Reruntuhan kota itu membentang seperti luka yang belum menutup.
Batu-batu jalan terbelah dan terangkat, seolah tanah di bawahnya pernah didorong keluar oleh sesuatu yang tidak seharusnya berada di dunia ini. Dinding-dinding bangunan berdiri miring, sebagian runtuh, sebagian lain masih bertahan dengan retakan panjang yang menjalar dari fondasi hingga puncak. Di sela-sela puing, tumbuh lumut gelap yang menyerap cahaya, membuat seluruh kawasan tampak lebih muram dari seharusnya.
Arthur sang kesatria berjalan paling depan.
Langkahnya berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena ia sengaja menginjakkan kaki dengan mantap, memastikan setiap pijakan stabil. Pedang besar tergenggam di tangan kanannya. Bilahnya panjang dan tebal, penuh bekas benturan dan sayatan lama—bukti bahwa senjata itu telah melewati lebih banyak pertempuran daripada kebanyakan kesatria hidup.
Bagi manusia biasa, pedang itu akan terasa mustahil untuk digunakan dalam waktu lama.
Bagi Arthur, beratnya hanyalah angka.
Ia berhenti di persimpangan jalan utama, menatap bangunan yang runtuh di sekeliling mereka. Angin berembus pelan, membawa debu dan bau besi tua. Tidak ada suara burung. Tidak ada tanda kehidupan normal.
“Kota ini pernah bertahan,” ucap Arthur akhirnya. Suaranya rendah, terkendali. “Dan gagal.”
Beberapa langkah di belakangnya, Cordelia berdiri tanpa bergerak.
Jubah hitamnya menjuntai lurus, hampir menyatu dengan bayangan di sekelilingnya. Tongkat kayu gelap berada di tangannya, bukan dalam posisi siap bertarung, melainkan seperti alat bantu yang keberadaannya nyaris tak berarti. Wajahnya pucat, nyaris tanpa ekspresi. Jika seseorang melihatnya sepintas, ia akan tampak rapuh—terlalu tenang untuk seseorang yang berjalan di kota mati.
Namun ketenangan itu terasa salah.
“Banyak yang mati di sini,” kata Cordelia pelan. Nadanya datar, tanpa emosi. “Tidak semuanya benar-benar pergi.”
Arthur tidak menoleh. Ia sudah cukup lama mengenal Cordelia untuk tahu bahwa kalimat itu bukan dugaan, melainkan kesimpulan.
Di sisi kanan jalan, Iris berdiri di atas sisa tembok runtuh. Posisi tubuhnya seimbang, busurnya terangkat setinggi bahu. Satu anak panah telah terpasang, ujungnya mengarah ke depan. Tatapannya tenang, fokus, dan dingin—seperti seseorang yang telah memutuskan bahwa apa pun yang muncul di hadapannya hanyalah target.
“Ada pergerakan,” ujar Iris singkat. “Empat monster.”
Arthur mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
Mereka membeku di posisi masing-masing.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan. Lalu suara gesekan terdengar dari balik bangunan runtuh di depan mereka—suara batu yang bergeser oleh sesuatu yang berat.
Makhluk pertama muncul ke jalan.
Tubuhnya besar, hampir dua kali tinggi manusia. Kulitnya kelabu dan keras, dipenuhi retakan yang memancarkan cahaya merah redup dari dalam, seolah ada api yang terperangkap di balik dagingnya. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar pelan.
Makhluk dunia bawah.
Arthur melangkah maju tanpa ragu.
Makhluk itu menggeram dan mengayunkan lengannya. Serangan itu cukup kuat untuk merobohkan tembok batu. Arthur tidak menghindar. Ia menyambut hantaman itu dengan bahunya sendiri.
Benturan keras mengguncang udara.
Dinding di samping mereka runtuh sepenuhnya, puing-puing beterbangan. Namun Arthur tetap berdiri. Otot-otot lengannya menegang saat ia menahan serangan itu, lalu mendorong balik dengan tenaga yang jauh melampaui batas manusia.
Makhluk itu terhuyung.
Satu ayunan pedang.
Bilah baja memotong tubuh makhluk itu bersih. Tubuh besar itu terbelah dan jatuh menghantam tanah, getarannya terasa hingga ke kaki Iris.
Hampir bersamaan, Iris melepaskan anak panahnya.
Satu tembakan.
Anak panah itu melesat lurus, menembus tengkorak makhluk kedua yang mencoba menyergap dari sisi kanan. Tidak ada jeritan panjang. Makhluk itu roboh sebelum sempat mendekat.
Dua makhluk tersisa muncul dari balik reruntuhan lain, bergerak lebih cepat dan liar. Arthur bersiap melangkah lagi.
Namun Cordelia mengangkat satu jari.
Isyarat kecil itu membuat Arthur berhenti seketika.
Tidak ada ledakan sihir. Tidak ada cahaya mencolok. Udara hanya terasa lebih dingin, lebih berat. Bayangan di kaki makhluk-makhluk itu menggelap secara tidak wajar.
Cordelia berbisik satu kata.
"Enyahlah."
Tanah retak.
Tangan-tangan hitam muncul dari celah gelap, mencengkeram pergelangan kaki makhluk-makhluk itu. Tidak ada teriakan. Hanya kebingungan singkat sebelum Arthur bergerak dan mengakhiri mereka dengan kekuatannya.
Cordelia menurunkan tangannya. Bayangan itu lenyap, seolah tidak pernah ada. Ia kembali berdiri diam, pasif, seperti sebelumnya.
Iris melompat turun dari reruntuhan. “Selesai.”
Arthur mengangguk. “Lanjut.”
Mereka melangkah lebih dalam ke kota.
Semakin jauh, semakin jelas tanda-tanda kehancuran lama. Tulang-belulang berserakan, sebagian masih mengenakan baju zirah yang rusak. Bekas sihir tertinggal di dinding dan tanah—lingkaran hangus, retakan aneh, dan simbol-simbol yang telah pudar.
Cordelia berhenti di sebuah persimpangan.
Ia berlutut, menyentuh tanah dengan ujung jarinya. Matanya terpejam sesaat.
“Gerbang pernah terbuka di sini,” katanya pelan. “Tidak lama. Tapi cukup.”
“Cukup untuk membunuh kota,” sambung Iris.
Mereka akhirnya tiba di alun-alun pusat kota.
Di tengahnya berdiri lingkaran batu kuno. Ukirannya retak, sebagian runtuh, namun cahaya pucat masih berdenyut di pusatnya. Segel yang gagal mati sepenuhnya.
Arthur berdiri di depan struktur itu. “Bisa dihancurkan?”
Cordelia mengamati segel itu lama. Sangat lama.
“Bisa,” jawabnya akhirnya. “Tapi belum.”
“Kenapa?” tanya Arthur.
“Karena ini belum cukup parah,” ujar Cordelia tenang.
Kalimat itu menggantung di udara, lebih berat daripada ancaman apa pun.
Iris menaikkan busurnya, mengambil posisi berjaga. Arthur mengangguk pelan.
“Kalau begitu,” katanya, “kita jaga.”
Mereka berdiri mengelilingi segel itu.
Kesatria dengan kekuatan yang mematahkan batas manusia. Elf pemanah yang tidak pernah membutuhkan tembakan kedua. Dan Necromancer abadi yang memilih untuk tidak bertindak—kecuali jika dunia memaksanya.
Cordelia berdiri diam di antara mereka.
Tidak memimpin.
Tidak menyerang.
Namun semua yang ada di tempat itu tahu satu hal: jika Cordelia bergerak lebih jauh dari ini, maka dunia telah melangkah terlalu dekat ke ambang kehancuran.
Dengan demikian, Misi Awal Antares benar-benar dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Journey Of Antares
FantasyLangit cerah yang perlahan terbelah membuka sebuah gerbang misterius dan membawa celah menuju dunia bawah. Dari dalamnya, makhluk dan monster mengerikan menyerbu, menghancurkan desa, kota, serta kerjaan. Segel yang terpasang pada gerbang tersebut me...
