Bab 1

136 4 0
                                        

langit sore mewarnai kota dengan jingga kemerahan. Angin berembus pelan, membawa suara anak-anak kecil yang berlari di kejauhan. Namun di sebuah kamar, yang tirainya selalu setengah tertutup, dunia terasa berbeda. Sunyi, dingin, dan penuh dengan sesuatu yang tak kasatmata: rasa tertekan.

Gempa duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk. Di tangannya, sebuah pena bergetar, mencoretkan kata-kata di atas buku harian bersampul hitam. Kertasnya sudah dipenuhi coretan-sebagian jelas, sebagian tercoret kasar seakan ia ingin menghapus jejak dari pikirannya.

> "Aku tidak bisa bernapas. Aku dikelilingi keluarga yang katanya melindungi, tapi sering membuatku tertekan dengan kata kata yang Mereka bilang itu perhatian, tapi rasanya seperti belenggu.
Aku ingin bebas, ingin dimengerti... bukan dituntut dan ditekan."

Tetes keringat jatuh dari pelipisnya. Ia menggenggam pena lebih erat, seakan menyalurkan sakit yang tak mampu ia ucapkan langsung pada saudaranya.

Ketukan terdengar dari luar pintu.
"Gempa! Jangan terlalu lama di kamar!" suara Halilintar bergema lantang, penuh otoritas. "Ingat, kita keluarga. Kau tidak bisa selalu lari dari kami."

Tubuh Gempa menegang. Dengan cepat, ia menutup bukunya dan menyelipkannya ke bawah bantal. Tatapannya kosong, hanya bibir yang bergerak lirih, "Aku... sebentar lagi akan keluar."

Langkah kaki menjauh. Ketenangan kembali hadir, tapi di dalam hati Gempa, kata-kata Halilintar tak pernah benar-benar hilang. Setiap kalimat dari saudaranya terasa seperti perintah, bukan pelukan.

---
hari-harinya dipenuhi kesunyian.
Ia hanya... merasa tak sanggup lagi berada di antara orang banyak yang bertanya-tanya tanpa henti: "Kenapa kau murung? Kenapa kau berbeda?"

Kini ia lebih sering berjalan tanpa tujuan. Kadang menuju lapangan tua, kadang ke taman dekat pusat kota. Tempat-tempat itu memberi ruang baginya untuk bernapas.

Hari itu, ia duduk di bangku taman. Kepalanya menunduk, pandangan kosong pada rerumputan yang bergoyang pelan. Hening-sampai suara riang menyusup masuk.

"Hei! Itu bukan Gempa, kan?" suara Yaya lantang, penuh semangat.

Gempa menoleh. Di hadapannya, Yaya datang bersama tiga temannya: Ying yang kalem, Suzy yang ramah tapi kritis, dan Gopal dengan senyum lebarnya. Kehadiran mereka seperti cahaya yang tiba-tiba menembus kabut.

Yaya mendekat, wajahnya penuh rasa ingin tahu. "Kau sering sendiri di sini, ya? Dari dulu aku lihat... kau selalu sendirian."

Gempa tersenyum tipis. "Aku... hanya terbiasa begitu."

Suzy mencondongkan tubuh, nada suaranya lebih tajam. "Tapi kau tidak terlihat baik-baik saja. Kau terlihat... lelah."
Ying menyambung dengan suara lembut. "Tak apa kalau kau tak ingin cerita sekarang. Tapi kau tidak harus sendirian, Gempa."
Gopal langsung menepuk bahunya cukup keras, "Iya, bro! Hidup itu keras, tapi jangan keras kepala sendirian. Ada kita di sini."

Gempa hampir terkekeh mendengar gaya khas Gopal, namun hanya senyum samar yang lahir. Ia menunduk sedikit, suaranya pelan, "Terima kasih... tapi aku benar-benar baik-baik saja."

Yaya menatap lebih lama. Ada sesuatu di mata Gempa-sesuatu yang rapuh, seolah sebuah dinding yang bisa runtuh kapan saja. Namun ia memilih tidak menekan. Senyumnya hangat, menenangkan. "Kalau begitu, mulai sekarang... duduklah bersama kami. Tak ada alasan untuk selalu sendiri."

Kata-kata itu membuat dada Gempa bergetar. Hangat. Sesuatu yang jarang ia rasakan di rumah.

---

Malam itu, rumah kembali ramai. Enam saudaranya berkumpul di ruang tengah, masing-masing dengan suara dan cara bicara yang khas. Tapi semuanya... membuat Gempa semakin menyempit.

Halilintar berbicara keras, seolah sedang memimpin pasukan. "Gempa, kau harus lebih berani. Jangan sembunyi terus di balik diam."
Taufan menimpali dengan penuh energi. "Iya! Hidup itu pertempuran, kau harus ikut melawan, jangan lembek."
Ice menatap dingin, kalimatnya singkat tapi menusuk. "Kau terlalu lemah."
Blaze tertawa, tapi ucapannya tetap serius. "Santai, tapi mereka benar, Gempa. Kau harus berubah."
Thorn, dengan nada berat, menambahkan. "Kau harus kuat, atau kau akan selalu jadi beban."
Solar mencoba menengahi, tapi tetap terdengar seperti tuntutan. "Kami hanya ingin kau tumbuh lebih baik, Gempa."

Setiap suara menimpa dirinya seperti gelombang. Gempa menunduk, menelan semuanya tanpa bisa melawan. Tangan di pangkuannya mengepal begitu kuat sampai buku-bukunya memutih. Ia ingin berteriak, "Berhenti! Aku hanya ingin kalian mendengar aku mau bicara!" tapi suaranya tertahan di kerongkongan.

Di dalam kepalanya, hanya satu kalimat berulang-ulang:
"Keluarga sendiri adalah penyebab lukaku datang dengan perlahan dengan kata kata mereka maupun itu sepele dan hal biasa bagi mereka."

Namun saat malam semakin sunyi dan kamar kembali menjadi pelariannya, satu nama berbisik di pikirannya, pelan namun tegas: Yaya.

Adik bungsu Where stories live. Discover now