Kayla tak pernah menyangka pesan terakhir dari Jinpei akan datang lewat tangan sahabatnya, Rei Furuya - seorang pria dingin, nyaris tanpa ekspresi, tapi menyimpan luka yang sama dalam diamnya.
Jinpei, pria pertama yang memperkenalkan Kayla pada makn...
Hujan rintik-rintik membasahi langit kota Tokyo ketika Rei Furuya membuka loker logam di gudang bawah kantor kepolisian. Loker itu sempat disegel sejak insiden ledakan yang menewaskan Jinpei Matsuda rekan sekaligus sahabat yang paling dekat dengannya.
Tangannya yang terlatih menggenggam kunci dengan sedikit gemetar. Derit engsel tua menyambutnya saat pintu loker terbuka, memperlihatkan sejumlah barang pribadi Jinpei yang tak pernah diklaim siapa pun: jaket kulit lusuh yang biasa dikenakannya, buku catatan lusuh dengan sudut-sudut yang aus, dan sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Rei mengambil kotak itu. Di dalamnya, hanya ada tiga benda: selembar foto usang, sebuah syal abu-abu, dan sebuah kotak cincin beludru biru. Rei membuka kotak cincin perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah cincin emas sederhana dengan ukiran yang jelas: 'Kayla'.
Matanya mengerut tajam saat menatap nama itu.
Rei mengambil foto yang terselip di balik syal. Di sana tampak Jinpei berdiri di depan seorang gadis yang mencium dagunya dengan wajah yang sedikit malu, tetapi senyumnya manis, tulus-dan memiliki lesung pipi yang jelas di pipi kirinya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Siapa kamu... Kayla?" gumam Rei lirih.
Detik itu juga Rei tahu: dia tak bisa membiarkan kenangan Jinpei menghilang begitu saja. Sahabatnya itu jelas menyimpan cinta yang dalam untuk gadis bernama Kayla. Rei merasa memiliki tanggung jawab, bukan hanya sebagai rekan, tapi sebagai satu-satunya orang yang mungkin bisa menyampaikan warisan terakhir dari hati Jinpei.
Beberapa Hari Kemudian
Pencarian itu tak mudah. Rei harus menggali data lama, membuka catatan arsip, menelusuri petunjuk samar dari catatan harian Jinpei yang banyak berisi coretan tak penting-namun satu hal konsisten: nama "Kayla" dan inisial "PAP".
PAP-singkatan yang akhirnya diketahui Rei mengarah pada Panti Asuhan Pelangi, sebuah tempat yang terletak di daerah pinggiran kota, yang sempat disebutkan Jinpei sebagai tempat dia pernah menemui Kayla di sana.
******
Dan disinilah Rei berada sekarang.
Mobil sedan berwarna putih itu berhenti tepat di depan sebuah taman kecil yang asri. Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan tua namun bersih: Panti Asuhan Pelangi. Rei mematikan mesin mobil, melepaskan sabuk pengaman, lalu menatap sejenak kotak penyimpanan di sampingnya-berisi beberapa barang peninggalan seorang sahabat lama.
Dengan langkah mantap, Rei membawa kotak itu menuju pintu panti. Seorang suster paruh baya dalam pakaian biarawati menyambutnya dengan senyum ramah.
"Selamat pagi," sapa wanita itu lembut.
Rei membalas dengan anggukan sopan. "Selamat pagi, Nyonya."
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang Suster, memperhatikan pria asing itu dengan seksama.
Rei sedikit gugup saat menunjukkan barang bawaannya. "Saya ingin bertemu dengan Nona Kayla. Apakah dia ada di sini? Nama saya Rei Furuya, dari Tokyo."
Suster itu tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Tentu. Mari saya antar."
Mereka menyusuri taman mungil dengan rerumputan hijau dan bunga sakura yang gugur perlahan. Bangunan panti itu terlihat sederhana, catnya memudar, namun taman di sekitarnya tertata rapi-seolah menjadi cermin ketulusan mereka yang merawatnya.
Di halaman belakang, anak-anak tampak riang bermain. Di antara mereka, seorang wanita muda berdiri membacakan cerita. Rambut panjangnya tergerai indah, dan gaun putih yang dikenakannya memantulkan sinar mentari, membuatnya tampak bersinar.
"Suster Kayla!" panggil Suster pendamping.
Wanita itu menoleh dengan sedikit terkejut. Tatapannya lalu jatuh pada Rei. Ia berhenti membaca dan melangkah mendekat.
"Suster Kayla, ada tamu untukmu."
Kayla menunduk hormat. "Baik, Suster."
Suster itu pun meninggalkan mereka berdua.
Kayla menatap Rei dengan bingung namun sopan. "Silakan duduk." Ia menunjuk bangku kayu panjang di bawah pohon rindang.
Setelah mereka duduk, Kayla membuka percakapan. "Maaf, boleh saya tahu siapa Anda?"
Rei meletakkan kotak di antara mereka. "Aku hanya ingin memberikan ini padamu."
Kayla menatap bingung. "Apa ini?"
"Sahabatku... dia meninggalkan ini. Dan aku rasa, kamu orang yang paling berhak menerimanya."
Dengan tangan gemetar, Kayla membuka kotak itu. Di dalamnya ada syal abu-abu, sebuah kotak kecil berwarna biru, dan selembar foto.
Saat Kayla mengambil foto itu, matanya langsung membelalak. Satu tangannya menutup mulut, menahan isakan yang menyeruak.
Rei bangkit, memberi ruang.
Beberapa saat kemudian, suara pelan namun getir terdengar dari Kayla. "Di mana... Kak Jinpei sekarang?"
Rei menatapnya penuh kesedihan. "Jadi... kamu tidak tahu."
Kayla menggeleng perlahan. "Kami sudah lama tak bertemu. Aku pikir dia sudah menikah dan hidup bahagia."
"Dia tidak pernah menikah. Tidak pernah ingin menikah... kecuali dengan satu orang."
Rei menunjuk kotak kecil di tangan Kayla. "Bukalah."
Dengan tangan yang masih gemetar, Kayla membuka kotak itu. Di dalamnya ada cincin berukiran hati, dengan nama 'Kayla' terpatri di permukaannya.
Air mata mulai jatuh dari mata Kayla.
"Aku membaca buku harian Jinpei. Katanya kau menjauh karena masalah restu dari ayahmu. Tapi perlu kau tahu bahwa Jinpei tak pernah berhenti mencarimu," ucap Rei pelan. "Kau menghindarinya karena berpikir bahwa itu satu-satunya jalan yang terbaik untuk kalian... padahal, dia sangat menderita setelah kehilanganmu."
Kayla menggigit bibirnya. "Aku hanya...tak ingin menjadi beban dalam hidupnya. Kak Jinpei banyak berkorban demi aku."
Rei menggeleng. "Seharusnya kau bertanya perasaannya dulu, sebelum pergi."
"Setidaknya aku ingin Kak Jinpei hidup dengan tenang. Aku ingin menyelamatkannya."
Keheningan mengambang sebelum akhirnya Rei berkata dengan suara berat, "Jinpei Matsuda telah meninggal tiga tahun lalu."
Kotak cincin beludru itu terlepas dari tangan Kayla, jatuh ke rumput. Tubuhnya lunglai, pandangannya kosong. Dalam hitungan detik, seluruh dunia seolah menjadi sunyi dan gelap baginya.
Note ;
Cerita ini akan mengungkap misteri yang disajikan dalam POV masing-masing karakternya. Sehingga di akhir Pembaca dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan tokoh utamanya .