1. KEPAKAN YANG TERLARANG

37 2 2
                                        

Tahun 2105. Di Neo-Lumina, waktu adalah angka yang tidak memiliki rasa. Jam digital di pergelangan tangan Ren menunjukkan pukul 02:00 pagi. Namun di luar sana, dunia bersinar secerah tengah hari. The Great Mirror, mahakarya ego manusia di orbit bumi memantulkan cahaya matahari dengan sempurna, menghapus konsep malam dari kamus peradaban.

Matahari tidak pernah benar-benar tenggelam di Kota Neo-Lumina. Di atas langit yang seharusnya kelam, The Great Mirror - rangkaian cermin raksasa berukuran ribuan kilometer yang mengorbit bumi memantulkan cahaya matahari dengan presisi yang memuakkan. Mengubah malam menjadi siang abadi yang pucat steril. 

Cermin itu memantulkan cahaya matahari tanpa henti, memastikan setiap sudut kota tetap terang benderang. Bagi pemerintah, kegelapan adalah pemborosan dan cahaya adalah produktivitas. Bagi Ren, itu adalah akhir dari privasi. Cahaya itu adalah rantai yang membelit lehernya. Di kota ini, bayangan adalah barang ilegal.

Ren menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya. Di bawah lampu neon yang berdengung di bengkel bawah tanahnya, ia merasa seperti di bawah mikroskop. Ren memicingkan mata, menyesuaikan fokus lensa pelindung yang ia kenakan. Di hadapannya, berserakan bangkai-bangkai mekanis seperti chip saraf yang hangus, kabel serat optik yang terburai, dan impian-impian yang gagal. Sebagai teknisi chip ilegal, Ren hidup dari sisa-sisa kemajuan yang dibuang oleh Sektor Inti.

"Produktivitas adalah pengabdian," gumam Ren, menirukan slogan propaganda yang setiap jam menggema dari pengeras suara kota. "Tapi siapa yang bisa mengabdi jika mereka tidak pernah bermimpi ?"

Tangannya yang cekatan meraih sebuah objek yang baru saja ia temukan di tumpukan limbah Sektor Industri siang tadi. Di atas meja kerja yang berantakan dengan kabel fiber optik, tergeletak sebuah objek yang tampak mustahil. Seekor kupu-kupu mekanik kuno dengan sayap yang terpatri kaku. Itu adalah sebuah robot kecil berbentuk kupu-kupu. Fisiknya usang, sayap logamnya yang tipis tertutup debu tembaga, sangat kontras dengan desain minimalis dan bersih milik The Hegemony. Ini adalah artefak kuno, sisa dari era sebelum siang abadi dimulai.

Ren menghubungkan kabel sensor ke port kecil di bawah perut robot itu. "Mari kita lihat apa yang kau sembunyikan, kawan kecil."

Layar monitor tua di depan Ren berkedip. Barisan kode mulai mengalir, tetapi tidak seperti kode standar yang biasa ia retas. Ini bukan bahasa pemrograman modern. Ini lebih organik, lebih... puitis.

Tiba-tiba, sebuah jendela peringatan merah menyala di sudut layar :


[WARNING : ECRYPTED LAYER DETECTED. HIGH-LEVEL CLASSIFICATION.]


Jantung Ren berdegup kencang. Ia mencoba menembus enkripsi tersebut dengan perangkat bypass buatannya sendiri. Saat lapisan terakhir terbuka, sebuah baris kode tunggal muncul dan bersinar dengan warna biru pucat di tengah kepungan cahaya putih yang membosankan di ruangannya.


PROJECT : MOONLIGHT BUTTERFLY

Status : Dormant

Trigger : True Lunar Spectrum Required


"Moonlight Butterfly ?" Ren berbisik. Nama itu terasa asing di lidahnya.

Seketika, robot kupu-kupu di tangannya bergetar. Sayapnya yang kaku mulai mengepak pelan, memancarkan pendaran cahaya yang belum pernah Ren lihat sebelumnya. Bukan cahaya tajam dan menyakitkan seperti dari The Great Mirror, melainkan cahaya yang lembut, tenang, dan dalam. Seperti ingatan tentang air di tengah padang pasir.

KODE RAHASIA : MOONLIGHT BUTTERFLYStories to obsess over. Discover now