Keysia Lunara, siswi kelas 12, mencengkeram kain sweater abu-abunya, menyandarkan dahi ke permukaan dingin kaca jendela Ruang Musik. Ia baru saja mengalami insiden kecil dengan guru Matematika di koridor, dan bentakan itu cukup untuk memicu serangan kecemasan yang ia sembunyikan.
Aku tidak seharusnya di sini. Aku seharusnya berada di rumah, di balik selimut.
Ruang Musik yang sepi ini, dengan piano tua di tengahnya, adalah satu-satunya tempat ia merasa aman di Moonveil Academy. Ia membiarkan jemarinya menuliskan emosi yang tak mampu ia ucapkan di buku catatannya.
Berharap boleh, bermimpi jangan...
Keysia mengangkat pandangannya ke koridor luar. Di dekat papan pengumuman OSIS, berdiri sosok yang membuat moto itu terasa makin menyakitkan: Freyl Levian, Adik Kelasnya yang juga Anggota OSIS.
Freyl, siswi kelas 11, sedang tertawa, kepalanya sedikit miring saat berbicara dengan wakil ketua OSIS (yang mungkin adalah teman sekelas Keysia). Posturnya yang tegak, seragamnya yang selalu rapi, dan medali Olimpiade yang menghiasi portofolio sekolah membuatnya tampak bersinar. Ia terlalu sempurna, terlalu baik, dan terlalu... friendly. Freyl bersikap ramah kepada semua orang.
"Dia terlalu baik. Terlalu sempurna. Apalagi dia Adik Kelas. Bagaimana jika aku merusaknya?" bisik Keysia, teringat statusnya yang 'senior' dan masa lalu 'iseng'nya. Freyl adalah cinta pertamanya yang sejati, dan ketakutannya sekarang adalah menyakiti Adik Kelas yang begitu murni itu.
Tiba-tiba, Freyl berbalik.
Freyl sejenak terdiam, melihat Keysia melalui panel kaca pintu. Kemudian, senyum ramah khasnya terbit. Ia mengangkat tangannya sedikit ke udara, melambaikan sapaan kecil.
"Kak Keysia?" suaranya sedikit meninggi, memanggil dari luar pintu. "Lagi sendirian di sini?"
Keysia memaksakan seulas senyum kaku.
"Iya," jawab Keysia, suaranya sedikit tercekik. "Hanya mencari ketenangan sebentar."
Freyl membuka pintu Ruang Musik sedikit.
"Kakak baik-baik saja?" tanyanya lembut. Freyl memang dikenal perhatian. "Aku lihat tadi di koridor. Guru Pak Wira tadi kelihatannya sedang kesal, ya?"
Keysia merasa pipinya memanas. "Aku... sudah baik," Keysia menunjuk piano. "Hanya perlu bermain sebentar. Sedikit suntuk dengan tugas sekolah."
Freyl mengangguk mengerti, tetapi matanya yang cemerlang masih menatap Keysia.
"Syukurlah kalau begitu, Kak," kata Freyl, kembali ceria. "Oh iya, kebetulan aku lewat. Hari ini ada rapat OSIS, tapi aku ada titipan dari Bu Risa untuk Kakak."
Freyl melangkah masuk dan menyodorkan sebuah buku notasi piano tebal bersampul kulit merah marun.
"Ini buku notasi piano milik Kakak. Kakak meninggalkannya di coffee shop kemarin. Aku menemukannya saat patroli sore."
"Astaga, aku—aku lupa," Keysia mengambil buku itu, merasakan kehangatan yang ditinggalkan tangan Freyl. "Terima kasih banyak, Freyl. Aku tidak tahu bagaimana jika sampai hilang."
"Tidak masalah, Kak Keysia." Freyl tersenyum, "Tapi, lain kali lebih hati-hati, ya. Kakak selalu terlihat sedikit... melamun. Oh, dan jangan lupa, di Moonveil, peraturan adalah peraturan. Ruang Musik ini bukan ruang pribadi," candanya sambil mengedipkan mata, mengingatkan Keysia secara halus tentang status Freyl sebagai OSIS dan aturan sekolah.
Peringatan lembut dari Adik Kelas sekaligus penegak aturan itu menghantam Keysia.
"Tentu," jawab Keysia, suaranya kembali dingin. "Aku janji akan lebih fokus. Terima kasih untuk bukunya."
"Baiklah. Aku harus bergegas ke ruang rapat sekarang. Sampai jumpa besok, Kak Keysia."
Keysia menunggu sampai Freyl menghilang dari koridor. Begitu kepergiannya terasa nyata, Keysia jatuh terduduk di bangku piano, memeluk buku notasi miliknya.
Dia terlalu tinggi untuk kura-kura sepertiku.Apalagi dia adalah Adik Kelas yang harusnya aku lindungi. Berharap boleh,bermimpi jangan
Keysia Lunara, siswi kelas 12, mencengkeram kain sweater abu-abunya, menyandarkan dahi ke permukaan dingin kaca jendela Ruang Musik. Ia baru saja mengalami insiden kecil dengan guru Matematika di koridor, dan bentakan itu cukup untuk memicu serangan kecemasan yang ia sembunyikan.
Aku tidak seharusnya di sini. Aku seharusnya berada di rumah, di balik selimut.
Ruang Musik yang sepi ini, dengan piano tua di tengahnya, adalah satu-satunya tempat ia merasa aman di Moonveil Academy. Ia membiarkan jemarinya menuliskan emosi yang tak mampu ia ucapkan di buku catatannya.
Berharap boleh, bermimpi jangan...
Keysia mengangkat pandangannya ke koridor luar. Di dekat papan pengumuman OSIS, berdiri sosok yang membuat moto itu terasa makin menyakitkan: Freyl Levian, Adik Kelasnya yang juga Anggota OSIS.
Freyl, siswi kelas 11, sedang tertawa, kepalanya sedikit miring saat berbicara dengan wakil ketua OSIS (yang mungkin adalah teman sekelas Keysia). Posturnya yang tegak, seragamnya yang selalu rapi, dan medali Olimpiade yang menghiasi portofolio sekolah membuatnya tampak bersinar. Ia terlalu sempurna, terlalu baik, dan terlalu... friendly. Freyl bersikap ramah kepada semua orang.
"Dia terlalu baik. Terlalu sempurna. Apalagi dia Adik Kelas. Bagaimana jika aku merusaknya?" bisik Keysia, teringat statusnya yang 'senior' dan masa lalu 'iseng'nya. Freyl adalah cinta pertamanya yang sejati, dan ketakutannya sekarang adalah menyakiti Adik Kelas yang begitu murni itu.
Tiba-tiba, Freyl berbalik.
Freyl sejenak terdiam, melihat Keysia melalui panel kaca pintu. Kemudian, senyum ramah khasnya terbit. Ia mengangkat tangannya sedikit ke udara, melambaikan sapaan kecil.
"Kak Keysia?" suaranya sedikit meninggi, memanggil dari luar pintu. "Lagi sendirian di sini?"
Keysia memaksakan seulas senyum kaku.
"Iya," jawab Keysia, suaranya sedikit tercekik. "Hanya mencari ketenangan sebentar."
Freyl membuka pintu Ruang Musik sedikit.
"Kakak baik-baik saja?" tanyanya lembut. Freyl memang dikenal perhatian. "Aku lihat tadi di koridor. Guru Pak Wira tadi kelihatannya sedang kesal, ya?"
Keysia merasa pipinya memanas. "Aku... sudah baik," Keysia menunjuk piano. "Hanya perlu bermain sebentar. Sedikit suntuk dengan tugas sekolah."
Freyl mengangguk mengerti, tetapi matanya yang cemerlang masih menatap Keysia.
"Syukurlah kalau begitu, Kak," kata Freyl, kembali ceria. "Oh iya, kebetulan aku lewat. Hari ini ada rapat OSIS, tapi aku ada titipan dari Bu Risa untuk Kakak."
Freyl melangkah masuk dan menyodorkan sebuah buku notasi piano tebal bersampul kulit merah marun.
"Ini buku notasi piano milik Kakak. Kakak meninggalkannya di coffee shop kemarin. Aku menemukannya saat patroli sore."
"Astaga, aku—aku lupa," Keysia mengambil buku itu, merasakan kehangatan yang ditinggalkan tangan Freyl. "Terima kasih banyak, Freyl. Aku tidak tahu bagaimana jika sampai hilang."
"Tidak masalah, Kak Keysia." Freyl tersenyum, "Tapi, lain kali lebih hati-hati, ya. Kakak selalu terlihat sedikit... melamun. Oh, dan jangan lupa, di Moonveil, peraturan adalah peraturan. Ruang Musik ini bukan ruang pribadi," candanya sambil mengedipkan mata, mengingatkan Keysia secara halus tentang status Freyl sebagai OSIS dan aturan sekolah.
Peringatan lembut dari Adik Kelas sekaligus penegak aturan itu menghantam Keysia.
"Tentu," jawab Keysia, suaranya kembali dingin. "Aku janji akan lebih fokus. Terima kasih untuk bukunya."
"Baiklah. Aku harus bergegas ke ruang rapat sekarang. Sampai jumpa besok, Kak Keysia."
Keysia menunggu sampai Freyl menghilang dari koridor. Begitu kepergiannya terasa nyata, Keysia jatuh terduduk di bangku piano, memeluk buku notasi miliknya.
Dia terlalu tinggi untuk kura-kura sepertiku.Apalagi dia adalah Adik Kelas yang harusnya aku lindungi. Berharap boleh,bermimpi jangan
