X. sleep call

Mulai dari awal
                                        

"Astaga... ponsel saya mati," gumamnya, lebih ke ngomong ke diri sendiri.

"Kalau mau, saya punya charger. Mau pinjem?" tanya Seulgi sambil jalan pelan ke arah meja kecil di pojokan studio.

Irene geleng pelan. "Nggak usah. Udah malem juga. Saya harus pulang."

Seulgi balik arah, terus ambil jaketnya yang tadi dipakein ke Irene. Dia lipet rapi-rapi, tapi bukannya langsung dikasih, dia malah diem sejenak, ngeliatin Irene yang berdiri sambil rapiin bajunya.

"Maaf ya," ucap Seulgi tiba-tiba.

Irene noleh. "Hah? Maaf kenapa?"

"Karena nggak bangunin tante lebih awal."

Irene ngedengus kecil, tapi nggak marah. Malah lebih ke... capek. "Bukan salah kamu juga. Saya yang maksa ikut, kan?"

Seulgi cuma angguk kecil. "Tapi saya seneng sih... tante ikut."

Kata-kata itu bikin Irene berhenti ngerapihin bajunya. Dia ngelirik Seulgi lagi, kali ini dengan ekspresi yang sedikit lebih lembut.

Beberapa detik hening, cuma ada suara AC studio yang nyala pelan.

"Udah, pulang yuk," kata Irene akhirnya. "Sebelum saya makin nyaman di sini."

Eh?

Seulgi senyum, lalu ngangguk. "Iya, tante."

...

Entah kenapa pas udah sampe di rumahnya, Irene malah nggak bisa tidur. Apa gara-gara dia baru bangun barusan ya?

Udah tiga puluh menit berlalu setelah Seulgi nganterin dia pulang. Tapi tetep aja, matanya ini nggak mau merem. Dia mikir sih, mikirin Seulgi.

Mikirin tadi.

Seulgi yang nungguin dia tidur berjam-jam. Bahkan cowok itu milih nggak bangunin dia.

Irene senyum kecil. Dia noleh ke ponselnya yang masih di charger di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Pengen banget rasanya nge chat cowok itu. Tapi dia ragu, mungkin aja Seulgi udah tidur.

"Belum juga seminggu.. masa gue mau suka dia," gumamnya pelan. Emang baru lima hari mereka deket. Seulgi maksudnya yang deketin. Tapi anehnya. Irene kayak udah ngerasa kenal sama Seulgi lama. Dan dia..

Mulai nyaman.

Irene pun ngeraih bantalnya dan meluk itu erat-erat, sembil nyenderin kepalanya. Lampu kamar masih nyala redup. Dia nutup matanya bentar, nyoba buat nenangin pikirannya.

Tapi tiba-tiba, dia senyum. Cukup lebar.

Dia keinget suara ketawanya Seulgi.

Keinget tatapannya Seulgi.

Keinget gimana cowok itu senyum. Yang keliatan tulus banget, nggak ada yang disembunyiin.

"Kenapa sih dia harus kayak gitu banget.." gumamnya lagi. Irene malah jadi deg-degan sekarang.

Akhirnya, dia pun nggak tahan. Dia mulai nyabut ponselnya yang di charger. Dan buka whatsapp nya. Disana, mungkin urutan keliama dari room chatnya adalah kontak Seulgi.

Irene pun mencet itu. Dia baca chat terakhir yang dikirim Seulgi soal ngabarin kalo dia keluar kelas agak telat sore tadi.

Sekarang, Irene ngetik sesuatu.

Terus dihapus.

Ngetik lagi.

Dihapus lagi.

Dan akhirnya, satu kalimat terkirim

sound bites •seulrene [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang