01☘︎

95 4 2
                                        

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hai semua, ini cerita pertama aku, alangkah baiknya sebelum kita memulai cerita, dan membaca cerita dulu basmalah, juga shalawat.

Maaf apabila ada kesamaan nama tempat atau apapun itu. Namun perlu diketahui karya ini asli karangan sendiri, tanpa ada unsur plagiarisme.

Happy Reading all

بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صلى على سيدنا محمد و على الى سيدنا محمد🌷

_____________________________

"Dan aku, menyerahkan urusanku kepada Allah."
Qs Al Ghafir : 44

"Kak, Ibu sakit. Ibu pengen ketemu kakak." Panggilan itu terputus sepihak. Wanita yang selama ini tidak menginginkan kehadirannya, wanita uang selama ini selalu saja menemukan kesalahan kecilnya. Namun ibu tetaplah ibu, wanita yang berjuang untuk melahirkan dan merawat anak-anaknya.

"Tasnim! mau kemana?" Pertanyaan itu lewat begitu saja di telinganya, tak tergubris.

Perempuan itu berlari dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Ia mencari nomor kamar yang ia dapat dari adiknya. Cukup lama ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit.

Ia berdiri di depan ruangan itu
"207" Monolognya.

Tasnim, perempuan itu mengusap cepat butiran bening di wajahnya. Namun, begitu pintu ruang terbuka, "kosong" tidak ada siapapun di sana.

Dadanya bergemuruh, ia mencoba menepis semua hal negatif yang terlintas di pikirannya
"Permisi mbak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah seorang suster di sana berhasil membuyarkan lamunannya.

"Iya sus, kalau boleh tau pasien yang berada di kamar ini kemana ya?"

"Ini, dari keluarga pasien?" Tasnim terdiam sejenak, lalu mengangguk mengiyakan.

"Iya, saya putrinya."

"Baru saja pasien dipindahkan ruang setelah menjalani oprasi, mari saya antar." Terangnya.

"Terimakasih sus." Ucapnya saat sampai di sana.

Ia memandangi wanita yang terbaring di brankar itu dari balik kaca. Tasnim menghela nafasnya, sebelum akhirnya ia melenggang masuk.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, kak-" Hisyam. Lelaku itu menggantung ucapannya, saat kakaknya itu lebih dulu bertanya.

"Apa kabar?" Hisyam bangkit dari duduknya.

"Lihatlah, bahkan sekarang kamu lebih besar dari kakak." Ucap Tasnim melebarkan senyumnya. Ia memandang Hisyam dengan sedikit mendongak.

"Maaf kak, maafin Hisyam." Mereka saling merangkul, melepas rindu, dan saling menguatkan. Bukankah sudah seharusnya? itu hal yang harus dilakukan sebagai keluarga.

***

"Sadaqallahul adzim." Tasnim menutup mushaf yang telah ia gunakan untuk murajaah di mushollah, yang berada di rumah sakit tersebut. Seusai melaksanakan shalat subuh hingga detik ini, ia sama sekali tidak beranjak dari sajadahnya. Jam menunjukkan pukul 06.45
Gadis itu kembali bangkit untuk melaksanakan shalat, yang memang ia tunggu waktunya.

CAHAYA HATI Where stories live. Discover now