1

34 2 1
                                        

Kaira Yoan Asher, seorang remaja berusia 17 tahun yang menjalani kehidupan sekolah menengah atasnya seperti biasa. Di sekolah dia bukan lah seorang siswi yang terkenal atau seorang siswi yang didambakan guru-guru, melainkan seorang siswi biasa yang temannya hanya sekedar teman sekelas dan mungkin kenal beberapa orang di kelas lain itupun karena sahabatnya, Lena.

Berbeda dengan disaat bersama teman-temannya dan saat di rumah, dia menjadi sangat amat pendiam dan cuek ketika di rumah. Dia juga tidak dekat dengan keluarganya-Daddy dan 2 kakak laki-lakinya- semenjak kecelakaan yang menimpa ibunya.
Ya, itu bertahun-tahun lalu.

Sekarang, saat ini, detik ini, dia merasa akan ada perubahan besar di hidupnya. Firasat buruk ini terus bergerayang begitu ia membuka mata dan yang didengarnya pertama kali adalah suara isakan. Dia mengedipkan matanya beberapa kali agar penglihatannya jelas, tangannya bergerak menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa nyeri diiringi ringisan kecil. Dia berdecak, entah kenapa hatinya merasa jengkel karena rasa pening yang ia rasakan.

"Kai, Kai! Lo gakpapa, kan?"

Mendengar suara familiar yang heboh itu sontak membuat Kaira menoleh. Dahinya mengernyit menatap sahabatnya, rasanya semakin jengkel saja. "Kenapa?"

"Kenapa, mata lo! Lo habis ditabrak motor bego. Lo beneran gakpapa, kan?!"

Bukannya menjawab, Kaira menarik napas dalam dengan pandangan menyorot ke atas. Otaknya menelisik kembali kejadian yang disebutkan sahabatnya itu. Setelah ingat, ia kembali menatap Lena dan berkata santai dengan sedikit nada jengkel, "Goblok banget ya gue. Padahal kan bisa gue tarik kenapa malah gue dorong?!"

"Ya elo itu! Tolol!"

"Sialan! Minimal ambilin minum, gue haus."

"Dih, nyuruh-nyuruh lo?!"

"Tinggal ambilin jir, di samping lo itu!"

"Nih!" Lena menyodorkan air putih kepada Kaira dengan tidak santai. Ya, begitu lah mereka. Bertengkar setiap saat.

"Gak bisa minum lah! Naikin dulu kek ini."

"Ngelunjak ya lo lama-lama!" balas Lena dengan nada tinggi.

"Tolongin elah. Gue habis kecelakaan lo gak kasihan apa."

"Gak! Darah tinggi gue ngomong sama lo!"

"Dih, yaudah pulang sana! Gue bisa sendiri!"

"Alahhh, gaya lo!"

"Ah udah lah! Emosi gue. Sini minumnya, keburu dehidrasi!" Lena mendengus mendengar nada ngelunjak Kaira. Namun, ia tetap memberikan segelas air putih itu.

"Eh, gue tadi kek denger ada yang nangis? Elo ya?" Kaira tersenyum menatap Lena tengil. "Lo takut kehilangan gue, kan? Ngaku lo!"

"HUEKKK, muntah gue."

"Sialan! Ya, terus siapa?"

"Noh." Tunjuk Lena pada sisi Kanan Kaira, tepatnya di sofa yang tersedia di sana.
Kaira kembali mengernyit melihat keluarganya. Seketika firasat buruk itu menggeremang. Seorang remaja laki-laki berumur 18 tahun mendekat dengan mata sembab menghiasi rupa tampannya.

"Kai, maaf. Maafin abang," ucapnya sembari menggenggam tangan Kaira.

Kaira benar-benar merasa asing. Rasanya sungguh memuakkan melihat mereka seperti ini. Lebih baik mereka kembali seperti biasa, saling mengabaikan.

"Untuk apa?" tanya Kai. Kaira dibuat semakin bingung ketika otaknya memberi sinyal kata-kata semacam 'maaf untuk semuanya' yang ia harapkan keluar dari mulut keluarganya. Namun, disisi lain ia menepisnya. Meskipun ia juga sudah menebak semua jawaban yang mungkin keluar entah itu baik atau buruk.

ChangedWhere stories live. Discover now