Lapangan voli sekolah itu terasa begitu hidup, penuh dengan sorakan dan tepuk tangan. Askara Septianka Pratama, dengan jersey nomor 12 yang basah oleh keringat, berdiri di tengah lapangan. Matanya tajam menatap bola yang melayang tinggi di udara, dan dengan satu gerakan cepat, ia menyambut bola itu dengan smash yang luar biasa.
Tepuk tangan bergemuruh dari penonton yang memenuhi tribun. Tim lawan tak berkutik, dan pertandingan pun berakhir dengan kemenangan untuk tim Askara.
Para pemain timnya mengangkatnya tinggi-tinggi, meneriakkan nama Askara dengan semangat, sementara para siswi di pinggir lapangan tak henti-hentinya memuji idolanya.
" Aaaskaraa! Kamu luar biasa!" teriak salah satu siswi dengan penuh kekaguman.
"Dia memang hebat! Gada yang bisa ngalahin dia di lapangan!" seru yang lainnya.
Namun, di sudut lapangan yang jauh dari kerumunan, ada seorang gadis yang berdiri diam, memeluk rapat buku-buku di dadanya. Aleyya Balverina Karl Azegara, siswi baru yang baru saja pindah dari sekolah lain, hanya memperhatikan tanpa ada ekspresi yang berubah. Rambut cokelat gelapnya tergerai rapi, matanya yang abu-abu kebiruan menatap kosong ke arah lapangan.
"Kenapa mereka semua begitu terpesona sama dia?" Aleyya bergumam pelan, tidak peduli dengan sorakan yang datang dari segala arah.
"Cuma voli biasa, kok. Kenapa harus segitunya?"
Mata Aleyya tak bergeming dari sosok Askara yang kini tengah dikelilingi oleh teman-temannya yang mengerumuni dengan pujian. Selama ini, Aleyya memang bukan tipe orang yang mudah terkesan oleh popularitas atau perhatian orang banyak. Bagi Aleyya, segala hal tentang Askara terasa terlalu dibuat-buat.
Saat sorakan mulai mereda, Aleyya berbalik dan berjalan menjauh dari kerumunan. Ia merasa sedikit canggung berada di tengah situasi seperti itu, merasa asing dan tidak nyaman dengan hiruk-pikuk sekolah barunya. Tapi meskipun baru beberapa hari, ia merasa sudah cukup mengenal siapa yang mendominasi perhatian di sini dan itu adalah Askara Septianka Pratama, si atlet voli yang terkenal dengan ego besarnya.
Tapi yang tak Aleyya tahu adalah, saat ia berbalik pergi, pandangan mata Askara tiba-tiba tertuju padanya. Dalam kerumunan yang penuh tepuk tangan itu, matanya justru menangkap sosok gadis yang berdiri terpisah. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada kekaguman. Hanya tatapan datar, seperti tidak peduli sama sekali dengan kemenangannya.
"Siapa dia?" pikir Askara, mata masih terfokus pada punggung gadis itu yang semakin menjauh.
Sesaat kemudian, ia terbangun dari lamunan.
"Mungkin cuma siswi pindahan baru," gumamnya, meski rasa penasaran mulai muncul begitu saja. Biasanya, dia sudah terbiasa dengan gadis-gadis yang mengaguminya, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada tantangan yang membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu.
----------------------------------------------
Sorak-sorai di lapangan mulai mereda, namun kegembiraan masih menggantung di udara. Askara, yang baru saja berhasil membawa timnya meraih kemenangan, berjalan menuju ruang ganti.
Teman-temannya, yang juga merupakan rekan satu tim, sudah menunggu di sana. Mereka berempat. Askara, Ryan, Saeful, dan Ezra adalah tim yang tak terpisahkan di lapangan voli.
Ryan Ajendra Adhiyaksa, teman masa kecil Askara, tampak duduk santai di bangku ruang ganti, dengan tangan yang masih memegang botol minum.
Ryan adalah pemain voli yang memiliki gaya yang lebih tenang dibandingkan dengan Askara. Meskipun tak sepopuler Askara, dia dikenal sebagai pemain yang sangat handal. Wajahnya yang tampan dan sikap yang tidak pernah mengeluh menjadikannya teman yang selalu bisa diandalkan.
"Hebat, bro," Ryan tersenyum lebar saat melihat Askara masuk. "lo tadi keren banget di lapangan. Mau langsung bawa tim ini ke kejuaraan dunia, ya?"
Askara hanya tersenyum tipis, membalas gurauan temannya. Namun, sesaat sebelum dia sempat berkata apa pun, Saeful Ferdian Arkatama, teman dari SMP yang dikenal sangat ekstrovert, berlari masuk ke ruang ganti sambil tertawa keras.
YOU ARE READING
Sang Atlet
Short Storysinopsis: 𝐀𝐬𝐤𝐚𝐫𝐚 𝐒𝐞𝐩𝐭𝐢𝐚𝐧𝐤𝐚 𝐏𝐫𝐚𝐭𝐚𝐦𝐚. Atlet voli andalan sekolah, tak pernah absen membawa pulang kemenangan. Kepopulerannya menjulang tinggi, dikagumi banyak siswi dan dielu-elukan sebagai bintang lapangan. Namun, di tengah puji...
