We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Chapter 1 (Bab 1)

7 0 0
                                        

1.1 PAGI YANG BIASA

Langit belum sepenuhnya terang saat Reza membuka mata. Suara gerobak roti keliling dengan klakson cemprengnya jadi alarm yang lebih efektif daripada alarm ponsel. Udara masih agak pengap, entah karena semalaman AC mati atau karena Surabaya memang tidak pernah benar-benar sejuk, bahkan sebelum matahari muncul.

Ia menatap langit-langit kamarnya sebentar. Kosong. Lalu mengangkat tubuhnya malas. Di luar jendela, daun pohon kamboja tetangga bergoyang pelan. Hening, tapi bukan hening yang damai—ada semacam tekanan aneh di udara. Tapi mungkin itu cuma karena dia begadang semalam.

Reza jalan ke kamar mandi sambil garuk-garuk dada. Celana pendeknya sudah gombrong banget. Di wastafel, ia menatap wajahnya di cermin—kusut, tapi tampan kalau dilihat dari sudut tertentu. Dia sempat menahan tatapan sendiri. Ada bayangan gelap kecil melintas di belakang matanya—tapi itu mungkin cuma rambut yang nutupin alis.

"Zaa, sarapan dulu, nanti keburu panas!"

Suara ibunya dari bawah. Lembut, tapi nadanya seperti biasa—penuh jadwal, penuh rencana.

"Iya, Bu! Lima menit!" jawabnya, sambil cuci muka pakai air dingin yang bikin setengah nyawanya balik.

Di meja makan, sudah ada nasi goreng sederhana dengan telur dadar dan dua irisan timun yang selalu gagal menyehatkan kelihatannya. Ibunya duduk di seberang sambil ngaduk kopi, mengenakan daster pink dengan motif boneka kelinci yang mulai pudar. Televisi kecil di sudut ruang makan menampilkan pembawa berita pagi.

"...dan menurut BMKG, fenomena gerhana matahari total yang akan melintasi wilayah Jawa Timur hari ini diperkirakan berlangsung pukul sebelas siang..."

Ibunya menoleh sambil tersenyum, "Kamu lihat tuh, hari ini gerhana. Jangan bengong pas di jalan."

Reza cuma mengangguk. "Iya, iya. Bukan anak SD juga, Bu." Tapi dalam hati dia nyimak. Gerhana. Jarang-jarang. Mungkin bagus buat konten story.

"Puput ikut kamu, kan?" tanya ibunya lagi, matanya tajam tapi mulutnya pura-pura netral.

Reza pura-pura cuek. "Ya iyalah, Bu. Udah kayak rutinitas harian."

Ibunya cuma mengangguk pelan, lalu tiba-tiba bilang, "Dia cantik loh sekarang. Kamu tuh jangan suka pura-pura gak lihat."

Reza narik napas, lalu berdiri. "Bu... jangan mulai pagi-pagi. Aku udah cukup digosipin sama tetangga sebelah."

Dia ambil tas, masukin botol minum, headset, dan buku catatan yang sebenarnya nggak akan dibaca. Sebelum keluar, dia ngintip ke cermin ruang tamu. Oke. Rambut udah diatur kayak anak band pensi. Jaket hitam. Sepatu udah tua tapi masih keren.

Keluar dari rumah, dia disambut sinar matahari yang belum maksimal. Awan-awan tipis berlapis-lapis di langit. Bukan mendung, tapi juga bukan cerah. Jalanan kompleks masih lengang, cuma ada satu bapak-bapak yang lagi nyapu halaman dan seorang anak kecil yang main sepeda sambil ngelawan arah.

Rumah Puput ada tiga rumah dari rumahnya. Halamannya sempit, tapi dipenuhi tanaman-tanaman liar yang kayaknya memang nggak pernah diurus. Daun sirih merambat liar di pagar besi. Lampu teras masih nyala.

Reza sampai di depan pagar, lalu mengetuk dua kali pelan.

"Puuut... Bangun. Aku gak mau nungguin kamu dandan kayak Syahrini lagi pagi-pagi."

Nggak ada jawaban. Tapi beberapa detik kemudian, suara dari dalam terdengar, samar.

"Ngomong-ngomong soal Syahrini, kamu tuh jauh dari Reino Barack ya, Za!"

Reza nyengir. "Yah, minimal kan aku nggak pelihara bulu mata di dashboard mobil."

Terdengar suara langkah kaki cepat di dalam. Pintu terbuka.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 02, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Unbreakable ManStories to obsess over. Discover now