Aku Lelah, Ayah !

175 80 92
                                        

Muhammad Galih Pratama yang lebih dikenal dengan sebutan nama Galih adalah anak tunggal dari penjual nasi keliling dan pegawai swasta. Ia terbangun setelah mendengar suara gaduh dari arah kamar kedua orang tuanya. Dengan masih setengah sadar ia masuk ke kamar mandi dengan handuk yang dililitkan dipinggangnya, beberapa menit kemudian ia keluar dengan seragam SMKnya. Namun saat ia hendak melewati kamar kedua orang tuanya, betapa terkejutnya ia melihat Asih wanita yang melahirkannya sekaligus yang ia cintai, keluar dengan dalam keadaan tubuh yang memar karena ulah sang ayah. Sontak ia menghampirinya dengan perasaan yang khawatir.

"Ayah main tangan lagi, bu?"tanya Galih sambil menuntun Asih ke ruang tamu. Tidak satu dua kali Asih mendapat perlakuan kasar oleh Andre suaminya, entah itu hanya persoalan sepeleh seperti; telat membikinkan kopi, lauk tidak dihangatkan dan tidak menyiapkan handuk. Karena tidak ingin mengawatirkan sang anak, Asih mengalihkan topik, agar Galih tidak kepikiran terus dengannya.

"Gak apa apa kok nak, sudah kamu berangkat sekolah aja gih, nanti telat lho" jawab Asih dengan raut wajah yang menahan sakit. Tanpa sepatah kata Galih bergegas masuk kamar untuk menyiapkan barang barang yang harus ia bawa ke sekolah.

Saat keluar dari kamar, galih mendengar ayahnya yang masih melanjutkan pertengkaran itu, sontak ia berlari kecil menuju ke ruang tamu, tempat dimana ayahnya membuat keributan.

"Sudah kamu jangan cari perhatian ke Galih" bentak Andre yang sibuk memasang sabuk.

"Aku gak cari perhatian ke Galih mas, tapi tadi emang gak sengaja ber pas pasan dengannya, mas gak usah mempermasalahkan hal sepeleh kayak gini dong" jelas Asih sambil membentak suaminya.

Plak !! suara yang ditakuti oleh galih kini terdengar lagi di telingnya.

"bantah terus" bentak Andre dengan tangan yang sudah siap menampar Asih.

"cukup ayah!, Ibu bukan cari perhatian, tapi ayah yang keterlaluan, hampir setiap hari kalian bertengkar, kasihan ibu" ucap Galih dengan nada tinggi, yang dilanjutkan memeluk ibunya.

"Ooooo sekarang kamu berani melawan? Hah!" pekik andre dengan mengangkat satu tangannya.

"Apa? Mau tampar ? ini lho yah tampar aja, ayo, kenapa diam?" tantang Galih dengan memberikan pipinya yang seolah olah sudah siap untuk ditampar, padahal ia sebenarnya juga takut kalau ditampar sungguhan.

"Ayah kalau marah dengan ibu, yang jadi pelampiasannya adalah aku. Gak cocok dikit, pukul!, anak ingin curhat, ayah gak mau mendengarkan ceritanya dan ujung ujungnya aku kena pukul, anak minta uang jajan, perlu di omel dulu, kalau gak di pukul baru di kasih. Apa ayah gak bosan?, apa ayah gak kasian sama kita? Gak perlu aku deh, ibu itu lho kasian, setiap hari tubuhnya memar" keluh Galih. Pada akhirnya unek unek yang selama ini ia pendam sendiri kini bisa terucapkan juga walaupun dengan perasaan takut dan ragu.

"Aku bosan, aku capek." sambungnya. Tanpa ia sadari, air mata yang tertahan dari tadi berhasil tumpah ke pipinya.

"Maaf ayah hanya-"

"Sudah yah, aku pamit pergi ke sekolah, assalamualaikum" ucapnya sambil mengambil tas lalu pergi bersalaman dengan ibunya. Asih yang melihat Galih tidak bersalaman dengan ayahnya, setelah bersalaman dengannya ia menarik kembali tangan Galih untuk bersalaman dengan Andre.

"Galih, salaman dulu sama ayah" pintanya. Dengan perasaan yang jengkel Galih mencium tangan Andre tanpa melihatnya.

Setelah itu ia berangkat dalam keadan emosi, saking emosinya ia menyetir sepedanya dengan kecepatan di atas 60 km/ jam.

***

Saat di dalam kelas Galih hanya diam dan sering melamun, mulai dari jam pelajaran pertama dimulai hingga istirahat tiba.

Ia memilih untuk menyendiri di belakang sekolah, karena di sana terdapat pohon beringin yang besar, cocok dibuat untuk menenangkan diri. Mulai istirahat pertama hingga istirahat kedua Galih menghabiskan waktunya dengan tidur. Sedangkan Axcel teman sebangku sekaligus sahabatnya bingung mencari keberadaannya.

"Put kelihatan Galih gak?" tanya Axel pada salah satu teman ceweknya yang kabarnya ia suka sama galih.

"Hah calon suamiku hilang? Candanya dengan wajah yang dikhawatir khawatirkan.

"Calon suami kepalamu peak, kelihatan gak?" ulangnya dengan sedikit membentak.

"Gak, emang kamu sahabatnya gimana?" sindir Putri.

"Udah diem, mumpung masih istirahat, aku mau cari Galih, dia gak masuk dari tadi lho, takut kenapa kenapa, nanti bilangin ke pak Kamisun kalau aku cari Galih di belakang sekolah" seru Axcel.

"Okey, cari sampai ketemu yah, eh sebelum itu kamu lapor dulu ke ruang BK biar cepat ketemunya, takutnya calon suamiku gak ada disana" saran Putri sambil mendorong Axcel untuk segera mencari Galih.

Jalan menuju ke belakang sekolah memang terbilang jauh, agar cepat sampai, Axcel melewati jalan tembusan yang di dalamnya terdapat anjing liar. Agar berhasil melewati jalan itu ia membeli umpan di kantin sekolah. Benar dugaannya di sana sudah ada dua ekor anjing yang menghadangnya.

"Tuh ambil, huaaaaaa, tolonggggg" teriaknya sambil berlari secepat kilat. Sampai di depan pohon beringin ia melihat tali yang menggantung bersama orangnya, spontan ia mendekati tali yang terjulur itu, dan ternyata itu adalah Galih yang telah mengakhiri hidupnya.

"Ya allah galih, kamu kenapa mengambil jalan yang salah" batin Axcel dengan isak tangis tiada henti, lalu ia menurunkan tubuh Galih. Axcel yang masih syok dengan apa yang dia lihat, pada akhirnya ia pingsan di sebelah tubuh Galih.

***

Galih yang tidur di bawah pohon beringin itu, terkejut setelah mendapat guncangan dari seseoranng. Saking terkejutnya dia hanya bisa diam mematung, setelah sadar dari lamunannya ia baru tahu ternyata yang mengejutkannya adalah Axcel, dan anehnya Axcel tiba tiba menangis lalu pingsan dipangkuannya.

Galih yang bingung harus berbuat apa, akhirnya ia membopong Axcel ke ruang UKS. Sambil ngos ngosan ia mencari bantuan agar ada yang bisa menolong membawa Axcel berdua. Untungnya saat di lorong setelah kantin ada anak PMR yang sedang membawa tandu, seketika Galih berlari kecil menuju anak PMR agar Axcel segera dibawa ke ruang UKS.

"kak, tolong temanku ini dong, bawakan pakai tandu ini ke UKS" pinta Galih dengan keringat yang memenuhi dahinya.

"guys guys, ayo tolong bantu kakaknya" ajak salah satu anggota PMR tersebut sambil menyiapkan tandunya.

Saat Axel berada diatas tandu, Galih meragukan kekuatan tandu yang mereka buat tapi apalah daya ia tidak bisa membawa Axel sendiri, mau tidak mau ia harus membawa Axel dengan tandu yang mereka buat.

Setibanya di dalam UKS tandu yang dipakai talinya putus. Dan Axel jatuh tepat berada di atas kaki Galih. dengan cepat semuanya membopong Axel ke kasur UKS. Setelah itu bu Wiwik sebagai guru BK memanggil kedua orang tua Axcel untuk membawanya pulang agar dapat istirahat yang cukup di rumah.

TO BE CONTINUED !

Terimakasih telah membaca

Jangan Lupa Follow, Vote Dan Komen !

Sepertiga Malam [ HIATUS ]La tua prossima ossessione. Scoprilo ora