01 The First Collision

1.5K 168 30
                                        


Hujan turun tipis, hanya gerimis sisa yang tidak cukup untuk membuat basah namun cukup untuk menambah dingin menusuk ke tulang. Suara langkah menggema samar di antara dinding bata tua.

Cassandra Francesca, berdiri diam di tengah gang itu. Rambutnya berantakan dan sedikit basah oleh sisa hujan, tapi tatapannya tetap tajam, seolah menantang Leonzio Cater, pria di depannya untuk mengatakan sesuatu.

"Lo gak bisa ngambil keputusan kayak gini, Cassie..." ucap Leo, tatapannya memohon. "Lo cuma marah dan gue tahu lo bingung."

"Gue nggak bingung sama sekali," ujarnya sambil melangkah maju perlahan, suaranya meninggi. "Sekarang gue cuma sadar kalau selama ini.... gue cuma dimanfaatin sama mereka!"

Dulu, Cassie berpikir kalau Cashel Group menyelamatkan dirinya. Namun setelah tahu semua kebusukan mereka, wanita itu akhirnya sadar jika dirinya hanya diperalat.

"No... Cassie..." Leo menggeleng, menolak kebenaran pahit. "This isn't you," katanya sambil melangkah setengah ragu ke depan. "The Group needs you back. We need you back."

"No. This is exactly who I am, Leo." Cassie tersenyum miring. "Lo pikir gue nggak tahu, apa yang mereka lakukan selama ini. Semua yang disembunyikan dari gue? Dan semua operasi busuk yang mereka tutupin pakai nama misi?" Cassie meludah ke samping. "Gue udah muak dengan semua itu, Leo!"

Leo terlihat goyah. "It wasn't like that, Cass." Dia melangkah ke arahnya sehingga Cassie berjalan mundur selangkah ke belakang. "Denger penjelasan gue---"

"Stop, Leo!" bentak Cassie seolah tidak ingin terpengaruh oleh bujukannya. "Gue udah cukup dengerin semua yang lo bilang. Dan sekarang giliran lo dengar keputusan gue. Tell Cashel I’m not their property anymore."

Dan saat Cassie membalikkan badan untuk pergi, suara Leo memecah udara. "You don’t walk away from Cashel!" teriaknya, seperti seseorang yang tahu bahwa dia baru saja kehilangan sesuatu yang tidak bisa diganti. "They’ll find you."

Cassie berhenti sejenak. "Then let them try," katanya tanpa menoleh, lalu dia melangkah pergi, membiarkan bayangan Leo memudar di baliknya.

*****

Beberapa blok dari tempat itu, di sepanjang jalan, Theodore Eldridge melangkah santai menuju Goldwyn Night Club, tempat lama yang selalu menjadi ladang kesenangannya.

Theo berhenti sejenak di depan bangunan tua berlapis eksterior batu, tempat paling eksklusif di distrik itu. Lalu seringai tipis terlihat di wajahnya sebelum melangkah masuk.

Begitu pintu terbuka, atmosfer berubah drastis. Udara malam berganti dengan aroma parfum mahal, suara chillhouse mengalun dari speaker tersembunyi, dan tawa rendah yang menyelinap dari balik partisi kaca berlapis emas.

Teman-teman lama Theo sudah menunggu di lounge VIP. Mereka duduk santai dengan mengenakan setelan rapi. Beberapa dari mereka mengangguk ketika melihat Theo mendekat, seperti sedang menyambutnya.

"Dia masih hidup," ujar Marshen sembari mengangkat gelasnya setengah bercanda. "Gue pikir lo betah di Tokyo."

Theo menjatuhkan diri ke sofa kulit tanpa banyak basa-basi. Ia meraih gelas bourbon yang langsung disodorkan ke tangannya.

"Tokyo’s boring," gumamnya santai sambil menyilangkan kaki. "Gue nggak bisa bebas disana."

"Still chasing adrenaline, huh?" Theo hanya tersenyum sambil mengangkat satu alisnya untuk membalas candaan Logan. "So what was it this time? Masih soal wanita atau.... meleset ke beberapa aspek, narkoba?"

Let's Not Fall In Love || MurderHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora