Prolog

835 43 9
                                        

Kali pertama Theresia bertemu dengannya adalah saat kelas sepuluh. Kala itu jam pembelajaran sedang berlangsung, Theresia bersama satu temannya izin ke toilet.

Mereka berdua melewati lapangan, dimana kelas lain sedang menggunakannya untuk pengambilan nilai olahraga, basket.

Theresia berjalan santai, tak peduli akan kelas lain. Hingga satu suara mengalihkan perhatiannya.

"AWAS!!"

Theresia menoleh, sebuah bola basket mengarah padanya dengan cepat. Theresia yang tak memiliki waktu untuk menghindar harus merelakan wajahnya terkena bola, hingga dirinya terjatuh kebelakang.

Rasanya sakit.

"Maaf, kau tidak apa apa?" Seorang siswa menghampiri.

Theresia membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah manik safir yang menatap penuh khawatir padanya.

Siswa itu tanpa ragu menyentuh pipinya, memeriksa jika ada luka diwajah Theresia. "Maaf ya? Aku tidak sengaja melempar bolanya..." Siswa itu menjulurkan tangannya.

Theresia meraih tangan yang terulur padanya. Tangan itu hangat tapi hatinya lebih hangat.

Sekali lagi, siswa tersebut meminta maaf sebelum kembali memasuki lapangan.

Tanpa ia sadari, wajahnya memerah. Theresia merasa kagum pada anak itu pada pandangan pertama.

Dengan rasa penasarannya, Theresia menggunakan segala koneksi yang dia punya untuk mencari informasi mengenai siswa yang melempar bola padanya.

Siswa itu bernama Taufan, anak kedua dari tiga kembar. Theresia memang telah mengetahui jika disekolah ada murid kembar tiga, bahkan dia telah melihat bagaimana rupa Halilintar dan Gempa.

Tapi, entah mengapa, dia merasa baru pertama kali melihat Taufan. Padahal wajah mereka bertiga begitu mirip, tapi Theresia merasa ada yang berbeda.

Taufan tidak begitu mencolok seperti kedua saudaranya, dia remaja yang periang, ramah, dan suka bercanda dengan siapapun.

Theresia merasa, jika ini hanyalah sebatas kekaguman biasa saja.

Hingga saat itu, hujan lebat melanda.

Ia lupa membawa payung, sopirnya pun tak bisa dihubungi.

Disaat itulah, Taufan muncul dengan senyumannya.

"Halo." Sapanya.

Hati Theresia langsung berdegup kencang, "h-hai..."

Taufan tersenyum, dia menyerahkan sebuah payung lipat berwarna biru tua pada Theresia.

"Gunakan itu, anggap saja sebagai permintaan maaf karena telah melukai wajah cantikmu." 

Theresia terdiam, menatap Taufan yang telah pergi menjauh. Hatinya kembali menghangat, senyuman lebar terpampang diwajahnya.

Tiga kata yang dia ucapkan dalam hati, "aku harus memilikinya"

Taufan terlalu sempurna. Hanya dialah yang bisa mengisi hati Theresia yang kosong.

...

Yuna teramat menyayangi Taufan.

Sebagai murid pindahan, Taufan lah laki laki pertama yang berbicara padanya tanpa keberatan sedikitpun.

Saat tidak memiliki teman, Taufan akan datang dan mulai mengobrol dengannya.

Sungguh teman sekelas yang baik hati.

Yuna sangat suka saat melihat senyuman yang Taufan buat. Mau itu untuk orang lain atau pada dirinya.

Taufan benar benar bersinar di matanya.

Ia benar benar jatuh cinta pada remaja biru itu.

Tapi semenjak kenaikan kelas, Yuna berpisah dengan Taufan. Mereka di pisahkan di kelas yang berbeda.

Sungguh sakit hati Yuna saat kesayangannya tidak lagi dapat ia lihat setiap hari.

Karena rasa tidak terima itulah, Yuna berani melakukan hal nekat. Ia menemui orang pintar, lalu menyerahkan foto Taufan padanya.

Yuna tidak peduli jika caranya kotor dan tidak sehat. Dia hanya ingin Taufan selalu bersamanya.

Namun, caranya tidak pernah membuahkan hasil. Taufan tidak pernah meliriknya, bahkan Yuna merasa jika Taufan semakin menjauh darinya.

Awalnya Yuna ingin berhenti, dia ingin melupakan Taufan. Ada baiknya seperti itu.

Hingga di semester genap, Taufan menemuinya.

Hari itu tepatnya hari valentine.

Taufan datang, menyerahkan tiga barang coklat yang dihiasi pita.

"Buatmu. Kak Hali dapat banyak coklat, tidak mungkin aku bisa menghabiskannya. Anggap saja hadiah dari teman baik."

Itulah kata Taufan padanya, diiringi dengan senyuman yang telah lama tidak Yuna lihat.

Senyuman tulus yang mampu menggetarkan hatinya.

Apakah caranya berhasil? Atau ini hanyalah kebetulan belaka?

Mungkin coklat itu hanyalah coklat lebih yang tak mampu Taufan habiskan, tapi bagi Yuna itu sangatlah berharga.

Ia menyimpannya di dalam kotak koleksinya, sebuah koleksi yang khusus diisi dengan barang milik Taufan.

Mau itu tutup pulpen yang jatuh, helaian rambut, ataupun bungkus kue. Apapun yang Taufan miliki dahulu, akan ia simpan dengan baik.

"Sayangku memang luarbiasa..."

Yuna mengelus lembut foto milik Taufan di dinding kamarnya. Foto Taufan ada dimana mana, cukup untuk membuktikan cintanya pada remaja biru kesayangannya.

Yuna percaya, Taufan adalah orang yang ditakdirkan untuknya.

Karena itulah, Yuna tidak akan  melepaskannya dengan mudah.

Fin

































Request dari Rrr_oi and afi642003

Ini lanjutan Taufan dilamar dari oneshoot We Are.

ObsessedHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora