Update suka-suka,
kalau komennya rame!
***
Bibir itu hanya bisa terkatup rapat. Sementara tatapannya kosong ke arah peti kayu tempat sang ibu tertidur nyenyak. Peti kayu itu diturunkan ke dalam liang lahat, lalu perlahan-lahan ditimbun tanah, dan kemudian para pelayat yang memakai baju hitam sebagai tanda bela sungkawa menabur bunga di atas gundukan itu.
Bahkan hingga proses pemakaman selesai, dan para pelayat yang sudah satu per satu undur diri sambil tidak lupa menepuk bahunya sebagai bentuk turut berbelah sungkawa. Ia masih berdiri di tempat semula, tidak pergi kemanapun, enggan beranjak sedikitpun. Padahal, awan gelap yang bergulung-gulung akhirnya menumpahkan air mata, gerimis perlahan menjadi hujan lebat, membuat seluruh tubuhnya jadi basah.
Jari-jemari Jisoo terkepal kuat, ia berusaha menahan dirinya dari kesedihan yang begitu mendalam karena kehilangan ibunya. Sosok wanita hebat. Wanita yang melahirkannya sendirian tanpa didampingi kehadiran lelaki bertanggungjawab. Wanita yang membesarkannya dengan kerja keras banting tulang berdagang ikan segar di pasar tradisional dari pagi hingga menjelang malam. Dan hari ini, perjuangan ibunya usai.
Jisoo menunduk, menatap sepatu usangnya.
"Selamat istirahat di sana, Eomma," batinnya.
Sudut-sudut bibir Jisoo terangkat. Tetapi, bukan jenis senyum bahagia. Melainkan jenis senyum yang mengandung kegetiran. Karena kini, ia sebatang kara. Jisoo tak punya siapapun lagi yang akan tersenyum di balik pintu untuk menyambutnya pulang ke rumah.
"Apa kamu yang bernama Jisoo?" Pertanyaan itu disertai air hujan yang tak lagi menghatam dirinya. Ada payung hitam melindungi tubuhnya, dan sepasang sepatu hitam berhenti tepat di hadapannya. Jisoo seketika mendongak.
Di hadapannya berdiri lelaki yang mungkin berusia sekitar tiga puluh tahun. Wajahnya asing, Jisoo sedikitpun tak mengenalinya.
"Eomma kamu, Song Yikyung. Beberapa hari yang lalu sudah mengirim surat padaku, dia menitipkan kamu padaku," kata lelaki asing itu, lelaki misterius yang tiba-tiba muncul dihadapan Jisoo.
Selama ini, ia dan ibunya hanya hidup berdua. Tak ada sanak-saudara yang berkunjung sekalipun. Dan setau Jisoo, itu karena memang riwayat ibunya sebagai anak tak jelas asal usulnya, yang tumbuh besar di panti asuhan. Kerap kali, semasa ibunya sakit-sakitan. Ibunya itu mengkhawatirkan nasib Jisoo apabila tutup usia. Meskipun Jisoo akan menjawab dengan setengah bergurau saat itu, jika ia bisa hidup sendirian.
Tetapi nyatanya, ibunya jauh-jauh hari sudah mengirim pesan pada orang asing. Sepasang alis Jisoo hampir menyatu karena kebingungan. Yang ia tak mengerti, mengapa ibunya harus menitipkannya pada lelaki asing di hadapannya ini, kenapa bukan bibi Hyena--tetangga sebelah rumah mereka yang ramah itu?
"Kalau boleh tau, Ahjussi siapa?"
Tak langsung menjawab pertanyaannya. Lelaki asing itu menoleh sekilas ke gundukan tanah yang bertabur bunga, yang masih harum dan segar. Dia tersenyum. Tapi Jisoo menyadari senyum itu mengandung kepedihan dan penyesalan mendalam.
Barulah setelah beberapa saat dalam kebisuan masing-masing, hanya ada suara gemericik air hujan di antara mereka. Lelaki asing dengan garis wajah tegas itu kembali menatapnya. Sorot matanya teduh sekali.
"Namaku Ahn Jeongwon, dan aku adalah Appa kamu."
***
YOU ARE READING
Butterfly (On Going)
FanfictionJudul : Butterfly Genre : Keluarga, persaudaraan, melankolis, dramatis, sad, motivasi. Visual : Jisoo, Jennie, Chaeyoung dan Lisa (Blackpink OT4) Sinopsis : Bagi mereka. Kupu-kupu itu harus melewati masa-masa sulit yang sangat panjang untuk meraju...
