Bab 1: Jam Masuk, Hukuman, dan Circle Heboh

435 9 0
                                        



Suara bel sudah berbunyi sejak dua menit yang lalu, tapi Uchiha Sana belum juga muncul di gerbang sekolah. Rambut hitamnya masih berantakan, jaketnya menggantung di satu bahu, dan langkah kakinya santai seolah-olah tidak ada sistem absensi di dunia ini.

"Late again," gumam Ayame sambil menyodorkan roti ke tangan Sana.

Sana mengunyah tanpa rasa bersalah. "Gue hidup bukan buat ikutin sistem, Yam."

"Lu salah jurusan, Sayang. Ini SMA elite, bukan SMA survival," timpal Kagura sambil tertawa kencang.

Tiga cewek lainnya—Haruka, Ruby, dan Ayame—ikut tertawa. Mereka sudah terbiasa. Sana, dengan semua arogansi dan ketidaktertarikannya pada aturan, tetap jadi magnet di antara para siswa. Cantik dengan aura berbahaya, keras kepala, dan kalau ketawa... bisa satu koridor denger. Salah satu guru bahkan pernah bilang: "Itu bukan ketawa. Itu sirene kerusuhan."

"Lu telat sepuluh menit, San," kata Haruka pelan.

"Gue telat sembilan menit lima puluh detik, jangan dilebihin," sahut Sana sambil membalik poninya ke belakang.

"Lo kayaknya butuh cowok deh. Udah mulai ngitung detik segala," celetuk Ruby.

Sana cengar-cengir, lalu menepuk bahu Ruby keras-keras sampai temannya itu meringis. Mereka masuk ke gedung sekolah tanpa niat menyembunyikan suara, walau mata guru piket sudah memperhatikan dengan gelisah.

Di lorong kelas 2-B, suasana berbeda. Semua tampak lebih tenang, lebih teratur. Di dalam, Boruto duduk bersandar di kursinya, headset melingkar di leher, mata menatap jendela.

Mitsuki menoleh, duduk santai di belakang. "Sana Uchiha telat lagi."

"She always does," jawab Boruto singkat.

"Gue denger dia baru ngelabrak anak kelas dua yang ngegossipin Sarada kemarin." Boruto hanya mengangkat alis.

Shikadai nyengir. "Dia beneran beda ya sama Sarada. Tapi kalau dilihat-lihat... mereka kembar, 'kan?"

"Physically, sure," jawab Boruto pelan. "Tapi sisanya? Kayak langit sama laut. Jauh tapi ketemu di horizon."

Inojin tertawa. "That's poetic, bro. You into her or what?"

Boruto hanya menatap Inojin, datar. "No."

Di ruang kelas 2-D, tempat Sana dan circlenya berada, pelajaran baru saja dimulai. Sana duduk malas, bolpen diputar di jari. Guru sudah mulai menyebutkan nama-nama siswa yang akan ikut program magang minggu depan.

"Sana Uchiha."

Sana mengangkat kepala. "Ya?"

"Kamu tidak memenuhi syarat. Nilai dan kehadiranmu tidak mencukupi."

Sana tertawa kecil, nyaris mengejek. "Gak ikut juga gak rugi, Sensei."

"Dan kamu akan kena hukuman tambahan. Setelah kelas, ke ruang bimbingan."

Kelas jadi sunyi. Ayame menatap Sana dengan ekspresi: 'lu cari mati ya?' Tapi Sana hanya bersandar di kursi.

"Kayak hidup gue selama ini udah penuh bimbingan banget," gumamnya.

Saat jam istirahat, Sarada menemuinya di kantin. Duduk di seberang meja, membawa dua gelas jus.

"Lu serius, San? Nilai lu makin parah."

"Ya gue gak minta jadi Einstein juga."

"papa pasti nerima surat lagi dari sekolah."

Sana meneguk jusnya. "Good. Biar ada bahan obrolan mereka berdua. Hidup terlalu tenang kalau gak ada drama."

Sarada menarik napas panjang. Dia tahu, adiknya itu... rumit. Sejak kecil, Sana selalu ingin jadi berbeda, bebas, liar. Tapi sekarang? Kadang rasanya seperti bom waktu. Sarada cemas.

"Kalo lo butuh cerita, lo tahu gue ada, kan?"

Sana mengangguk. "Gue tahu. Tapi gak semua luka harus dijelasin, Sar."

Sarada menunduk. Diam.

Sementara di meja pojok kantin, Boruto memandang mereka. Matanya memicing, memperhatikan Sana dengan ekspresi netral. Sesuatu dalam dirinya terasa terusik. Bukan karena Sana populer atau karena reputasinya yang buruk. Tapi karena... dia tidak ingat kapan terakhir kali seseorang membuat Sarada terlihat sepelik itu.

Dan anehnya, dia penasaran.

TBC

Kita Bukan Satu Dunia [BORUTO X OCStories to obsess over. Discover now