Prolog

223 18 0
                                        

Asap mengepul di udara, sebuah benda yang mengandung nikotin terselip di antara jari telunjuk dan tengah. Ruangan itu gelap. Cahaya dari sang rembulan, yang menjadi satu-satunya cahaya penerang. Sosok pria duduk di kursi kebesarannya, menatap rembulan melalui kaca besar yang berdiri kokoh.

Suara langkah kaki perlahan mendekat, tanpa membuat sosok itu bergeser sedikitpun dari tempatnya. Bau anyir dari darah langsung menusuk ke pancra indranya, ketika seseorang masuk dengan pakaian yang berlumur dengan darah.

Seorang bayi berada digendongan orang itu, bayi itu tertidur lelap, napasnya teratur, seakan-akan tidak terusik dengan pakainya yang penuh akan darah.

"Saya berhasil, tuan." Orang itu menunduk, walau sosok yang di panggil dengan sebutan 'tuan' itu tidak berhadapan dengannya. Rasa takut masih terekam jelas di dirinya.

Pria itu menghisap kembali benda yang berbahan nikotin itu, asap kembali mengepul di udara. "Jauhkan dari jangkauan mereka. Dan jangan sampai anak itu kembali."

"Baik, tuan."

Setelah mengatakan itu, orang itu langsung keluar dari ruangan itu. Menyisakan kembali sosok pria yang masih tidak bergeming dari tempat asalnya.

Sorot mata pria itu, menatap penuh akan kepuasan. Bibirnya membentuk sebuah senyum tipis, menampakkan kepuasan dan kemenangan untuknya.

"Tunggu lah kehancuran kalian secara perlahan-lahan, Willson!"

DevanStories to obsess over. Discover now