CW - 1

11K 347 64
                                        

"Pa, nggak bisa gitu dong. Aku belum mau nikah, apalagi nikahnya karna perjodohan. Papa jangan gitulah Pa, ini tuh uda tahun 2025, masa' masih ada aja acara perjodohan nggak jelas begitu."

"Nggak jelas gimana? Hidup kamu tuh yang nggak jelas. Disekolahin sampe sarjana,tapi nggak bisa bantu orang tua. Disuruh lanjut S2 juga nggak mau. Sukanya party sana sini. Mau jadi apa kamu, hmm? Kamu apa nggak malu sama kedua abang kamu? Mereka dari masih kuliah sampai uda menikah, tetap bantuin Papa. Nggak pernah minta ini itu secara cuma-cuma. Semuanya mereka beli pakai gaji mereka sendiri." Ucap laki-laki paruh baya dengan raut wajah kesal.

Zean Alvaro atau yang biasa disapa Zean, atau juga terkadang Yan, itu mengacak rambutnya kesal. Baru saja sampai rumah malah disuruh menikah. Tahu begitu, lebih baik tidak usah pulang, pikirnya.

"Ma..." Zean menatap Mamanya sambil agak merengek, mencoba meminta bantuan, tapi Mamanya hanya mengedikkan bahu, membuatnya berdecak kecal.

"Nggak perlu minta bantuan Mama karna percuma aja, ini keputusan bersama antara Papa dan Mama. Sekarang gini aja, kalau memang kamu nggak mau yaudah terserah kamu, tapi semua fasilitas kamu Papa tarik, dan Papa akan wariskan semua harta atas nama abang-abang kamu."

Mata Zean langsung melotot, "nggak bisa gitu dong, Pa! Anak Papa kan ada tiga, harus adil dong." protesnya.

"Papa nggak peduli. Pokoknya kalau kamu nolak perjodohan ini, jangan harap kamu bisa menikmati harta Papa sama Mama. Kamu berjuang aja sendiri di luar sana." Ancam Danu—Papanya Zean.

"Udalah nak, ikuti aja apa kata Papa. Yang mau dijodohin ke kamu ini anaknya sahabat Papa sama Mama, jadi uda jelas gimana keluarganya. Manatau setelah menikah nanti kebiasaan buruk kamu bisa hilang, kamu nggak sibuk hura-hura lagi, nggak sibuk gonta-ganti pacar lagi. Kan bagus." Ucap Mama ikut beruara. Antara menasehati atau nyinyirin secara halus.

"Tapi aku belum siap buat nikah, Ma. Lagian kasihanlah tuh cewek kalau dijodohin sama aku. Masih banyak laki-laki baik diluar sana." Ujar Zean beralasan.

"Ya makanya kamu berubah jadi baiklah kalau uda punya istri, Yan. Mama tuh males lihat kamu gonta-ganti cewek. Takut tiba-tiba ada yang kamu hamilin, aduh males Mama punya cucu dari perempuan nggak jelas." Balas Mama Zean bermama Lidya sambil bergidik ngeri.

"Duh pusing..." Zean mengacak-acak rambutnya kasar, terlihat seperti orang frustasi. "Anak belum siap nikah, malah disuruh nikah."

"Kamu nggak siap nikah, tapi kamu juga nggak punya tujuan hidup. Jadi mau kamu apa, Yan? Pusing Papa lihat kamu." Danu geleng-geleng kepala melihat anaknya itu. "Yasudahlah kalau memang nggak mau. Mulai besok—-"

"Oke, oke. Aku mau nikah." Putus Zean pada akhirnya. Bisa gila dia kalau tidak dapat fasilitas apapun dari Papanya. Apalagi kalau dia tidak dapat warisan.

"Serius kamu?"

"Iya."

"Nah gitu dong. Gitu aja kok susah banget nentuinnya." Danu menampilkan senyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Zean menyerah.

Terkesan jahat sebenarnya karena dia memaksakan anaknya untuk menikah, tapi apa boleh buat, dia tidak punya pilihan. Dia harus mengorbankan anaknya agar hubungan bisnis dengan sahabatnya tetap berjalan lancar, karena jika Zean tidak mau, maka sahabatnya akan menjodohkan anaknya dengan orang lain yang juga anak dari kalangan pembisnis.

Kalau sampai itu terjadi, tentu saja sahabatnya itu lebih memilih untuk bekerjasama dengan besannya. Tentu saja nanti perusahaan miliknya akan dijalankan oleh menantunya, mengingat anaknya adalah anak tunggal. Daripada hal itu terjadi, lebih baik dia memaksa Zean agar ada kontribusinya untuk keluarga.

Crazy Wedding (Sudah Tamat)Stories to obsess over. Discover now