Sore ini, Naruto melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang akan membawanya menuju gerbang utama desa. Langkahnya berat, ada rasa berkecamuk dalam hati dan kepalanya tatkala mengingat bahwa hari ini adalah hari dimana Sasuke akan memulai kembali perjalanan untuk penebusan dosa setelah mampir di desa selama beberapa waktu
Sepanjang jalan, pikiran Naruto melayang-layang. Kilas balik kejadian sebelum Sasuke pergi mengkhianati desa terus berputar layaknya kaset rusak. Bagaimana dulu mereka begitu dekat meskipun selalu ada pertengkaran diantaranya, selalu menjadi hal yang Naruto rindukan hingga sekarang.
Begitu banyak luka diantara mereka saat ini.
Ah, andai saja Naruto dapat memutar kembali waktu.
Seandainya saja, apabila ia bisa mencegah Sasuke kala itu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
Sasuke mungkin tidak perlu kembali menderita dan menanggung beban akibat dosa yang ia perbuat.
Langkahnya hampir sampai. Iris sapphire yang berkilat menawan itu menangkap dua sosok yang begitu ia kenali tengah berdiri di depan gerbang. Terlihat tengah membicarakan sesuatu.
Naruto sedikit berlari menghampiri dua sahabat sekaligus rekan satu tim nya dulu.
"Yo.. minna! Maaf sedikit lama Sakura-chan, Sasuke" sapa Naruto seraya memamerkan cengiran khas nya.
Sakura menepuk keningnya "Kau lama-lama mirip dengan Kakashi-sensei" keluhnya, menyadari bahwa Naruto sedikit tertular kebiasaan buruk sensei mereka yang kini telah menjabat sebagai hokage ke-6.
"Gomen-gomen" ujarnya disertai tawa canggung.
Matanya melirik kearah Sasuke yang berdiri tak jauh darinya. Naruto baru menyadari bahwa pemuda itu terlihat berbeda dengan yang sebelumnya.
Memang mereka tak sempat bertemu ketika Sasuke baru saja sampai di desa. Hal itu disebabkan karena Naruto sempat diberi misi oleh Rokudaime Hokage selama 2 hari. Dan selama itulah ia melewatkan waktu untuk bertemu dengan Sasuke yang baru saja pulang untuk melaporkan hasil misi serta beristirahat sejenak.
Naruto tak tahu pasti, namun ia merasa ada beberapa perubahan terlebih pada fisik sang Uchiha. Entah dia yang telat menyadari atau memang matanya yang salah.
Sejak kapan Sasuke menjadi lebih pendek darinya?
Apa lelaki itu kekurangan nutrisi selama pergi mengembara?
Mana mungkin.
Naruto menggelengkan kepalanya.
"Sasuke, kau yakin akan pergi sekarang?" Tanya Naruto setelah berhasil mengenyahkan pikiran konyol nya.
Sasuke mengangguk "Hn, masih ada puing-puing peninggalan Kaguya yang harus segera ditemukan" jelasnya singkat.
Naruto mendengus mendengar betapa datarnya nada bicara sang Uchiha. Tipikal Sasuke sekali.
"Kau jangan terlalu memaksakan dirimu, Sasuke. Pulanglah untuk beristirahat, desa masih sangat terbuka padamu, aku berjanji akan menyeretmu pulang jika terjadi sesuatu yang membahayakanmu disana"
Sederhana. Hanya kata-kata yang sebetulnya mirip dengan yang sering Naruto serukan untuknya dulu.
Namun entah mengapa perkataan Naruto kali ini membuat sesuatu dalam diri Sasuke bergejolak, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Hanya sedikit. Namun Sasuke segera menepis perasaan aneh tersebut. Bibirnya mengulas senyum tipis.
Senyuman Sasuke membuat kedua mata Naruto terpaku. Entah mengapa ia tak mampu mengalihkan pandangannya pada wajah sang rival semasa kecilnya itu.
Hanya perasaan Naruto saja atau memang wajah Sasuke ketika tersenyum menjadi terlihat sedikit lebih err- manis?
Surainya yang sedikit memanjang terbalut dengan kain yang dililitkan menutupi dahi nya. Iris berbeda warna miliknya begitu menarik perhatian, menambah kesan menawan yang bahkan Naruto sendiri tak bisa membantahnya.
"Kau lupa bahwa aku bisa menendang kepala kosongmu itu, usuratonkachi?"
Wajah Naruto seketika masam.
Ia tarik kembali kata-katanya. Uchiha itu tidak ada manis-manisnya! Terlebih lagi mulutnya itu, ingin sekali Naruto menyumpalnya dengan sesuatu!
"Dari dulu kau memang sangat menyebalkan, dasar Teme!" Sungut Naruto seraya menunjuk-nunjuk wajah Sasuke.
"Sudah-sudah! Apa kalian tidak bosan selalu bertengkar?!" Sergah Sakura merasa jengah dengan kedua temannya ini. Tidak di masa kecil maupun masa kini mereka selalu saja beradu mulut.
Pandangan sang gadis kembali terarah pada Sasuke "Umm, Sasuke-kun.." panggilnya disertai rona merah di kedua pipinya
Sasuke hanya diam, namun ia menunggu Sakura melanjutkan kalimatnya.
Sang gadis menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga "Ji-jika boleh, apakah aku bisa ikut bersamamu?" Ujarnya malu-malu. Pertanyaan yang dulu sempat dijawab dengan tolakan mentah-mentah oleh Sasuke kembali ia lontarkan, berharap bahwa sang pujaan hati mau memberinya kesempatan agar bisa lebih dekat dengannya.
Naruto tentu saja terkejut mendengar pertanyaan Sakura. Diam-diam matanya melirik kearah Sasuke yang kini berbalik memunggungi mereka berdua. Dalam hati ia berharap cemas, apakah Sasuke akan meng-iyakan permintaan Sakura?
Naruto harap tidak.
"Hn"
Sakura berbinar, "Apakah itu artinya iya?" Cecar nya tidak sabaran
"Tidak" jawab Sasuke datar, membuat Sakura yang bersemangat menjadi lesu.
Naruto bernapas lega, terimakasih pada Kami-sama yang memahami dirinya.
Langit mulai berubah semakin kemerahan, sepertinya matahari tak sabar ingin segera kembali ke peraduannya.
Sasuke menolehkan wajahnya pada Naruto, "Aku pergi" pamitnya singkat. Tanpa menunggu, sang Uchiha mulai melangkahkan kakinya. Meninggalkan desa dan seluruh kenangan di dalamnya.
"Hati-hati Teme! Sering-seringlah pulang ttebayo!"
"Jaga dirimu, Sasuke-kun!"
Sakura dan Naruto melambaikan tangannya, mengiringi kepergian salah satu pahlawan perang duni Shinobi yang harus menuntaskan tanggung jawabnya.
.
.
.
To Be Continued
Cigarettes After Sex - Cry
YOU ARE READING
In Another Life
FanfictionNaruSasu fic [COMPLETED] Setelah misi penyelamatan ke bulan, Naruto mempertaruhkan segalanya untuk menyentuh aliran waktu yang tak seharusnya dilanggar, membiarkan dirinya terlempar beberapa waktu ke masa lalu untuk menyelamatkan cintanya Pair : Nar...
