01 : bayangan kota.

4 1 0
                                        

   Seorang perempuan yatim piatu, hidup sendirian di kota yang dikuasai kejahatan dan kekerasan.

   Masa lalunya keras, terbiasa berkelahi demi bertahan hidup, tidak percaya pada siapa pun, terbiasa menghadapi pengkhianatan.

   Ia membenci dunia yang penuh kekerasan, tapi pada saat yang sama-kekerasan itu jugalah yang membuatnya kuat.

.
.
.

   Kota itu selalu dipenuhi asap, lampu neon murahan, dan suara teriakan entah dari orang mabuk, entah dari seseorang yang sedang dipukuli di gang. Di tempat seperti inilah ia hidup sendirian, tanpa siapa pun yang bisa dipanggil keluarga. Sejak kecil, ia sudah tahu satu hal, siapa pun bisa menusukmu dari belakang, bahkan orang yang kau kira teman.

   Gladi, perempuan itu menarik napas dalam, matanya menatap langit kota yang kelam. "Kota ini... selalu busuk," gumamnya.

   Aku baru saja kembali dari minimarket untuk membeli mie instan dan juga makanan cepat saji lainnya, aku sedang berjalan sambil memakan es krim ditangan ku, sesaat sebelum seorang anak kecil berlari dan menabrak kaki ku, aku terkejut tak fokus karena sedang menikmati waktu dengan mendengarkan musik.

   "Aduhh." Anak kecil itu mendongak menatap ku, aku menatap eskrim yg jatuh dibawah sana, langsung lemas tak berdaya karena eskrim kesukaan ku jatuh. "Aduhh maaf kak, Rean ga sengaja, Rean minta maaf ya kakkk" Suaranya panik dan hampir menangis.

   Aku itu menyipitkan mata. "Eh gapapa, gausah nangis." Aku panik karna.. bahaya jika dia menangis, nanti kalo orang-orang mikir aku apa-apain anak ini gimana? kenal aja engga aku sama dia. "Siapa nama kamu?" tanyaku mengalihkan topik agar dia lupa untuk menangis.

   Anak kecil itu itu mengangkat kedua tangannya. "Namaku Rean. Aku baru pindah ke sini. kakak mukanya keliatan cape banget, aku minta maaf ya kak karena jatohin eskrim kakak." anak kecil itu memperhatikan ku cukup baik rupanya, dia anak yang cerdas. Anak itu memperhatikan ku dengan mata bulatnya, sepertinya ia terkejut dengan beberapa lebam dan goresan diwajah ku. "Apa kakak begitu terbiasa dengan kekerasan?" tanyanya.

   Aku terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba, tertawa pendek, getir. "Karena itu satu-satunya cara bertahan hidup. Aku yatim piatu. Hidup sendirian di kota ini mengajariku kalau percaya pada orang lain adalah bunuh diri."

   Rean menatap ku cukup lama. "Tapi... bukankah.. tidak semua orang disini sama kak?"

   Aku menggeleng tidak setuju akan perkataan anak itu. "Tidak, semua orang berbeda."

   Aku itu terdiam sejenak. Hati ku bergetar tipis sekali, seperti goresan halus di kaca. Ia membenci kata-kata itu karena terlalu asing, terlalu berbahaya untuk diyakini.

   Aku mendekat, menatapnya dengan lembut. "Dengar, harapan itu hanya racun. Semua orang yang kuberi kepercayaan, mengkhianatiku. Aku lebih memilih kesepian daripada dikhianati lagi."

   Rean, anak itu tak mundur, meski wajahnya tegang. "Mungkin kakak benar. Tapi mungkin juga... kakak salah. Tidak semua orang datang untuk menyakitimu."

   Mataku itu berkilat, bercampur antara marah dan bingung. Ia benci dunia, benci kekerasan, tapi ia tahu bahwa tanpa itu, ia bukan siapa-siapa. Dan kini, ada orang asing yang berani menantang keyakinannya.

   Sambil berbalik, aku melangkah pergi, suaraku pelan tapi tajam, "Kau hanya anak kecil, kelak kau akan mengerti maksudku. Kota ini akan menghancurkanmu, seperti menghancurkan semua orang."

   Namun, dilubuk hatiku yang terdalam, pertanyaan itu terus bergema: Benarkah dunia hanya punya dua pilihan-membunuh atau dibunuh? Atau... mungkin, masih ada sesuatu yang lebih dari sekadar kekerasan?

Chains of AffectionStories to obsess over. Discover now