Angin menderu kencang menerpa pepohonan, membuatnya terombang-ambing. Awan hitam pekat disertai gemuruh guntur yang menggema menjadikan suasana malam itu semakin mencekam. Atmosfer penuh ketegangan seolah mengudara di sekelilingku.
Malam itu di tengah hujan lebat, aku berlari terseok-seok sembari memegangi paha kananku yang terluka. Tetesan air yang terbawa angin menyambar wajahku dengan keras seakan menusuk-nusuk seluruh tulang wajahku.
Kabut putih dimana-mana seolah berusaha menghalangi arah pandanganku. Napasku terengah-engah dan kepalaku pusing, satu tanganku menggenggam erat pistol yang berlumuran darah.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya? yang ada dipikiranku hanyalah terus berlari dan berlari, mencari jalan keluar dari hutan ini. Aku terus berlari hingga pandanganku menangkap secercah cahaya, dan berlari menghampirinya. Deru napas lega terhembus di tengah napasku yang tersengal-sengal. Toko lampu? ditengah hutan seperti ini? Aneh sekali, bukan?
Perlahan langkahku terhenti tepat di depan toko itu, sedetik kemudian kurasakan kakiku mulai lemas dan kehilangan keseimbangannya. Tubuhku ambruk, jatuh terduduk di jalanan yang basah. Tanganku mencengkeram kuat paha kananku yang terluka oleh tembakan beberapa saat lalu, tanpa kusadari celanaku yang tadinya berwarna terang kini penuh dengan noda merah.
Ingin sekali rasanya aku berteriak meminta pertolongan pada seseorang di dalam toko lampu itu, tapi aku tak kuasa melakukannya.
Kugigit lidahku berusaha menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku, perlahan pandanganku mulai kabur.
"Hei!," panggil seseorang.
Samar-samar aku mendengar seseorang berteriak memanggilku. Aku menundukkan wajahku semakin dalam sembari masih menahan rasa sakit yang kurasakan. Kini rasa nyeri seperti membalut tubuhku semakin kencang.
Tiba-tiba saja sebuah tangan hangat menangkup wajahku. Aku masih bisa melihat wajahnya walau pandanganku sangat kabur, aku sempat menduga bahwa dia adalah orang yang kukenal. Tetapi aku juga tidak yakin akan hal itu.
Sejurus kemudian pandanganku berubah menjadi cahaya putih yang sangat terang dan menyilaukan mata, dan detik itu juga—aku kehilangan kesadaranku.
*****
