Tahun 2000 di Tokyo pada musim semi. Bunga sakura gugur satu per satu di sepanjang trotoar yang sunyi. Langit sore masih menyisakan rona oranye, memantulkan warna lembut pada jendela-jendela rumah yang berbaris rapi di distrik Meguro. Di taman mungil di belakang sekolah dasar, dua anak duduk berdampingan di bangku kayu yang sudah mulai rapuh termakan waktu.
Bintang mengayun-ayunkan kakinya. Sepatu putihnya kotor oleh debu lapangan. Rambutnya yang lurus sebahu diterpa oleh angin sore, helainya berkibar pelan di pipi tembamnya. Gadis kecil itu memeluk boneka kelinci lusuh di dada, matanya menatap pohon sakura yang sedang mekar dengan tatapan penuh takjub.
"Kai," ucapnya pelan, suaranya kecil. "Nanti kalau kita udah besar kamu mau menikah sama aku gak?"
Kai menoleh. Anak laki-laki berambut sedikit lebih panjang itu mengerjap. Pipinya memerah karena malu. Tujuh tahun adalah umur yang cukup bagi mereka untuk mengerti apa itu 'menikah.'
Tangan kecilnya mencengkeram tali ransel yang sudah mulai sobek. Ia tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Tapi di kepalanya, Bintang adalah temannya yang selalu ada. Teman yang meminjamkan penghapus. Teman yang berbagi bekal nasi kepal. Teman yang selalu menepuk bahunya kalau ia menangis. Kai juga tidak ingin berpisah dengan Bintang dan ingin selalu dekat dengannya.
"Mau," jawab Kai akhirnya, suaranya pelan, malu-malu. "Kalau Bintang mau, aku juga mau."
Bintang tersenyum, lesung pipinya masuk di antara pipi tembamnya. Senyum paling tulus yang pernah dilihat Kai selama ini. Ia meraih tangan Kai, menautkan kelingking mereka di bawah cabang pohon sakura. Kelopak bunga jatuh pelan di atas kepala mereka.
"Kalau gitu kita janji kelingking, ya?" bisik Bintang.
Kai menahan napas. Jari-jarinya gemetar. Seakan ia tahu, momen itu akan terus hidup di dalam hatinya, meski waktu akan menggulung mereka ke arah yang tak terduga. Ia menunduk, menatap kelingking mereka yang saling terpaut. Ada perasaan hangat yang mekar di dada. Seolah-olah ia baru saja mencatat janji terpenting dalam hidupnya.
"Janji," kata Kai.
Angin bertiup lebih kencang. Kelopak sakura menari di antara mereka, seakan merayakan ikatan kecil itu. Berputar mengelilingi mereka sampai akhirnya terbang tertiup angin dan pergi begitu saja.
Di kejauhan, suara bel sekolah berdenting, memanggil anak-anak untuk pulang. Namun mereka masih duduk di sana, menolak bangkit, menolak menyerah pada waktu yang selalu ingin memisahkan segalanya.
"Papa aku bilang, musim semi itu selalu jadi waktu yang istimewa," kata Bintang pelan. "Karena bunga sakura hanya mekar sebentar, lalu hilang."
"Kenapa cuma sebentar?" Kai bertanya, matanya masih menatap kelopak bunga yang menempel di telapak tangan Bintang.
"Karena biar kita mengingatnya. Kalau semuanya abadi, kita pasti lupa cara menghargai."
Kai tidak menjawab. Ia hanya meresapi kata-kata Bintang, meski ia belum sepenuhnya mengerti. Yang ia tahu, ia ingin musim semi ini tetap abadi. Ia ingin sakura selalu bermekaran. Ia ingin kelingking itu tetap bertaut, selamanya.
Namun, semua itu pupus ketika ayahnya harus meninggalkan dunia ini. Saat itu Kai berumur sebelas tahun dan akan segera lulus sekolah dasar.
"Kai, setelah lulus sekolah nanti, kita akan pindah ke Indonesia. Kita akan tinggal bersama Oma dan Opa, ya," tutur sang ibu lembut. Suaranya sedikit bergetar menahan tangis.
"Tapi Mam, kenapa harus pindah? kenapa gak di sini aja? Aku kan mau terus bareng Bintang."
Saat itu Kai masih belum mengerti, bahwa tangis sang ibu begitu berat ketika mendengar ucapan polosnya. Ia masih belum paham ketika kehilangan ayahnya berarti harus kehilangan kehidupannya di Jepang.
Di langit, awan tipis bergerak perlahan. Matahari tenggelam, meninggalkan semburat ungu di cakrawala. Saat akhirnya mereka berdiri, Kai sempat menoleh ke belakang, menatap bangku kayu yang kala itu menjadi saksi janji mereka.
Dalam diamnya, ia berbisik pada dirinya sendiri.
Selamat tinggal, Bintang. Kalau sudah besar nanti, aku pasti datang lagi mencarimu.
*
*
*
Tokyo: Promise Star, Start.
#CitySeriesVol2
#KotaBookOffice
Happy Tuesday~
Cerita baru ini aku akan publish selama 15 hari ke depan sebagai event BookOffice yang aku ikuti. Mohon doa dan supportnya ya. Terima kasih~
Jika suka dengan ceritanya, silakan vote dan komen ya~
There be no more Sorrow, I'll see you there Tomorrow.
With Love,
Hana Hime 💕💕💕
YOU ARE READING
Tokyo: Promise Star (TERBIT)
RomanceKai dan Bintang adalah teman masa kecil yang bertemu di Tokyo sejak taman kanak-kanak. "Papaku kerja di sini." "Papaku juga kerja di sini." Mereka mengikat janji pernikahan yang sederhana. "Kalau sudah besar nanti, Bintang mau nikah sama Kai." "Iya...
