Pukul 07.00 pagi. Langit Jakarta masih dihiasi semburat oranye, tetapi di dalam gedung sekolah ini, suhu terasa lebih dingin daripada suhu udara ibu kota.
Felicia Amanda—Cia—berjalan di koridor lantai tiga. Gadis itu tampak mencolok dengan rambut cokelat gelapnya dan langkah kaki yang terlalu ringan. Ia adalah anomali di antara siswa-siswi yang berjalan dengan kepala tertunduk, memancarkan aura polos yang kontras dengan kemewahan gedung sekolah.
"Kenapa hallway di sini belok-belok banget, sih?" Cia bergumam, logat Aussie-nya masih kental.
Ia sibuk meneliti peta lipat di tangannya, sama sekali tidak peduli dengan bisikan kagum yang menyertainya.
Ia harus segera ke ruang Kepala Sekolah, tetapi peta sialan itu tampak lebih seperti labirin.
Cia berbelok cepat di tikungan koridor OSIS. Karena terlalu fokus pada kertas lecek di tangannya, ia menabrak sesuatu.
BRAK!
Tubuh Cia terhuyung ke belakang. Ia menabrak sesuatu yang dingin, keras, dan kokoh. Tumpukan dokumen yang dibawa orang itu berserakan ke lantai, isinya adalah daftar nama-nama pelanggar aturan sekolah.
Koridor mendadak senyap. Suara sepatu yang berderap, tawa yang tertahan—semua lenyap. Semua mata menoleh ke sumber kekacauan: Cia yang duduk di lantai, dan di depannya berdiri Algardeaz Ravindra.
Algardeaz. Ketua OSIS, Kapten Basket, Putra Pemilik Sekolah, dan Raja Es. Wajahnya, yang biasanya datar, kini mengeras, rahangnya terukir tajam.
Cia sama sekali tidak takut. Ia justru kesal pada peta yang ia pegang.
"Oh my God, I am so sorry!" Cia langsung berjongkok. "Aku nggak lihat! Peta ini nyebelin banget, tahu nggak? Malah bikin aku nabrak kamu!"
Ia mulai memunguti dokumen, menyusunnya rapi.
"Punya mata dipakai," suara Alga dingin dan berat.
Cia berdiri, menyerahkan dokumen. Ia tersenyum lebar.
"Aku pakai kok! Aku cuma lagi distracted. Aku Felicia, anak baru dari Australia. Kamu tahu ruang Kepala Sekolah di mana, Kak? Aku tersesat."
Alga tidak menjawab, hanya menatapnya lama. Tatapan dinginnya bisa membekukan air, tetapi mata Cia membalasnya dengan binar yang murni, seolah melihat Alga hanyalah tiang listrik yang rude.
"Minggir," perintah Alga.
Cia refleks mundur.
Alga berjalan melewatinya.
"Ih, rude banget," gumam Cia pelan.
Langkah Alga terhenti. Ia menoleh sedikit, menatap Cia dengan sorot tajam AEROZ nya.
"SMA Garuda bukan arena bermain.
Jangan ganggu urusan gue," ancamnya dingin. "Atau gue pastikan hari-hari lo di sini nggak akan tenang."
•Ω•
Di kelasnya, Cia langsung ditarik oleh Mora dan Luna.
"CI! Lo gila!" Mora histeris, wajahnya pucat. "Lo baru aja flirting sama setan yang paling ditakuti di sekolah ini! Dia itu Algardeaz, Ketua Geng AEROZ!"
Cia hanya mengangguk-angguk. "Tapi I admit, dia ganteng banget. Cuma terlalu serius," ujarnya santai.
"Kenapa semua orang takut banget sama dia, sih?"
Luna, yang biasanya tenang, kini terlihat khawatir. "Alga itu hukum di sini. Dia nggak pernah diusik. Kalau lo bikin masalah sama dia, lo bikin masalah sama semua orang."
"Oh! Jadi dia yang bikin peraturan.
Tapi kalau dia yang punya, he can print a new document, kan?" Cia masih polos.
Sementara Cia sedang 'didebriefing' oleh teman-temannya, Alga sudah duduk di ruang OSIS. Dion tertawa terbahak-bahak.
YOU ARE READING
ALGARDEAZ
Teen Fiction♪~IG AUTHOR: @insacaq ♪~IG:@only_velca ♦::::::::::::::::::::::::::♥:::::::::::::::::::::::::::♦ Algardeaz Ravindra adalah tirani yang dingin. Di SMA Garuda, ia adalah hukum tak tertulis: Ketua OSIS, Kapten Basket, Putra pemilik sekolah, dan Ketua Ge...
