Etika sesama penulis itu kan saling dukung. Tolong ya kerja samanya, karena kita sama-sama mau karya kita lebih dikenal luas, kan?
Sebelum itu, jangan lupa mampir ke instagram aku ya... Follow, Like and Komen
@lautanblueee_
Jangan lupa tinggalin vote and komen kalian ya
________________________________________
Cahaya matahari pertama menyelinap masuk melalui sela-sela jendela besar, menyentuh wajah Axel yang terbangun paling awal. Ia melihat ke sekeliling; Owen tertidur, Reygan dan Azriel saling tumpang tindih kaki, dan Zavian meringkuk di antara Aiden dan Gavin.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Axel tidak merasa perlu waspada. Ia tidak merasa perlu menoleh ke belakang untuk mencari ancaman.
"Bang," bisik Axel saat melihat Owen mulai membuka mata.
Owen tersenyum tipis, sebuah senyum yang benar-benar sampai ke matanya. "Kita sudah di rumah, Xel."
"Iya, Bang. Kita sudah pulang."
Di luar, burung-burung mulai berkicau di pohon kersen yang dulu sering dipanjat Zavian. Rumah Kavindra bukan lagi sebuah museum duka. Lampunya mungkin sempat padam, tapi apinya tidak pernah benar-benar mati-ia hanya menunggu ksatria-ksatrianya kembali untuk meniup bara itu menjadi nyala yang lebih terang dari sebelumnya.
Owen bangkit berdiri, meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku karena tidur di lantai. Ia menoleh ke arah meja ruang tamu yang besar, di mana beberapa jam lalu saat adik-adiknya masih terlelap, asisten pribadinya telah datang secara diam-diam sesuai instruksinya.
Di atas meja itu, tujuh set pakaian telah tertata rapi. Ada setelan jas charcoal milik Owen, kemeja taktis untuk Axel, jaket denim tebal untuk Gavin, werpak bersih untuk Aiden, serta seragam SMK untuk Reygan dan Azriel, tak lupa seragam putih-biru SMP milik Zavian. Semuanya lengkap, disetrika halus, seolah-olah waktu tidak pernah berhenti di rumah ini.
"Ayo, bangun! Ksatria Kavindra tidak boleh terlambat di hari pertama mereka pulang," seru Owen sambil menepuk tangan, membangunkan adik-adiknya yang masih bergelung di balik selimut.
Axel menguap lebar, langsung berdiri begitu melihat kemeja hitam kesukaannya sudah tersedia. "Efisiensi CEO memang tidak main-main. Sampai urusan seragam pun sudah siap di meja."
Suasana pagi itu mendadak menjadi sibuk. Kamar mandi yang biasanya sunyi kini dipenuhi suara antrean dan godaan. Reygan dan Azriel sibuk berebut cermin untuk merapikan dasi mereka, sementara Zavian masih setengah mengantuk saat Owen membantunya membenarkan kerah seragamnya.
"Vian, hari ini lu berangkat bareng Reygan dan Azriel pakai mobil Bang Axel," ujar Owen sambil menyisir rambut adiknya.
"Bang Owen tidak ikut?" tanya Zavian polos.
"Bang Owen harus ke kantor pagi-pagi sekali bareng Bang Axel pakai mobil Abang yang sudah diantar ke depan tadi," jawab Owen lembut.
Di luar, suara deru mesin motor sport milik Aiden dan motor custom milik Gavin mulai terdengar membelah kesunyian pagi. Mereka berdua sudah siap dengan helm masing-masing.
"Bang, kami berangkat duluan ya! Ada jadwal pagi di bengkel," teriak Aiden dari balik helmnya.
Gavin melambaikan tangan sambil menyampirkan tas kameranya. "Gua juga ada sesi foto pagi ini. Sampai ketemu nanti di rumah ini lagi!"
"Hati-hati, Aiden! Gavin! Jangan ngebut-ngebut!" teriak Axel dari teras, suaranya bersaing dengan raungan mesin motor mereka yang gagah.
Gavin hanya memberikan jempol sambil mulai melajukan motornya, disusul oleh Aiden yang melesat dengan suara knalpot yang khas. Keduanya menghilang di balik gerbang, meninggalkan kepulan asap tipis dan semangat yang tertinggal di udara pagi.
YOU ARE READING
Tujuh Detak Kavindra
General FictionRumah Keluarga Kavindra bukan sekadar bangunan beton, melainkan sebuah simfoni yang tak pernah berhenti mengalun. Di sinilah, di bawah atap yang selalu hangat oleh aroma masakan Bunda Laras dan tawa rendah Papa Aldo, tujuh nyawa tumbuh dengan limpah...
