"Captain Kim Seok Jin tidak pernah meleset dalam navigasi, dan pria itu tidak berencana kehilangan koordinatnya saat targetnya melibatkan hati Choi Soo Young."
Setelah melarikan diri dari siraman Ice Americano yang menghancurkan martabatnya di Seoul...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Coffee Shop - Gangnam, Seoul Pukul 17:00 KST
Byur!
Cairan hitam dingin itu mengalir dari puncak kepalaku, merusak tatanan rambutku, dan membasahi kemeja putih yang baru saja kubeli. Aroma pahit Ice Americano menyeruak, bercampur dengan aroma penghinaan yang lebih pekat.
"Dasar pelacur tidak tahu malu!" umpatnya padaku.
Suara pekikan itu membuat seluruh pengunjung kafe menoleh padaku.
Di depanku, seorang wanita yang mengenakan pakaian dari butik ternama berdiri dengan napas memburu. Dia adalah istri sah Jung Ho Seok, kekasihku.
Dan wanita ini, adalah seseorang yang baru dinikahi Ho Seok tiga bulan lalu melalui pernikahan bisnis yang megah. Tanpa aku tahu tentunya.
"Kau pikir kau siapa, hah?"
"Wanita murahan!"
"Hanya karena wajahmu cantik, kau pikir kau bisa mencuri suamiku?"
"Dasar jalang!"
"Perebut suami orang!"
Aku terpaku, mendengar semua umpatan itu, jemariku gemetar di bawah meja. Aku dan Ho Seok sudah berkencan selama satu tahun.
Satu tahun yang kuhabiskan dengan pria yang memberiku janji manis, tapi dia juga adalah pria yang diam-diam menikahi wanita lain tanpa sepengetahuanku.
Sumpah! Aku sungguh tidak tahu bahwa Ho Seok tiba-tiba menikah dengan wanita ini dan sekarang aku merasa seperti wanita simpanan Ho Seok.
"Aku tidak merebut suamimu...," suaraku tercekat, nyaris hilang.
Plakk!
Satu tamparan mendarat di pipiku, jauh lebih menyakitkan daripada siraman es americano yang tadi menyiramku. Kali ini terasa perih dan panas.
"Tinggalkan suamiku, Choi Soo Young-ssi! Atau aku akan memastikan wajah cantikmu ini hancur sampai tidak ada satu pria pun yang mau menoleh padamu!"
Wanita itu melenggang pergi, meninggalkanku yang membeku di tengah kerumunan orang yang mulai berbisik dan mengambil foto.
Detik itu juga, aku menatap pantulan diriku di kaca kafe yang basah karena hujan deras di luar sana. Wajah yang selama ini kupikir dicintai dengan tulus, ternyata hanyalah sebuah umpan untuk kehinaan ini.
"Kau menyakitiku, Jung Ho Seok! Kau merendahkan martabatku," pekikku dalam hati.
Sumpah. Aku merasa kotor.
Sangat kotor.
Aku merasa terhina, dunia akan segera menghakimiku atas dosa yang tidak aku lakukan.
Aku menghela napas lelah, dan menggeleng-gelengkan kepalaku pelan.