Chapter 1

32 7 1
                                        

Republik Kaliman-Jaya tidak pernah benar-benar damai sejak ditemukannya cadangan Promethium-4 di bawah tanah hutan hujan tropis tertua di dunia milik mereka.

Elemen langka ini adalah kunci teknologi baterai masa depan, menjadikannya harta karun sekaligus kutukan.

Pemerintah pusat Republik Kaliman-Jaya, melalui Angkatan Bersenjata Republik (ABR), berambisi mengeksploitasi sumber daya ini demi melunasi hutang negara.

Namun, bagi Front Pembebasan Rakyat Rimba (FPRR), ini adalah bentuk neokolonialisme.

Milisi pemberontak ini menggunakan taktik "hantu"—menyerang dari balik kabut tebal dan menghilang dalam rimbunnya pohon raksasa.

Perang saudara pecah, mengubah surga hijau itu menjadi neraka yang lembap.

Amerika Serikat mengirimkan unit bantuan setelah sebuah insiden kritis yaitu tim survei geologi mereka hilang di Sektor Delta, diduga disandera oleh FPRR.

Namun, militer AS tidak mengirimkan pasukan besar. Mereka mengirim unit "hantu" mereka sendiri. Unit Khusus: Vanguard-03.

Mereka dikirim sebagai Jungle Warfare Advisors. Tugas resmi mereka adalah melatih pasukan lokal, namun tugas rahasia mereka adalah infiltrasi senyap untuk menjemput sandera yang hilang.

• Jay (Codename: ATLAS): Sang pemimpin.

Spesialis koordinasi taktis yang mampu memetakan pergerakan musuh di bawah kanopi hutan yang tidak tertembus satelit sekalipun.

• Sunghoon (Codename: ICE): Sharpshooter jarak pendek dan menengah.

Di hutan yang jarak pandangnya terbatas, ia adalah mata bagi timnya, mendeteksi ancaman sebelum peluru musuh keluar dari laras.

• Ni-ki (Codename: RIG): Spesialis sabotase dan komunikasi.

Ahli mendeteksi ranjau bambu rakitan dan memastikan frekuensi radio mereka tidak tertelan oleh lebatnya hutan.

***

Kelembapan udara di dek kapal induk USS Abraham Lincoln terasa mencekik, bahkan sebelum mereka benar-benar menginjakkan kaki di daratan. Bau minyak mesin bercampur dengan aroma garam laut dan obat pengusir serangga yang tajam.

Jay sedang berlutut di atas geladak yang panas, memeriksa ulang isi tas medis dan baterai radio cadangan. Ia mengganti sepatu bot standarnya dengan bot khusus hutan yang memiliki lubang drainase agar air tidak menggenang di dalam.

Wajahnya berkeringat, namun matanya tetap fokus pada peta topografi yang sudah dilaminasi agar tidak hancur oleh hujan. Ia tahu, di hutan nanti, satu kesalahan navigasi berarti maut.

Di sampingnya, Sunghoon melakukan ritual yang jauh lebih tenang. Ia melumuri laras senapan serbu pendeknya dengan minyak anti-korosi dosis tinggi. Ia kemudian mengambil stik cat kamuflase, memoles warna hijau tua dan hitam secara diagonal di tulang pipi dan rahangnya.

Wajahnya yang biasanya bersih kini terlihat seperti predator yang menyatu dengan bayangan.

"Hutannya tidak akan memberimu ampun, Ice" gumam Jay tanpa menoleh.

Sunghoon hanya menjawab dengan gumaman pendek sambil menguji tarikan pelatuknya.

"Aku lebih suka pohon daripada debu gurun. Setidaknya di sana ada tempat bersembunyi."

Ni-ki muncul dari ruang persenjataan, membawa dua bilah parang (machete) panjang yang baru saja diasah hingga mengkilap. Ia menyelipkan satu di pinggangnya dan satu lagi di ransel besarnya yang penuh dengan alat deteksi logam dan kabel.

VanguardWhere stories live. Discover now