WARNING!
HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG!
DILARANG KERAS UNTUK MENJIPLAK DAN MENULIS ULANG KARYA INI.
Hello!
Boleh kenalan nggak, nih?
Cung, yang disini manusia.
Kalo kata Rachel: "Manusia sih manusia, tapi munafiknya nggak terkira."
NGGAK GUYSS! JUST JOKES YA.
Oke, kita langsung mulai aja prolognya.
________________
Kurasa ku t'lah jatuh cinta
Pada pandangan yang pertama
Sulit bagiku untuk bisa
Berhenti mengagumi dirinya
Pandangan Pertama—A. Rafiq
Author’s pov.
Gadis yang bernama Rachelia Armada Ainsley itu sedang memejamkan mata menikmati alunan musik lembut yang menyapa indera pendengarannya. Ia bernyanyi dengan sangat merdu diatas sofa biru miliknya.
“Rachel, bunda minta tolong, Nak.” suara wanita dari ujung dapur terdengar oleh Rachel.
Ia langsung beranjak dari sofa dan berjalan kearah bundanya yang tengah menunggu dengan gaya andalannya. Tangan yang berada dipinggang, tak lupa dengan rambut yang berantakan, namun, kecantikannya tetap saja terlihat saat sedang seperti ini.
“Iya, Bunda. Ada apa?” tanya Rachel.
“Kamu tahu warungnya Bu Siti kan? yang diujung sana lho, bunda minta tolong beliin garam dong,” Yesha—ibundanya Rachel menitipkan selembar uang berwarna biru.
Rachel mengangguk cepat, menerima uang itu dan menyelipkannya ke saku celana pendeknya. “Oke, aku berangkat sekarang,” ujarnya ringan, lalu melangkah menuju pintu dengan langkah santai namun pasti.
Langit sore mulai meredup, semburat jingga menghiasi ufuk barat. Rachel menyipitkan mata, menikmati semilir angin yang menyapu pelan rambutnya. Ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju warung Bu Siti, yang sudah menjadi langganan keluarganya sejak lama.
Setibanya di warung, Rachel segera disambut oleh senyum hangat Bu Siti. “Lho, Rachel! Sendirian aja nih?”
“Iya, Bu. Mau beli garam,” jawabnya sambil tersenyum.
“Sebentar ya, Ibu ambilin dulu,” ujar Bu Siti sambil masuk ke dalam.
Saat menunggu, pandangan Rachel tak sengaja tertuju pada seseorang di seberang jalan. Seorang pemuda. Ia tampak sedang duduk di atas motor, menunduk memperhatikan sesuatu di ponselnya. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, dan posturnya tinggi menjulang.
Entah kenapa, ada sesuatu yang membuat jantung Rachel berdetak sedikit lebih cepat.
Pemuda itu mengangkat kepalanya. Pandangan mereka bertemu. Hanya sebentar, namun cukup untuk membuat waktu seakan berhenti sesaat.
“Rachel?” suara Bu Siti menyadarkannya. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
“Ah, iya Bu. Makasih banyak,” ucapnya tergesa, menerima sebungkus garam dan kembali melangkah pulang.
Setelah itu, ia langsung berjalan menuju rumahnya dengan kresek yang berada ditangannya. Sialnya, tak ada jalan lain untuk menuju rumah, Rachel dengan berat hati harus melewati pemuda yang tengah memakai earphone ditelinga nya.
YOU ARE READING
Kharachel
Teen Fiction"Nggak dapet gitaris, tapi dapet vocalis." Bagaimana jika kalian mempunyai pacar yang jadi gitaris namun sifatnya red flag? Rachelia Armada Ainsley adalah mahasiswi yang berpacaran dengan salah satu gitaris band di sekolahnya, namun bukannya bahagia...
