Kehidupan kelas 12 dimulai, di mana seluruh siswa sudah fokus pada tujuan mereka dan berambisi besar mencapai mimpi yang sudah mereka tentukan. Begitu juga dengan dua gadis yang baru saja menempati kelas baru mereka.
"Harun, seneng deh kita sekelas lagi," ucap gadis itu sambil menatap sang pemilik nama.
"Iya, Tias. Gue juga seneng, tau. Nggak perlu repot nyari teman lagi," balas gadis itu sambil tersenyum.
"Eh, Bu Yuni tuh!" ucap seorang siswa, membuat seluruh murid di kelas itu berlarian ke tempat duduk masing masing dan menatap kedatangan wali kelas baru itu.
"Perhatian ya, anak-anak! Semua sudah kenal Ibu, kan? Bu Yuni yang paling cantik di SMA Garuda ini akan menjadi wali kelas kalian!” ujar wanita itu penuh percaya diri. “Ibu yakin kelas 12 B ini pasti bisa membanggakan Ibu! Jadi, Ibu ada tugas untuk kalian. Kalian akan Ibu bagi berpasangan, dan setiap pasangan harus menyiapkan barang dari bahan tak terpakai untuk dijadikan hiasan kelas. Deadline-nya akhir bulan ini. Dan Ibu yakin sekali kalian semua pasti mengerjakan tugas ini! Semangat dua belas B!"
"Baik, Ibu permisi dulu."
Semua siswa bertepuk tangan mendengar ucapan Bu Yuni. Namun, ketika Bu Yuni keluar, seluruh siswa panik dan mulai mengoceh. Banyak yang tidak terima Bu Yuni menjadi wali kelas mereka—termasuk Harun dan Tias.
"Serius Bu Yuni jadi wali kelas?"
"Dia galak, anjir. Dia kan guru BK juga!"
"Pokoknya mau ganti!”
"Mati kita, bos. Nggak bisa ngerokok."
"Make up gue pasti disita besok."
Ocehan semua murid membuat suasana semakin riuh. Bu Yuni adalah guru Bimbingan Konseling yang sudah mengabdi selama delapan tahun. Ia menjaga kedisiplinan dengan ketat, tetapi beberapa siswa menganggapnya berlebihan sehingga banyak yang takut padanya.
Semua ocehan terhenti ketika wali kelas itu membuat grup chat, dan mereka kaget saat mendapati diri mereka sudah masuk ke grup tanpa undangan atau tautan.
"Serius Bu Yuni ngesave kita 30 orang ini?"
"Serem banget, njir."
"Otw privasi status, ah."
"Dia kenal kita semua?"
Mereka kembali terdiam ketika Bu Yuni mengirimkan file berisi nama pasangan untuk tugas proyek.
"Anjir, gilak. Vera yang mana, woi?"
"Dono yang mana?"
"Udin Sugiono, katakan present plis?"
"Tias, Mario itu yang dekat jendela baris ketiga, kan?" tanya Harun memastikan.
"Bener. Dapet yang cakep lo, Run, tapi otaknya kosong."
"Mulut lo! Jangan ngomong gitu. Kayaknya dia rajin, tampangnya aja rapi, bersih tuh."
"Run, biar gue kasih tau. Mario tuh berandalan yang rapi dan bersih, lo perhatiin deh."
"Maksud lo?"
Tias memutar tubuh Harun agar mudah menatap Mario yang duduk lumayan jauh dari mereka.
"Lihat ya," kata Tias, dan Harun hanya berdehem.
"Berandalan yang rapi dan bersih maksud gue tuh... Rambutnya pangkasan rapi, baju rapi, dasi ada, atribut lengkap, bawa botol minum, tas isinya buku, sepatu bersih, duduk rapi."
Semua yang diucapkan Tias benar. Harun menoleh ke Tias dengan bingung.
"Terus lo bilang dia berandalan kenapa?"
YOU ARE READING
The Wrong Time for Us
Teen FictionDi tahun terakhir sekolah, hidup tidak selalu berjalan searah dengan rencana. Beberapa pertemuan terjadi tanpa sengaja, beberapa perasaan muncul tanpa diminta, dan beberapa hubungan berubah tanpa tanda. Ketika aturan baru, tugas kelompok yang rumit...
