✨𝑻𝑯𝑬 𝑷𝑹𝑰𝑪𝑬 𝑶𝑭 𝑩𝑬𝑨𝑼𝑻𝒀 ✨
Boo Seungkwan, idol, aktor, sekaligus model paling bersinar di Korea. Dicintai jutaan orang, dikelilingi pujian dan sorotan. Namun tak ada yang benar-benar mengenalnya.
Hingga sebuah buket bunga hitam datang.
T...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Dalam dunia yang gemerlap, di mana lampu sorot adalah matahari, dan catwalk adalah surga bagi yang terpilih, hanya ada satu nama yang bergema lebih keras dari sorakan para penggemar:
Boo Seungkwan.
Dia tidak berjalan, dia melayang. Dia tidak berbicara, dia menyihir. Dan dia tidak tampil, dia menguasai panggung seperti mahkota yang memang dilahirkan untuk dirinya.
Usianya baru dua puluh lima tahun, namun publik memperlakukannya seperti dewa. Soloist dengan suara lembut dan emosional. Aktor dengan sorot mata yang bisa membuat siapa pun menangis tanpa naskah. Model yang bahkan difoto saat tertidur pun masih terlihat seperti lukisan.
Dunia mengenalnya sebagai anak emas Apex Entertainment. Namun mereka tidak tahu......bahwa ia bukan sekadar anak emas.
Dia adalah aset paling mahal di negeri ini.
Seungkwan tumbuh sendirian, tanpa keluarga, tanpa rumah yang benar-benar bisa ia panggil ‘rumah’. Tapi dia punya panggung. Dan itu cukup.
Setidaknya... selama tidak ada yang mencoba mengambilnya.
Hari ini, ia baru saja menyelesaikan syuting iklan parfum internasional, tagar #KWANxAURORA sudah trending di seluruh sosial media dalam tiga menit sejak fotonya dirilis.
Pujian datang dari segala arah.
Kritikus menyebutnya “permata terakhir industri hiburan”.
Desainer menyebutnya “definisi dari inspirasi.” Dan para fans... mereka menyembahnya.
Namun di balik senyum dan anggukan sopan Seungkwan, tersimpan satu hal yang tidak pernah dia ungkapkan:
Dunia ini memujanya. Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar mengenalnya.
Begitulah Boo Seungkwan. Sempurna di mata semua orang. Tapi tetap... sendirian di tengah lautan cinta palsu.
Dan malam itu, saat ia menatap buket peony hitam di ruang tunggunya, ia tahu seseorang sedang berusaha menembus dunia yang sudah ia kunci rapat selama bertahun-tahun.
Bukan fans. Bukan rekan kerja. Bukan wartawan.
Melainkan seseorang yang tidak peduli pada sorotan. Seseorang yang tidak datang untuk memujanya... Melainkan untuk memiliki dirinya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.