Halo, sebelum kamu melanjutkan untuk membaca cerita ini, perlu aku beri peringatan terlebih dahulu:
1. Ini adalah cerita Boyslove, percintaan yang terjadi antara dua orang lelaki.
2. Cerita ini bukan dari kisah nyata, murni imajinasi penulis.
3. Bahasa semi-baku dengan latar pedesaan yang tidak akan ditemukan di peta dunia.
4. Terdapat adegan dewasa untuk 21 tahun ke atas.
5. Sebelumnya sudah diposting beberapa bab, sekitar 9 bab, lalu aku tarik untuk perbaikan. Tapi jangan khawatir, mulai hari ini akan rajin update karena cerita ini sudah komplet di dalam draft. :)
Jadi, setelah membaca lima poin di atas, silakan kamu memilih untuk lanjut membaca atau berhenti sampai di sini.
Cerita ini aku tulis bukan untuk mendapat hujatan ANTI-BL, melainkan sekadar hiburan saja.
Selamat bergabung!
***
PROLOG
SUARA TEMBAKAN DAN TERIAKAN menjadi senandung yang membangunkan Wijanarka dari tidur lelapnya. Di luar sana, hujan sedang turun sangat deras. Lelaki yang baru berusia awal dua puluhan itu bergegas mengambil pistol yang tersimpan di dalam laci rahasia di dalam nakas, membuka pintu kamarnya pelan-pelan, lalu berderap ringan menuju arah tangga. Ada genangan darah di bawah sana. Wijanarka takut menerka-nerka. Deru napasnya semakin memburu saat pijakan sudah berada pada tiga anak tangga terakhir.
"Jangan serakah kamu, Aryo! Papa nggak pernah memberikan harta untuk dihambur-hamburkan demi kepuasan judi dan bermalam dengan banyak perempuan! Ingat keluarga kamu, Aryo!"
Itu suara kakeknya, terdengar berang dan bergetar, Wijanarka menurunkan pistol yang sejak tadi berada di depan dada untuk berjaga. Namun, sekali lagi suara tembakan terdengar, membuat pistol tadi kembali dinaikkan dalam posisi siaga. Teriakan dari suara putus-putus karena tangis semakin jelas menusuk pendengaran Wijanarka. Dari pantulan lemari kaca, tubuh renta kakeknya tergeletak mengeluarkan darah dari kening. Sementara Aryo, kembaran dari ayahnya, berdiri dengan pistol yang masih teracung ke bekas kakeknya berdiri. Berjarak tidak jauh dari sana, ada Arya, ayahnya yang terbaring dengan darah mengalir dari kaki, sedangkan yang menangis dengan suara putus-putus adalah ibunya, Trishania.
"Siapa lagi yang mau kamu bunuh, Mas?! Siapa?!" Trishania menjerit pilu. "Ambil semua harta yang kamu mau. Ambil! Kami nggak butuh itu semua!"
Wijanarka tidak mau mendengar lebih banyak. Dia menampakkan diri dengan pistol yang teracung pada Aryo. Namun, rupanya ada tiga orang lelaki tidak dikenal yang menemani pamannya itu. Wijanarka tidak melihat mereka dari pantulan lemari kaca. Kini ada empat pistol terarah pada Wijanarka. Genangan darah yang dia lihat dari atas tadi rupanya berasal dari salah seorang penjaga yang biasa mengawal Arya.
"Naka, kamu nggak perlu ikut campur. Om nggak mau menyakiti kamu." Aryo mengedik agar Wijanarka menurunkan pistolnya. "Karena orang tua kamu nggak mau menunjukkan letak surat-surat, maka cepat kamu bawa Om ke sana."
Wijanarka melirik Trishania yang tertunduk memeluk Arya. Ayahnya itu masih sadar, namun tampak sekarat. Lelaki itu bergeleng padanya.
"Ayo, Naka, Om janji ini nggak akan memakan waktu lama!"
Wijanarka seperti tuli. Telinganya tidak bisa mendengar apa pun. Hanya matanya yang terfokus pada Aryo dan tiga lelaki berbadan besar di belakangnya. Dalam kepalanya, dia sudah berteriak agar segera menarik pelatuk. Namun, rasanya begitu keras dan dia tidak sanggup untuk bergerak. Seperti ada yang membekukannya. Perlahan, hanya ada suara deru napasnya yang semakin berat dengan pandangan semakin buram, dan tangan yang gemetar hendak menarik pelatuk.
"Naka, cepat! Om nggak punya banyak waktu." Aryo kembali mengedikkan kepala agar dituntun ke ruang penyimpanan surat berharga.
Salah seorang penjaga hendak maju, namun suara tembakan beruntun kembali terdengar. Wijanarka jatuh terduduk, genangan darah membanjiri sekitar. Rasanya seperti tidak ada oksigen, namun dia masih berusaha mengemis udara. Ketakutan, amarah, dan merah di mana-mana; membuat Wijanarka tidak bisa bernapas dengan benar.
YOU ARE READING
Underlining You
RomanceLGBT/BXB/MXM/YAOI/LOKAL *** Wijanarka Dharendra diungsikan ke Desa Cempaka karena keadaan darurat yang terjadi di keluarga besarnya. Pertumpahan darah karena perebutan kekuasaan membuat lelaki dua puluh tiga tahun itu rela bersembunyi dari bayang-b...
