Mungkin, jika dulu aku tidak menonjolkan diri. Tidak berambisi. Hanya bermalas-malasan. Tidak berusaha tampil. Tidak mengejar prestasi, tidak bersosialisasi.
Mungkin… hari ini aku tidak perlu menjawab ekspektasi siapa-siapa.
Karena yang paling menyakitkan bukanlah menjadi biasa. Tapi menjadi biasa setelah pernah dianggap luar biasa.
Orang-orang masih menyebut namaku dengan nada yang sama seperti sepuluh tahun lalu, seolah aku masih anak muda jenius yang diprediksi akan jadi “sesuatu.” Mereka menyapaku dengan kalimat, *"Kamu pasti sudah jadi ini-itu sekarang, ya?"*
Dan aku hanya tersenyum. Senyum itu bukan senang. Tapi canggung.
Padahal kenyataannya, aku tinggal di kamar kontrakan kecil, dengan pekerjaan paruh waktu yang tak nyambung dengan gelar. Email lamaran kerjaku lebih sering tak dibalas daripada dibaca. Aku memandangi ponsel seperti berharap ada satu pesan yang akan membawaku kembali ke hari-hari gemilang—tapi tak pernah ada.
Aku tidak gagal karena malas. Aku gagal karena dunia tidak selalu menepati janjinya pada orang yang rajin.
Di sudut kafe itu, seorang teman lama melihatku. Dia memanggil, duduk, bercerita panjang tentang kesuksesannya—tanpa benar-benar menanyakan kabarku. Di matanya, aku tetap 'aku' yang dulu: si calon pemimpin, si juara debat, si siswa teladan.
Dia tak tahu bahwa aku nyaris tak bisa bayar uang sewa bulan ini.
"Lo pasti udah jauh banget sekarang," katanya.
Aku ingin bilang, "Nggak. Gue nyasar." Tapi suaraku hanya keluar lewat senyum, sekali lagi.
Terkadang aku berpikir, andai saja dulu aku memilih diam. Tidak berlari kencang. Tidak membuat orang percaya bahwa aku akan jadi lebih. Mungkin aku tidak akan dikejar harapan mereka hari ini. Mungkin aku bisa bernapas tanpa merasa gagal.
Karena tak ada yang lebih menyiksa daripada dihantui bayangan diri sendiri—yang dulu begitu bercahaya.
YOU ARE READING
Sisa Nama
Short StorySisa Nama Kadang, sebuah nama membawa lebih dari sekadar panggilan-ada cerita dan kenangan yang ikut tersimpan. Dia berusaha melangkah maju, tapi masa lalu kadang datang tanpa diundang, mengingatkan pada semua yang pernah terjadi. Ini cerita tentang...
