Langit pagi itu menggantung rendah, seolah belum sepenuhnya pulih dari hujan semalam. Embun masih menempel di dedaunan yang Keyla lewati menuju sekolah. Udara basah dan dingin membuat langkahnya terasa berat. Ia menarik resleting jaket abu-abunya hingga ke leher, mencoba menahan gigil.
Sekolah seperti biasa—bising di luar, sepi di dalam hati.
SMA Pelita Nusantara tak pernah berubah: cat dinding yang memudar, lorong panjang berkeramik kuning pucat, dan aroma buku-buku lama yang tak pernah benar-benar hilang dari perpustakaan kecil di ujung gedung.
Keyla masuk ke kelas tepat saat bel pertama berbunyi. Sebagian besar teman-temannya sudah duduk, beberapa masih berdiri, sibuk berceloteh. Ninda melambai padanya dari barisan tengah.
“Gue save-in bangku lo!” serunya pelan.
Keyla tersenyum kecil lalu duduk di samping sahabatnya itu. Belum sempat mereka saling bertukar cerita pagi, suara langkah sepatu terdengar memasuki kelas.
Ibu Lestari, wali kelas mereka yang biasanya santai, kali ini tampak agak formal. Di sampingnya berdiri seorang cowok.
“Tolong duduk semuanya. Hari ini kita kedatangan siswa baru,” ujar Ibu Lestari sambil menepuk pundak pemuda itu. “Perkenalkan dirimu, Nak.”
Cowok itu maju satu langkah. Ia mengenakan seragam yang masih terlihat kaku, putihnya belum ternoda tinta atau kenakalan meja. Rambutnya sedikit acak, tapi wajahnya bersih dan tenang. Ada sesuatu dalam caranya berdiri—diam tapi percaya diri.
“Nama gue Raka Adinara,” ucapnya dengan suara tenang, agak serak. “Pindahan dari Jakarta.”
Beberapa murid mulai berbisik pelan. Ada yang menahan tawa karena Raka menyebut “gue” saat memperkenalkan diri, ada pula yang langsung menilainya dengan pandangan. Tapi Keyla hanya menatapnya, diam-diam tertarik dengan caranya bicara yang tenang, tapi tajam.
“Silakan duduk di bangku kosong di sebelah Keyla,” kata Bu Lestari sambil menunjuk ke kursi kosong di sebelah kiri Keyla yang memang belum ada pemilik sejak semester lalu.
Raka berjalan melewati barisan bangku, dan sempat melirik Keyla sebelum duduk. Tidak terlalu lama, hanya sepersekian detik. Tapi cukup membuat jantung Keyla berdetak sedikit lebih cepat.
Ninda langsung membungkuk ke arah Keyla dan berbisik, “Wuih, dia cakep juga ya. Dingin-dingin gitu.”
Keyla hanya mendecak pelan. “Biasa aja.”
“Ah, udah lah. Gue bisa baca dari tatapan lo. Lo penasaran, kan?”
Keyla tidak menjawab. Ia membuka buku catatan dan pura-pura fokus. Tapi pikirannya tetap melayang.
Selama pelajaran berlangsung, Raka hanya mencatat secukupnya. Ia tidak mencolok, tidak mencoba berbicara dengan siapa pun, bahkan tidak menoleh ke arah Keyla sekalipun. Tapi Keyla merasa, dari sudut matanya, bahwa sesekali cowok itu mencuri pandang.
Saat jam istirahat, Ninda menarik Keyla keluar kelas.
“Ayo ke kantin. Gue butuh gorengan buat mikir.”
Mereka berjalan menyusuri lorong yang masih lembap. Di bawah pohon flamboyan, beberapa siswa duduk sambil bercanda. Di kantin, suasana seperti biasa: ramai, bau minyak goreng, dan suara-suara campur aduk seperti radio yang tidak disetel dengan benar.
Baru saja mereka duduk, Dito—cowok populer di kelas sebelah—datang menghampiri.
“Eh, kalian udah tau belum? Anak baru itu katanya dulu sekolah di luar negeri.”
Ninda melotot. “Hah? Bukannya tadi dia bilang dari Jakarta?”
“Jakarta, iya. Tapi sebelumnya di Singapura. Temen gue bilang dia pernah satu SMP sama Raka. Anaknya emang pendiem, tapi pinter banget.”
Keyla diam saja, menatap sisa es teh di gelasnya yang mulai mencair.
Raka tampak misterius. Tapi entah kenapa, Keyla tidak merasa asing. Ada sesuatu dalam sorot matanya tadi pagi—seperti rasa yang pernah ada tapi hilang terlalu lama.
Kembali ke kelas, Raka masih di bangkunya. Ia sedang mencoret sesuatu di ujung bukunya. Keyla melirik, berharap bisa membaca apa yang ia tulis. Tapi cowok itu menyadari pandangannya dan menutup bukunya pelan.
“Kenapa? lo mau tanya sesuatu?” tanyanya tiba-tiba.
Keyla tersentak. “Eh, enggak. Cuma… penasaran lo nulis apa.”
“Cuma lirik lagu,” jawab Raka singkat.
“Lagu apa?”
Raka menatap jendela. “Yang belum selesai.”
Jawaban itu menggantung di udara. Seperti langit pagi tadi, tidak cerah, tapi juga belum sepenuhnya gelap. Dan Keyla belum tahu, betapa dalam awan kelabu itu akan membawanya tenggelam.
YOU ARE READING
Kelabu
Teen Fictionkota kecil yang langitnya jarang benar-benar cerah, Keyla menjalani hari-hari yang terasa seperti lembaran kertas kosong-sunyi, rapi, dan tak berjejak. Hidupnya mengalir pelan di antara rutinitas sekolah dan percakapan yang sama setiap hari. Hingga...
