Malam selalu membawa seseorang kembali pada hal-hal yang ingin ia lupakan. Begitu pula bagi Nara. Setiap kali bulan menggantung penuh di langit, ia teringat pada satu nama yang dulu ia jaga seperti doa yang tak pernah selesai diucapkan—Ara.
Mereka berjanji sejak SMP. Janji yang terdengar sederhana, tapi bagi Nara adalah sesuatu yang ia genggam seperti nafas: mereka tidak akan memilih siapa pun selain satu sama lain, meski tak pernah berani menyebut diri sebagai sepasang kekasih. Bukan cinta yang berikatan, tapi juga bukan teman yang biasa. Sebuah wilayah abu-abu yang hanya mereka pahami.
Namun waktu tak pernah menunggu siapa pun. Ketika SMA memisahkan langkah mereka, jarak perlahan menggerogoti janji itu. Hingga suatu sore, Nara mendengar kabar bahwa Ara telah memilih orang lain, seorang laki-laki yang bahkan tak pernah tahu bagaimana Ara tersenyum saat gugup, atau bagaimana ia selalu menyembunyikan ketakutannya pada kesunyian.
Bagi Nara, kabar itu bukan sekadar patah hati. Itu adalah akhir dari keyakinan yang selama ini ia jaga: bahwa janji bisa dipegang, dan cinta tidak selalu harus dimiliki untuk tetap setia.
Sejak hari itu, Nara mulai percaya bahwa beberapa orang hanya datang untuk mengajarkan cara kehilangan... bahkan sebelum sempat dimiliki.
Ini cerita pertama aku maaf kalau kalimat atau alurnya kacau maklum kurang pandai dalam merangkai kata hehehe
jangang lupa vote!!!!!!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNAR
Teen FictionBeberapa janji tidak pernah patah-mereka hanya berubah menjadi luka yang diam. - Nara Rastu
