01. London Pusat

14 1 0
                                        

Pagi di musim dingin masih menusuk, kabut tipis menyelimuti kota London—lebih tepatnya di Islington, London Utara. Dentang kuat berasal dari lonceng gereja lokal menggema membangunkan kota tempat ia berdiri sekarang—tetapi harmoni.

Ia mengecek arlojinya, mengangkat alis sedikit. Kereta berikutnya masih dalam hitungan menit—cukup waktu untuk singgah.

Ia sempatkan singgah di kedai kecil favoritnya. Aroma roti panggang dan daun teh Assam membaur dengan suara sendok yang beradu pelan begitu ia masuk. Diambilnya salah satu eksemplar The Chronicle yang berjejeran di rak khusus. Lembarannya sedikit mengerut di pinggir karena sering dibaca bergantian oleh beberapa tangan asing sebelumnya.

Asap teh hangat mengepul dari cangkir porselen, menari pelan sebelum lenyap di udara. Matanya menelusuri tajuk utama koran—laporan samar tentang medan perang di benua, dan klise iklan-iklan kecil: pengasuh anak, pelayan rumah tangga, atau semata tukang batu dari distrik sebelah.

Stasiun kereta Cally Road hampir dipenuhi pria berjas wol dan bertopi bowler, membungkuk baca koran di bawah halte. Dari dekat, ia bisa tahu sebagian dari mereka membalik halaman The Times atau Daily Mail, sesekali alis mereka terangkat atau tersenyum tipis saat membaca kolom humor.

Koran dari kedai tadi masih di genggamannya. Dibawa untuk menemaninya kala bosan di dalam gerbong. Semula yang terlipat rapi di bawah lengan, lalu terbentang lebar di pangkuan, hingga diselipkan kembali ke dalam saku mantelnya.

Tak ada suara selain derak roda besi dan gemerisik kertas—seolah ada ketertiban tak tertulis; membaca koran merupakan rutinitas harian, karena ialah satu-satunya jendela dunia bagi siapapun tinggal di kota. Beberapa halaman diselipkan rumor, terkadang tipu daya yang dibungkus ketelitian jurnalistik—bagi mata pembaca yang kelewat analitis.

Gerbong melambat, bergoyang kecil sebelum berhenti sepenuhnya di peron. Ia melangkah keluar bersama arus penumpang lain, bahu pria-pria di belakang menyenggolnya beberapa kali, membuatnya membetulkan mantel yang sempat kusut.

Uap mesin lokomotif mengepul tinggi, menyatui kabut pagi yang masih menggantung di langit-langit stasiun. Para bermantel lusuh di sisi lain meneriakkan koran jualan dengan suara lantang di sudut-sudut trotoar, menawari berita pagi yang kebanyakan diacuhi oleh para pejalan yang terburu waktu.

Dia melenguhkan napas beratnya ke udara. London pusat; bising, padat, tak pernah benar-benar diam. Keberadaannya di sini bukan semata ingin, melainkan ada perlu. Ada beberapa barang yang tak ia temui di Islington—yang hanya tersedia di pusat kota.

Kakinya menuruni tangga batu stasiun. London memang bukan tempat asing dari tempatnya, tetapi akan selalu ada jarak yang terasa setiap kali ia kembali kemari. Kompleks asalnya, Islington—tepatnya di Caledonian Road. Selalu tenang , akrab, dan terkadang senyap.

Ia menepi ke toko terdekat. Setengah menimbang harga sebuah benda selagi memeriksa rak kayu tua yang penuh akan barang kerajinan tangan, sampai tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggilnya. Suaranya serak namun akrab. Pria tua bermantel kelabu, bertopi usang, dan... sorot mata yang ia kenal baik—seringkali murung.

"Paman Hill?" sapanya.

Pria itu tersenyum ramah. "Sedang apa jauh-jauh ke pusat kota?" lontarnya kembali.

Paman Hill, dulunya pemilik peternakan yang dikenal hampir semua penduduk di Caledonian, orang tuanya dulu pernah membeli sepasang domba dari pria ini. Dulu sekali, pria itu selalu energik akan segala hal; berjalan cepat dari kandang ke gerobak, dari pagar ke ladang belakang—terkadang ditemani oleh keponakannya yang tak banyak bicara. Namun, kini tubuhnya lebih ringkih, semangat di wajahnya pun tak lagi sama semenjak insiden malang menimpa si keponakan.

"Barang-barang semacam ini tak mungkin ada di Islington, Paman," ujarnya, sembari melirik isi toko yang penuh benda asing dan sedikit debu.

Hill mengangguk pelan, lalu matanya berpindah mengamati pemuda itu sesaat, seolah menimbang apakah pertanyaan berikutnya pantas untuk dilontarkan.

Beberapa detik tenggelam, justru si pemuda yang lebih dahulu berbicara. "Masih belum ada kabar?"

Tentu yang dimaksudnya adalah kabar mengenai seorang laki-laki yang sudah tiga tahun berlalu hilangnya—satu-satunya keponakan pria itu sendiri. Berita koran pernah menginputkan nama kompleks mereka akan pemuda hilang itu. Hill tertawa pendek, getir. Ia menggeleng—sebab tak ada jawaban yang benaran bisa menjelaskan kehilangannya.

"Joss," katanya. "Anak berusia tujuh belas itu sepertinya sudah sebesar dirimu sekarang. Ingat terakhir kali kalian bertemu?"

Joss memutar ingatannya perlahan. Wajah itu samar, tapi ada sorot tertentu di mata pemuda seusianya itu yang tak lekang dihapus waktu. "Ah, benar. Aku ingat." Ia tertawa kecil.

Setelah mengobrol ringan hingga mengucap perpisahan singkat, Paman Hill melangkah lebih dulu ke arah selatan—menuju stasiun, sementara Joss kembali menatap isi toko. Ia keluar membawa beberapa barang, suara langkahnya sendiri terdengar menyapu salju di trotoar.

Langit di atas London masih redup, dan sedikit lebih berat. Jalanan mulai mengerem riuh. Ia berbelok di tikungan familiar, melewati toko pena tua, lalu kembali memasuki peron stasiun sebelumnya.

Kala kereta menunggunya di ujung, butir-butir salju mulai berjatuhan—menempeli kain mantelnya. Ia berpaling, kembali menatap kota di belakangnya. Terlintas di pikirannya: mungkin ia akan mampir lebih lama di London untuk hari ini.

"Tak apa, masih ada jadwal kereta sore ke Islington," ucapnya pelan. Tangannya merapat ke saku, kaki bergerak menjauhi peron—menolak langkah yang sempat ia rencanakan. Ia pikir, mungkin sekadar mencari roti hangat di sudut toko kecil bisa memberinya alasan untuk menunda pulang.

Udara semakin dingin. Jalanan mulai sepi, hanya beberapa siluet yang terburu dan suara roda kereta kuda samar berlalu. Mantelnya cukup tebal untuk menghalau dingin di tengah-tengah hujan salju. Menyusuri gang pendek yang menghubungkan blok perumahan tua di belakang area perniagaan, ia mengenali atap-atap bata merah tua ini, sebagian mulai tertutup lapisan tipis salju.

Ia sudah paham dengan cara kota ini menyimpan rahasia di balik kabut. Maka tak heran bila ia memperlambat langkah saat melihat sosok manusia tergeletak di gang sempit—setengah terselip di balik pagar besi berkarat.

Seorang pemuda. Duduk bersandar di dinding batu dengan lutut terkulai lemas, salju mulai menumpuk di pundak dan rambutnya, tetapi ia diam.

Joss bergegas ke sana, lututnya bertekuk di tanah basah, tangannya buru-buru menyapu kepingan tumpukan pada pemuda itu. Ia menggigil lemah—Joss bisa melihat getaran tubuhnya di balik mantel tipis yang bahkan tak sepenuhnya menutup dada. Napas tipisnya mengepul ke udara—terlalu tipis untuk hembusan napas normal.

"Hei! Dengar aku? Kau masih bisa bicara?"

Tak ada jawaban. Tetapi Joss seketika lega setelah merasakan masih ada denyut minim di lehernya.

Tanpa banyak pikir, Joss menarik tubuhnya keluar gang sambil menahannya di pundak, sepatunya nyaris tergelincir. Untungnya tak jauh dari sana ada sebuah bilik pemanas umum—satu dari sedikit tempat perlindungan yang dibuka pemerintah kota untuk musim dingin. Bangunan batu bata merah itu dulunya gudang mlik kereta pos, kini dipakai untuk hal darurat seperti ini.

Sesampainya di dalam, Joss membaringkan si pemuda di bangku panjang dekat perapian batu. Api kecil sudah dinyalakan. Ruangan itu sepi—hanya gemeretak api dan aroma arang basah yang mengisi detik pertama mereka.

Si pemuda terlelap pingsan, napasnya putus-putus, bibirnya membiru. Joss tebak kemungkinan orang ini seusia dirinya—sekitaran dua puluh tahunan... mungkin?

Joss baru hendak melepas sarung tangannya untuk memeriksa nadi sekali lagi. Lalu pintu terbuka keras dan seorang pria tua masuk, berjubah wol dan payung bengkok.

Pria itu melangkah cepat. Lututnya agak gemetar, namun sorot matanya menilik tajam ke arah pemuda pingsan di samping Joss.

Joss segera bangkit berniat menenangkan pria tua itu. "Kurasa dia hampir hipotermia tadinya—"

"Tentu saja!" pungkasnya. "Anak ini memang selalu melawan cuaca, seolah tubuhnya tak kenal dingin!"

Missing Person from Caledonian RoadWhere stories live. Discover now