Surat Tanpa Tanda

21 4 0
                                        

Namaku tidak penting sekarang. Yang perlu kau tahu, aku menulis untuk hidup—bukan sekadar mengetik kata dan merangkai kalimat, tapi benar-benar menggali cerita dari tempat yang tak ingin diungkit orang. Aku jurnalis lepas, kadang disewa majalah kecil yang masih idealis, kadang sekadar menulis untuk arsip pribadiku. Aku menyebutnya arsip lupa. Tempat semua kisah yang pernah ditinggalkan.

Orang mengira pekerjaanku glamor: perjalanan, wawancara, headline. Mereka tak tahu jam-jam panjang di bus murahan, nasi bungkus basi, dan malam-malam di kamar kos dengan atap bocor. Tapi aku tak pernah mengeluh. Karena setiap cerita yang kutulis menyelamatkan satu hal yang penting: ingatan.

Malam itu, aku berada di sebuah kamar penginapan murah di kawasan Matraman. Suara hujan memukul jendela, lampu remang berpendar kuning, dan laptop tua yang kipasnya berdengung seperti orang sesak napas. Aku sedang menyusun ulang draft tentang kasus pembakaran pasar di Sumedang ketika seseorang mengetuk pintu.

Tiga ketukan. Tidak terlalu pelan. Tidak terlalu keras.

Aku buka. Seorang kurir muda menyerahkan amplop cokelat tanpa ekspresi. "Untuk kamu, katanya penting."
Aku mengangguk. Tidak ada pengirim. Tidak ada tanda.

Amplop itu beratnya seperti surat biasa. Tapi ada sesuatu yang langsung membuatku duduk. Di dalamnya, sepotong kecil masa lalu: potongan koran tua, tahun 1997. Berita utama halaman kriminal:

"SISWI SMA DITEMUKAN TEWAS DI BELAKANG PERPUSTAKAAN.
Polisi menyimpulkan korban bunuh diri karena tekanan akademis."

Aku menelusuri tiap kata. Di bawah artikel itu, dengan tinta pulpen yang nyaris pudar, ada catatan kecil yang hanya bisa kau baca jika kau tahu cara memperhatikan:
"Bukan gantung diri. Coba gali lagi."

Aku membeku.

Satu-satunya orang yang tahu aku tertarik pada kasus-kasus lama seperti ini hanyalah mereka yang pernah membaca arsip-arsipku yang tak pernah dipublikasikan. Kecuali... orang dalam kasus ini. Seseorang yang tahu aku akan datang jika diberi umpan seperti ini.

Di belakang potongan koran, tertulis nama kota kecil yang seolah terhapus dari peta: Leles.

Sebuah kota yang tak terlihat mencurigakan, tapi menyimpan rasa ganjil—seperti rumah tua yang terlalu diam. Tak ada alasan untuk kembali ke sana... sampai malam ini.

Kupandangi foto hitam-putih korban di artikel: wajahnya setengah tertutup rambut panjang. Matanya kosong, tapi tidak menyerah. Dan entah mengapa, aku merasa seperti sedang ditatap balik.

Kutarik napas panjang. Menutup laptop. Mengisi ransel dengan perlengkapan wajib: rekorder suara, kamera saku, jurnal kulit, dan pena kesayanganku—yang selalu kupakai sejak hari pertama aku meliput kematian pertama.

Kematian yang dulu... dan belum pernah kuceritakan pada siapa pun.

Mata Pena : Kasus TerpendamStories to obsess over. Discover now