🎬 Prolog

126 11 0
                                        

⚠️Di larang plagiat⚠️

Haii guys ini karyaku sendiri dan hasil pemikiran sendiri jadi misalkan ada kalimat ataupun kata yang kurang tepat mohon dimaklumi ya

Oh ya satu lagi dilarang men COPPY karena sesungguhnya orang yang memplagiat hasil karya orang lain tanpa seizin orang tersebut akan mendapatkan dosa

Aku yakin semuanya pasti bisa kok menghasilkan karya sendiri tanpa mem PLAGIAT hasil karya orang lain

~semoga sukses yang sedang berkarya~

🐻🐻🐻

3 November 2022

Sepi dan sunyi malam hari biasanya membuat siapa saja merasa tenang. Apalagi, udara sejuk setelah hujan yang baru reda mampu menghadirkan kedamaian di tengah keluarga tercinta.

Hujan telah usai, meninggalkan kesunyian yang mendalam. Bunga-bunga masih basah, daun-daun bergoyang lemah diterpa angin malam, sementara suara jangkrik dan burung pun jarang terdengar. Hanya suara tetesan air dari atap rumah yang sesekali jatuh, memecah keheningan malam ini.

Namun, suasana tenang itu sama sekali tidak berlaku bagi seorang gadis yang saat ini berada di jalanan. Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah malam tanpa rasa takut.

Moza Anandita Wijaya. Gadis berkulit putih itu memiliki wajah yang selalu datar. Sikap dinginnya yang kentara membuat siapapun enggan, bahkan tidak berani untuk sekadar menyapa.

Motor Moza melaju ke arah sebuah minimarket di dekat jalan raya yang baru saja ia lewati. Setelah berhenti dan memarkirkan kendaraannya, Moza melangkah masuk. Ia berniat membeli cemilan karena stok di kamarnya sudah habis ia lahap malam ini.

"Kayanya gue butuh satu keranjang lagi," gumam Moza pelan sembari mengambil beberapa bungkus makanan ringan.

Setelah dirasa cukup, Moza berjalan menuju kasir untuk membayar. Saat menunggu totalan, telinga tajamnya menangkap bisik-bisik dari dua karyawan minimarket yang sedang memperhatikan dirinya.

"Eh, bukannya itu putri tunggalnya Tuan dan Nyonya Wijaya, ya?" bisik karyawan pertama sambil menyenggol lengan temannya.

"Nah, iya benar tuh!" sahut karyawan kedua setengah berbisik.

"Sifatnya mirip banget, ya, sama Tuan Wijaya. Dingin banget."

"Iya, gayanya apalagi. Mirip kayak Nyonya Wijaya dulu."

Karyawan pertama mendengus pelan. "Ya iyalah, orang anaknya."

"Eh, ngomong-ngomong, dia yatim piatu, ya, sekarang?" tanya karyawan kedua dengan volume suara yang agak meninggi.

"Huss, jangan keras-keras! Tuh, diliatin sama orangnya," tegur karyawan pertama panik saat mendapati sepasang mata datar Moza menatap langsung ke arah mereka.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Moza menyambar kantong belanjaannya, berbalik pergi meninggalkan tempat itu, dan kembali melajukan motornya menuju rumah.

Tepat di tengah perjalanan, netra Moza menangkap sesosok ibu-ibu yang hendak menyeberang jalan tanpa menengok ke kanan dan kiri. Di saat yang sama, sebuah truk besar melaju kencang dari arah samping, bersiap menghantam wanita paruh baya tersebut.

MOZA OR RUBBY (On Going) Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora