NOTES: Ini pengembangan cerita yang sebelumnya sempat terhenti, perubahan dalam tata cara bahasa dan konteks jalan cerita berubah. Untuk Chapter part ini masih panjang belum 100%, on progress akan ada tambahannya. Mohon bersabar dan Semoga Suka hehe.
Semua sudah siap. Aku hanya perlu berpamitan kepada orang tuaku sebelum menuju bandara. Supir keluarga sudah menunggu di depan, siap mengantarku ke awal dari perjalanan baru merantau ke Batam. Sebagai kepala divisi teknologi hardware di sebuah perusahaan besar, langkah ini seharusnya terasa membanggakan. Tapi, di balik kesuksesan itu, ada sisi gelap yang aku sembunyikan rapat-rapat.
Aku hanya membawa satu koper kecil dan tas tenteng mungil. Pakaian di dalamnya tak banyak cukup empat pasang, dua untuk kerja dan dua lagi untuk sehari-hari. Bahkan, yang kusebut pakaian sehari-hari pun sebenarnya hanya sepasang baju tidur dan satu set pakaian kasual. Tapi tentu saja, ada alasan di balik semua ini. Alasan yang akan kupaparkan nanti, ketika waktunya tiba.
Di antara lipatan pakaian yang kususun rapi, tersembunyi benda-benda kecil yang tak seorang pun boleh tahu. Barang-barang yang kupilih dengan cermat, bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari diriku yang sesungguhnya. Setiap detailnya kupersiapkan dengan penuh perhitungan disimpan di ruang yang tak mencolok, tapi keberadaannya cukup untuk mengingatkanku siapa aku sebenarnya.
Pada perjalanan ini setiap langkah yang kuambil membawa sensasi tersendiri sebuah tekanan samar yang berdenyut halus di dalam tubuhku. Aku sudah terbiasa dengan tantangan kecil semacam ini, permainan yang hanya aku sendiri yang tahu. Benda yang kupakai tersembunyi rapi, tak akan terdeteksi oleh mesin pemindai atau mata manusia. Bentuknya pas, mengikuti kontur tubuhku, menekan titik-titik tertentu yang membuat napasku sedikit tersendat setiap kali aku duduk atau berjalan lebih cepat. Perjalanan ini akan panjang, dan aku memilih untuk mengawali petualangan baruku dengan cara yang unik, khas diriku.
Aku berpamitan dengan orang tuaku sebelum berangkat. Tatapan mereka penuh tanya saat melihat bawaanku hanya satu koper kecil dan sebuah tas tenteng mungil. "Hanya segini?" tanya Papa dengan dahi berkerut. Aku tersenyum tipis, menyembunyikan alasan sebenarnya. "Nanti aku beli di Batam" jawabku santai. Entah mereka percaya atau tidak, tapi tak ada lagi pertanyaan setelah itu.
Di dalam mobil, gelombang sensasi yang bertabrakan antara nikmat dan gelisah terus mengalir di tubuhku. Setiap goncangan di jalan membuat sesuatu dalam diriku bereaksi, mengirimkan sentuhan lembut yang nyaris membuatku menggigit bibir. Perjalanan dari Malang ke Bandara Surabaya seharusnya hanya satu jam lewat tol, tapi aku meminta supir untuk mengambil jalur biasa dua jam perjalanan dengan kemacetan yang sulit diprediksi.
"Yakin, Non?" tanyanya ragu, melirik ke arahku lewat kaca spion tengah.
Aku tersenyum kecil. "Ya, nggak apa-apa. Pesawatku masih empat jam lagi," jawabku ringan.
Tentu saja, ada alasan lain. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa kuceritakan padanya.
Setengah jam berlalu, dan panasnya mulai merambat ke wajahku. Aku bisa merasakan rona merah menjalari pipiku bukan karena suhu ruangan mobil, tapi karena sensasi yang tak kunjung mereda. Setiap goncangan kecil dari jalanan yang berlubang menghantarkan gelombang perasaan yang menusuk, menyusup dari dalam, membuat jari-jariku mengepal tanpa sadar di atas pahaku.
Aku berusaha mempertahankan ekspresi netral, tapi terkadang tanpa bisa dicegah lolongan napas tipis lolos dari bibirku. Sesuatu di dalam tubuhku menggeliat, menuntut lebih. Godaan untuk menyentuh diri sendiri begitu kuat. Jari-jariku sudah hampir bergerak, tapi aku segera menghentikannya. Aku tidak sendirian.
Kaca spion depan masih memantulkan bayangan wajah supir yang fokus pada jalan, tapi sekali atau dua kali, dia melirik sekilas. Detak jantungku berdegup kencang, bukan hanya karena sensasi yang menggerogoti tubuhku, tetapi juga ketegangan karena aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku menggigit bibir, mencoba meredam gejolak yang terus merayap di bawah kulitku. Perjalanan masih panjang, dan aku harus bertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aliana
RomanceAliana, wanita sukses dengan kecerdasan tajam, menyembunyikan sisi gelap di balik pesona elegannya. Perjalanannya ke Batam bukan sekadar untuk bekerja, tapi juga untuk memenuhi sesuatu yang lebih dalam sebuah dorongan yang tak bisa ia tolak. Namun...
