Zhonghua Elite High School berdiri megah di tengah kota Beijing, dikelilingi bangunan tinggi dan jalanan yang tak pernah sepi. Sekolah itu terkenal sebagai tempat berkumpulnya anak-anak konglomerat, keluarga terkenal, hingga pewaris bisnis besar. Namun di balik segala kemewahan, kehidupan para siswanya tidak jauh berbeda dengan remaja lain—penuh dinamika, persaingan, dan rahasia kecil.
Dan di lantai tiga gedung utama, ada satu kelas yang selalu menjadi bahan pembicaraan: kelas 12 C. Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi setiap harinya. Satu hal yang pasti, kelas itu tidak pernah benar-benar tenang.
Pagi itu, Lenxa Yan sudah berada di kelas lebih awal. Sebagai ketua kelas, ia merasa bertanggung jawab menjaga keteraturan meski ia sendiri tahu bahwa itu hampir mustahil. Ia menata daftar piket di meja depan sambil menghela napas panjang. Baru saja ia hendak duduk, pintu kelas tiba-tiba terbuka keras.
Emmett Yun masuk dengan langkah santai. Sikapnya yang di luar kelas terkenal berandalan sama sekali tidak ia tunjukkan di hadapan Lenxa. Justru di kelas, ia terlihat lebih jinak.
"Pagi, ketua," ucap Emmett.
"Emmett... bisa nggak sih buka pintu yang normal?" tanya Lenxa tanpa kekagetan.
"Reflek," jawab Emmett singkat lalu duduk.
Tak lama kemudian, Vani Jiang datang dengan sedikit tergesa, wajahnya menunjukkan kecemasan.
"Aku terlambat nggak? Mama nyuruh aku ikut briefing dulu," katanya.
"Kamu hanya terlambat dua menit," jawab Lenxa tenang.
"Itu udah dianggap dosa besar di rumah," gumam Vani sebelum duduk rapi.
Beberapa murid tertawa kecil, namun suasana berubah saat seorang siswi melangkah masuk dengan percaya diri sambil membawa bubble tea. Sean Xin menebarkan senyum santai yang langsung membuat perhatian orang-orang tertuju padanya.
"Pagi, semuanya~"
Para siswa otomatis memberi ruang ketika Sean melewati lorong bangku. Aura yang ia bawa membuat siapa pun ragu untuk mengganggunya.
Emmett menoleh. "Sean, kamu beli bubble tea dua? Buat aku?"
"Kamu pikir aku tukang gofood?" sindir Sean tanpa berhenti berjalan.
"Bisa jadi," gumam Emmett santai.
Tak lama, Pinky Shu langsung merangkul lengan Sean.
"Sean! Rambut kamu cute banget hari ini! Ajari aku dong biar imut kayak kamu."
"Pinky... kamu itu imut kok, cuma—"
"Kamu mau ngejelekin aku ya?" Pinky mendelik panik.
Sean hanya tertawa tipis.
Suasana makin ramai ketika dua saudara kembar masuk: Erzhan Gi dengan ekspresi datar yang berwibawa, dan Gevan Gi yang lebih santai dengan senyum kecilnya.
"Pagi," ucap Erzhan singkat sambil duduk.
"Ada drama pagi ini?" tanya Gevan sambil melihat sekeliling.
"Belum," jawab Emmett. "Biasanya muncul pas Zaedyn datang."
Seakan dipanggil, Zaedyn Han masuk dengan buku tebal di tangan, wajah serius, dan kacamata bulat yang membuatnya terlihat seperti kutu buku tampan.
"Aku nggak ada drama," katanya datar.
"Belum," sahut Gevan cepat.
Zaedyn hanya menghela napas.
Tak lama setelah itu, Yuno Han masuk sambil menguap, diikuti dua saudara kembar lainnya, Yura Lim dan Demian Lim. Yura terlihat tegas seperti biasa, sedangkan Demian tersenyum tengil.
YOU ARE READING
DIARY CLASS
Teen Fiction"Diary Class" menceritakan kehidupan sehari-hari kelas 12 yang isinya anak-anak kaya, konglomerat, dan populer, tapi dengan sifat yang sangat beragam, ada yang berandalan, ada yang baik, ada yang cerewet, sampai yang super kalem.
