We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab 1

51 2 0
                                        

Malam itu, galeri seni di pusat kota Paris dipenuhi cahaya lampu kristal. Para tamu berjas dan gaun malam berkeliling, menyaksikan deretan patung marmer putih yang berdiri anggun bagaikan makhluk hidup.
Patung-patung itu tampak seolah sedang bernapas-dengan wajah tenang, mata yang nyaris menatap balik, dan detail tubuh yang terlalu sempurna untuk sekadar karya pahat biasa.

Di tengah ruangan, Leonard Veyron berdiri.
Usianya baru 28 tahun, namun sudah dikenal sebagai salah satu pematung paling brilian di Eropa. Tubuhnya tinggi, wajahnya simetris dengan mata biru yang memikat. Senyumnya ramah, suaranya tenang, membuat siapa pun merasa diterima.
Bagi publik, Leonard adalah seniman idaman: karismatik, rendah hati, dan penuh pesona.
Namun, di balik citra itu, hanya Leonard sendiri yang tahu rahasia kelam dari karyanya.

Di sampingnya, Clara Aveline tak pernah lepas dari genggamannya.
Clara adalah fotografer seni berusia 27 tahun, dengan rambut cokelat gelap yang selalu ia biarkan tergerai. Lembut, setia, dan penuh perhatian. Ia mengenal Leonard sejak usia 19 tahun-cinta pertama sekaligus satu-satunya.
Bagi Clara, Leonard bukan hanya kekasih, tapi juga inspirasi. Ia percaya setiap karya Leonard lahir dari dedikasi, bukan kegelapan.

"Patungmu selalu terasa hidup, Leonard," bisik salah satu kurator senior.
Leonard tersenyum samar, matanya memantulkan cahaya lilin.
"Karena mereka memang hidup," jawabnya pelan-cukup lirih hingga hanya dirinya sendiri yang mendengar.

Clara menoleh dengan tatapan penuh bangga. "Aku bangga padamu," katanya.
Leonard menatap balik, kelembutan di wajahnya seakan tulus.
"Tanpamu, aku takkan pernah sampai sejauh ini."

Sementara itu, di ujung ruangan, seorang pria lain memperhatikan dari kejauhan.
Detektif Adrian Kael, usia 35, berpakaian rapi dengan jas abu-abu sederhana. Wajahnya tegas, rahangnya kokoh, matanya gelap penuh kewaspadaan. Adrian dikenal sebagai penyelidik dingin, jarang tersenyum, tapi keahliannya membaca detail membuatnya ditakuti banyak kriminal.
Dia tidak datang sebagai penikmat seni, melainkan sebagai pemburu kebenaran. Tiga wanita muda telah hilang dalam tiga bulan terakhir, dan nalurinya membawanya ke pameran ini.

Ketika sorot matanya jatuh pada salah satu patung perempuan berambut panjang, napasnya tercekat. Wajah itu... terlalu mirip dengan salah satu korban yang hilang.

Leonard berdiri beberapa meter darinya, tersenyum ramah, seolah membaca pikirannya.
Senyum yang bagi publik adalah pesona, namun bagi Adrian terasa seperti kedok berbahaya.

Musik klasik terus mengalun, tamu-tamu bersorak, Clara menempel di lengan Leonard dengan penuh cinta.
Dan di tengah sorakan itu, Adrian dan Leonard bertukar pandang.
Senyum hangat bertemu dengan tatapan curiga.

Satu ruangan, tiga tokoh, tiga peran berbeda.
Seorang seniman yang dipuja, seorang wanita yang mencintainya sepenuh hati, dan seorang detektif yang mulai mencium aroma rahasia.
Dan di antara mereka, berdiri patung-patung yang terlalu hidup-seakan ikut mendengarkan simfoni marmer dan darah.

Symphony of Marble & BloodStories to obsess over. Discover now