PROLOG

57 15 54
                                        

Alfiana...

Aku ingin bercerita tentang hariku dan putri kita, atau mungkin mengulang kembali saat-saat bersamamu.

Sekarang ini—subuh. Pukul empat seperempat. Aku bangun seorang diri dan meninggalkan rumah dalam keadaan sepi. Ya, rumah kita memang seperti ini sekarang. Hanya ada aku dan putri kecil kita yang masih tertidur pulas di ranjangnya.

Udara pagi yang aku hirup masih terbebas dari polusi. Suara bising laju kendaraan masihlah tak seriuh beberapa jam mendatang. Aroma lembut tanah basah seolah menyiratkan bagaimana hujan turun semalam.

Aku berjalan sendiri, menuju tempat paling ramai di jam-jam seperti saat ini. Banyak orang yang berbondong-bondong pergi ke sana, seperti halnya aku. Seperti yang pernah kamu katakan dulu, “tidak ada tempat untuk laki-laki beribadah kecuali di masjid”. Dan di sinilah aku.

Tak lama. Cukup singkat saja. Setelahnya aku segera bergegas kembali ke rumah, karena aku tak tahu kapan putri kita akan bangun dan menangis saat mendapati aku tidak ada di kamar maupun di dapur.

Bagaimanapun juga, selama masih berada di bumi, setiap yang datang pasti akan pergi. Entah itu cepat ataupun lambat. Namun selambat apa pun itu, ia tetaplah waktu yang singkat.

Saat aku kembali ke rumah. Aku masih saja terbiasa mengetuk pintu, padahal sudah lima tahun berlalu. Aku pun masih mengucapkan salam yang kutahu tak akan ada yang memberikan jawaban.

Saat aku membuka pintu bercat kuning bilik putri kita, aku mendapati ia masih tertidur nyenyak, entah apa yang dimimpikannya.

“Saniii... yuk bangun sayang, salat subuh dulu!”

“Baba, Sani masih ngantuk...”

Begitulah, Ana. Tidak mudah membangunkan putri kita. Bukan karena ia yang sulit, melainkan aku yang tak tega. Apalagi saat mendengar suaranya yang masih parau. Mana sanggup aku membangunkannya jika tak memaksakan diri. Namun, bagaimanapun juga tetap harus aku lakukan.

Di benakku, kamu yang mengandung dan melahirkannya saja tak pernah mengeluh barang sekalipun, tidak lucu jika aku menggerutu hanya karena hal seremeh ini.

Andai saja kamu ada di sini, Ana. Pasti semuanya akan jauh lebih mudah.

Maaf, Ana, sepertinya aku terlalu banyak mengeluh kepadamu. Semestinya kamu di sana tak perlu lagi mencemaskan kami. Untuk ke depannya cukup awasi kami saja. Kami akan baik-baik saja. Kamu bisa percayakan semuanya kepadaku di sini. Sambut aku saat waktunya tiba, Ana.

Setelah Sani bangun, ia bergegas berwudu dan salat sendiri dengan mandiri. Dia putri yang hebat. Di saat yang bersamaan aku menyiapkan hidangan sarapan kita pagi ini.

“Baba, Babaaa... Sani hari ini ulang tahun! Mau kado, bolehhh?” ujarnya setelah berlari mendekatiku.

Kamu bisa melihatnya, bukan? Gadis mungil itu begitu dekat denganku. Bahkan ia berlari hanya untuk meminta sesuatu padaku, sampai lupa mukenanya belum ia lepaskan. Ia pun menarik-narik celanaku, hanya untuk mendapatkan perhatian.

“Baiklah, ini hadiah untuk putri Baba,” balasku dengan berlutut dan memberikan pelukan untuknya.

“Setelah sarapan kita ke tempat Bunda ya sayang.”

“Yeyyy... ke tempat Bundaaa...” sorak Sani dan berlari langsung ke meja makan.

Putri kita sudah tahu, Ana. Ia tahu bahwa hari kelahirannya adalah hari yang sama kamu meninggalkan kami berdua. Tentu awalnya ia bertanya dan bersedih atas ketidakhadiranmu. Namun putri kita jauh lebih hebat dari itu. Sebagaimana kini, kelahiran adalah perayaan baginya. Perayaan atas berhasilnya kamu mempertemukannya denganku.

Kami menyantap sarapan ala kadarnya. Tak seenak buatanmu memang. Namun setidaknya aku bisa menyiapkan makan untuk putri kita tanpa merepotkan siapa pun. Sani masih makan dengan sedikit berantakan, tapi ia menghabiskan semua yang ada di piringnya. Ia tak pilih-pilih makanan, kamu tak perlu khawatir.

“Baba... Sani mau mandi. Baba juga ya, Baba..” ia menuruni kursi makan yang cukup tinggi dengan hati-hati lalu berlari ke kamarnya.

Aku merapikan tempat yang berantakan usai memasak, menyapu lantai rumah, dan merapikan buku-buku yang berserakan. Kamu pasti akan kesal dengan buku-buku yang tak pada tempatnya seperti sekarang ini. Iya Ana, sekarang aku sudah lepas dari kantor seperti yang kamu harapkan dan bekerja dari rumah saja.

Sebuah kebaikan Allah yang sangat luar biasa, memberiku pekerjaan yang sesuai dengan keadaanku sekarang, meskipun pada mulanya sangat aneh dan berat. Kamu yang gemar membaca, kini aku yang bergelut dengan buku-buku. Aku kini bekerja sebagai penerjemah buku, pekerjaan yang mestinya erat dengan dirimu.

“Baba...”

“Sani sudah siap,” kejutnya yang mengenakan pakaian dengan amat tak rapi.

“Sebentar, Baba rapikan baju Sani ya. Biar Bunda senang melihatnya.”

“Jadi Baba rapi karena Bunda?” begitu tanya polos putrimu, Ana.

Aku rindu kamu, perempuan tempatku berpulang, Alfiana.

Sebelum Peluk Itu Ada [TERBIT]Stories to obsess over. Discover now