Nathaniel Alexander, anak konglomerat yang sedang naik daun, dikenal arogan, bengal, dan akrab dengan dunia malam. Di sekolah, hidupnya tanpa aturan perundungan dan keributan sudah jadi hal biasa. Uang bisa menutup sengakanya termasuk mulut hingga n...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Panti Asuhan Madam Cho dikenal sebagai tempat amal. Bangunannya megah, bersih, dan selalu harum. Donatur datang dengan senyum, kamera menyala, dan pidato tentang masa depan anak-anak terlantar.
Tidak ada yang bertanya apa yang terjadi setelah pintu tertutup.
Bagi anak-anak yang tinggal di dalamnya, panti itu bukan rumah. Ia adalah sistem. Dan sistem tidak peduli apakah penghuninya menangis atau berteriak.
Bangunan sepuluh lantai itu berdiri seperti tubuh raksasa yang hidup. Setiap lantai memiliki fungsi. Setiap fungsi memiliki harga. Dan harga itu selalu dibayar oleh anak-anak.
Lantai pertama dipenuhi bayi. Boks-boks kecil berjejer rapi, wajah-wajah mungil tidur tanpa tahu mereka sudah dipilih. Lukisan pastel di dinding bukan untuk mereka, melainkan untuk mata orang dewasa yang ingin percaya bahwa tempat ini aman.
Di sinilah Madam Cho berdiri saat menerima tamu. Senyumnya lembut. Tangannya hangat. Tidak ada yang melihat tangga menuju neraka di atasnya.
Lantai kedua adalah dapur dan ruang makan. Makanan selalu tersedia. Tidak kurang. Tidak lebih. Anak-anak diajarkan sejak dini bahwa rasa kenyang hanyalah alat agar tubuh tetap bisa digunakan.
Lantai ketiga dihuni anak-anak usia tiga hingga tujuh tahun. Mereka masih menangis di malam hari. Masih memanggil ibu yang wajahnya perlahan memudar dari ingatan. Mereka belajar aturan pertama: diam adalah cara bertahan.
Lantai keempat adalah titik balik. Saat usia dua belas, anak-anak tidak lagi dihitung sebagai anak. Tubuh mereka diukur. Pikiran mereka diuji. Kesalahan kecil dicatat. Kelemahan disimpan sebagai alasan untuk membuang mereka nanti.
Di lantai ini, mereka mendapat label pertama. Bukan nama. Melainkan fungsi.
Lantai kelima dihuni mereka yang bertahan hingga tujuh belas tahun. Wajah mereka datar. Tatapan mereka kosong. Banyak dari mereka sudah lupa bagaimana rasanya takut atau peduli. Mereka tidak bermimpi. Mereka menunggu perintah.
Lantai kedelapan wilayah para suster. Perempuan-perempuan berseragam rapi dengan suara lembut dan mata tajam. Mereka tahu cara menghentikan tangis, dan cara memastikan rahasia tidak pernah keluar dari mulut siapa pun.
Lantai kesembilan milik Madam Cho. Sunyi. Mahal. Menyesakkan. Anak-anak yang dipanggil ke sini turun dengan perubahan yang sulit dijelaskan. Beberapa menjadi patuh tanpa pertanyaan. Beberapa kehilangan sesuatu di dalam dirinya-dan tidak pernah menemukannya kembali.
Lantai kesepuluh jantung bangunan itu. Ruang pelatihan.
Lantai penuh bekas luka. Dinding kaca memantulkan bayangan anak-anak yang dipaksa bertarung, berpikir, bertahan. Fisik mereka dihancurkan lalu dibangun kembali. Mental mereka ditekan hingga hanya menyisakan satu insting: taat.
Kasihan tidak diajarkan di sini. Kelelahan dianggap kelemahan. Dan kegagalan tidak punya tempat.
Sejak SMP hingga SMA, mereka disebut Anak Catur. Bidak hidup yang digerakkan oleh Alaric melalui tangan Madam Cho. Mereka tidak dipersiapkan untuk hidup. Mereka dipersiapkan untuk digunakan.
Yang tumbang akan diganti. Yang bertahan akan dikirim keluar.
Panti Asuhan Madam Cho menampung ratusan anak. Dan mengubur masa kecil mereka tanpa nisan.
Ketika akhirnya mereka "lulus", mereka memasuki dunia sebenarnya The Black Grid. Sebuah jaringan bayangan tempat manusia diperdagangkan seperti barang.
Di sana, mereka tidak lagi dipanggil dengan nama. Mereka diklasifikasikan.
Benteng. Kuda. Gajah. Ratu. Dan mereka yang tidak pernah terlihat Raja.
Di papan ini, setiap bidak punya tujuan. Dan setiap tujuan selalu menuntut korban.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.