelia erat. “Artinya aku takut kehilanganmu.”
Cordelia tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia merasakan sesuatu yang hangat, untuk pertama kalinya bukan berasal dari bayangan.
Dan untuk sesaat, dunia terasa sunyi tanpa monster.
YOU ARE READING
The Journey Of Antares
FantasyLangit cerah yang perlahan terbelah membuka sebuah gerbang misterius dan membawa celah menuju dunia bawah. Dari dalamnya, makhluk dan monster mengerikan menyerbu, menghancurkan desa, kota, serta kerjaan. Segel yang terpasang pada gerbang tersebut me...
