Rumah

6 0 0
                                        

Rumah itu selalu tampak rapi, bersih, dan tidak memberi ruang bagi kekacauan. Tidak ada barang berserakan, tidak ada suara televisi terlalu keras, tidak ada pertengkaran. Namun justru karena itulah Nayara sering merasa asing di dalamnya, seperti hidup di tempat yang tidak pernah benar-benar ia miliki.

Pagi datang tanpa sapaan. Jam weker berbunyi menunjukkan waktunya bangun dari tempat ternyaman itu, Nayara bangun, dan ibunya sudah tidak ada. Di meja makan tersaji roti panggang dan segelas susu yang dibiarkan mendingin. Di sampingnya, selembar kertas kecil dengan tulisan yang nyaris selalu sama.

Sarapan dulu. Jangan lupa kunci pintu. Pulang jangan larut malam.

Nayara membaca pesan itu sambil berdiri. Ia tidak duduk, tidak benar-benar makan. Ia tahu ibunya menulis itu karena peduli, tapi kepedulian yang tak pernah punya waktu untuk mendengar jawaban.

Bapaknya ada di ruang tamu. Berita pagi mengalun pelan dari televisi. Nayara memperlambat langkahnya ketika melihat sosok itu. Bapaknya duduk di kursi seperti biasa punggung lurus, wajah tenang, tangan terlipat di atas paha. Tidak ada ekspresi lelah, tidak ada senyum, hanya ketenangan yang terasa jauh.

Entah sejak kapan pria itu pulang.

Terakhir kali Nayara benar-benar melihatnya adalah seminggu yang lalu, saat ia berangkat kerja sebelum subuh dan pulang ketika semua orang sudah tertidur. 

Nayara melintas di hadapannya, menunggu sebuah kalimat keluar dari mulut bapaknya, entah apa mungkin sapaan, mungkin pertanyaan.

"Nay," panggilnya.

Nayara berhenti. "Iya, pak?"

"Nilai matematika kamu kemarin berapa?"

"Delapan puluh delapan."

"Lumayan bagus. Pertahankan."

Hanya itu. Bapakunya kembali menatap layar. Nayara mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya. Di rumah ini, percakapan selalu selesai sebelum sempat dimulai.

Ia berangkat dengan langkah teratur, membawa tas yang berat dan perasaan yang lebih berat lagi. Di luar, udara pagi terasa hidup. Orang-orang berbincang, motor berlalu-lalang, dan suara dunia terdengar nyata. Nayara selalu merasa lebih bernapas di luar rumah.

Sekolah menyambutnya dengan bunyi bel dan lorong-lorong yang ramai. Ia kembali mengenakan topeng yang sama siswi rapi, sopan, dan tak pernah bermasalah. Guru-guru menyukainya karena Nayara tidak pernah menyulitkan.

Di kelas, Nayara duduk di bangku belakang bersama Kayla dan Ibot. Kayla menoleh, menyenggol lengannya pelan.

"Kamu kelihatan pucat. Kenapa?" tanyanya sambil tersenyum.

"Kurang tidur," jawab Nayara setengah jujur.

Ibot tertawa kecil. "Kamu tuh kebanyakan mikir. Santai dikit lah, Nay."

Nayara tersenyum. Bersama mereka, ia tidak harus menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan. 

Saat jam istirahat, Sela duduk di samping Nayara. Tidak langsung bicara, hanya membuka bekalnya dengan tenang. 

"Kamu habis nangis, ya?" katanya pelan, nyaris berbisik.

Nayara terkejut. "Enggak."

Sela menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. "Kalau suatu hari kamu pengin cerita, aku ada."

Nayara menunduk. Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Ia tidak tahu bagaimana cara bercerita. Tidak pernah diajari.

Jam pulang sekolah selalu menjadi waktu yang paling membingungkan. Langkah kaki siswa-siswi berhamburan keluar gerbang, masing-masing menuju rumahnya. Nayara berhenti sejenak, memandangi ponselnya yang tidak berbunyi.

Kayla merangkul bahunya. "Ikut, yuk. Ke kafe yang kemarin."

Nayara ragu. "Aku harus pulang."

"Sebentar aja," bujuk Kayla. "Biar nggak pengap."

Ibot menimpali, "Kita nggak ngapa-ngapain, sumpah."

Nayara tahu itu bukan sekadar soal kafe. Ini soal menunda pulang ke rumah yang sunyi. Ia mengangguk pelan.

Kafe kecil itu terasa hangat. Musik pelan, tawa yang bersahutan, dan obrolan yang tidak menuntut apa pun. Nayara duduk mendengarkan, sesekali tertawa, sesekali diam. Di sana, ia tidak perlu menjadi anak baik.

Ponselnya bergetar di atas meja. Nama ibunya muncul.

Sudah di rumah?

Nayara menatap layar itu lama. Kayla meliriknya. "Dari rumah?"

Nayara mengangguk.

"Jawab aja," kata Kayla santai. "Nanti juga aman."

Jari Nayara bergerak pelan. Iya.

Satu kata. Satu kebohongan kecil. Anehnya, dadanya tidak terasa sesak. Justru ada perasaan lega yang asing.

Malam datang tanpa disadari. Nayara pulang ketika lampu-lampu rumah sudah menyala. Bapaknya belum tidur ia masih di ruang tamu.

"Kok pulangnya malam?" tanyanya.

"Nugas kelompok," jawab Nayara, kebohongan yang terasa semakin mudah.

Bapaknya mengangguk. "Jangan keseringan."

"Iya."

Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada keinginan untuk tahu lebih jauh.

Di kamar, Nayara duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang sunyi. Ia memikirkan Sela yang ingin mendengar, Kayla yang mengajaknya pergi, Ibot yang selalu bercanda. Lalu ia memikirkan rumahnya tempat ia tinggal, tapi tak pernah benar-benar pulang.

Malam itu, Nayara menyadari sesuatu yang membuatnya takut, ia mulai merasa lebih jujur di luar rumah daripada di dalamnya.

To już koniec opublikowanych części.

⏰ Ostatnio Aktualizowane: Mar 31 ⏰

Dodaj to dzieło do Biblioteki, aby dostawać powiadomienia o nowych częściach!

LingkarOpowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz